100 Unit Rumah Sementara Siap Dibangun

By
BERSALAMAN: Para Pengungsi yang kehilangan rumah saat bersalaman dengan Menkopolhukam Wiranto di Makodim 1702/Jayawijaya, Selasa (8/10).  ( FOTO : Denny/Cepos )

WAMENA-Pemerintah Kabupaten Jayawijaya memastikan 100 unit rumah sementara akan segera dibangun. 

Rumah sementara yang dibangun ini untuk pengungsi yang kembali dan tidak mempunyai rumah. Selama proses pembangunan yang dilakukan Pemkab Jayawijaya bersama Kementerian PUPR dan Kementerian Sosial RI, pengungsi untuk sementara ditampung di Tongkonan dan Makodim 1702/Jayawijaya.

Bupati Jayawijaya, Jhon Richard Banua mengatakan, setelah tanggap darurat berakhir dan dilanjutkan dengan transisi darurat, Pemda sedang mengupayakan dalam waktu sebulan ini paling tidak ada rumah yang telah dibangun kembali. Sehingga pengungsi yang saat ini tidak mempunyai rumah bisa menempati rumah tersebut.

“Saat ini yang masih ada di pengungsian hanya warga yang tak punya tempat tinggal. Sementara mereka yang masih memiliki tempat tinggal sudah kembali lagi ke rumahnya. Kami juga sedang mengupayakan untuk melakukan pembangunan rumah dalam masa transisi ini,” jelasnya, Jumat (11/10) kemarin.

Dikatakan, pemerintah akan melakukan pendataan kembali bagi pengungsi yang kembali dari Jayapura. Jhon Banua menyebutkan, pengungsi yang benar-benar tidak mempunyai rumah. Seperti warga IKT yang ada di Tongkonan, warga KKSS, dari Jawa dan semua warga yang rumahnya habis terbakar akan didata kembali.

“Untuk warga yang rumahnya sudah habis terbakar dan masih bertahan di Wamena itu datanya sudah ada.  Sekarang kita lakukan pendataan bagi warga pengungsi yang datang kembali dan khusus bagi yang tidak mempunyai rumah,” tuturnya. 

Menurutnya, pemerintah telah berkoordinasi langsung dengan Panglima TNI untuk memfasilitasi pengungsi yang sudah ke Jayapura ataupun yang ke kampung halamannya, apabila mereka ingin kembali ke Wamena. Untuk itu, pengungsi yang ingin kembali diakuinya sementara didata dan langsung dikembalikan.

“Kami tahu sebagian warga Jayawijaya ada di Jayapura. Apabila mereka ingin kembali ke Wamena maka didata dan langsung dikembalikan lagi ke Jayawijaya tentunya difasilitasi oleh TNI AU dalam hal ini Detasemen TNI AU Wamena,” tambahnya.

Untuk rumah sementara, Bupati Jhon Banua mengatakan, pemerintah akan membangun 100 unit pertama. Sementara dari Kementrian PUPR dan Kemensos juga akan nmengambil perannya dalam pembangunan ruko maupun rumah yang telah terbakar. Sehingga program ini sangat berkaitan untuk melakukan rehablitasi di Kabupaten Jayawijaya pasca kejadian 23 September lalu.

“Saat ini, kita sudah keluarkan SK Transisi Darurat. Dimana ini merupakan langkah untuk merehablitasi rumah dan ruko yang terbakar dalam waktu satu bulan ini,”bebernya

Ia juga menyatakan untuk pembangunan rumah sementara ini sebenarnya sudah harus lebih cepat untuk dilakukan pembangunan. Tinggal pemerintah mendata dan meminta kepada Kementrian tidak membangun rumah sementara yang sifatnya hanya sementara waktu. Namun rumah ini bisa langsung digunakan sebagai tempat usaha. 

Sebanyak kurang lebih 293 orang pengungsi yang mengungsi selama kurang lebih beberapa minggu di Kabupaten Jayapura, akhirnya memilih kembali ke Wamena, pasca situasi dan kondisi di Wamena yang dianggap sudah kondusif.

Ratusan pengungsi ini diangkut menggunakan pesawat Hercules milik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) yang stanby di Base OPS Lanud Silas Papare, Jumat (11/10).

Komandan Lanud Silas Papare, Marsekal Pertama (Marsma) TNI, Tri Bowo Budi Santoso mengungkapkan bahwa pihaknya kembali menerbangkan ratusan pengungsi yang ada di Jayapura kembali ke Wamena.

“Ada 293 orang pengungsi yang selama beberapa minggu di Jayapura ini kita terbangkan menggunakan Pesawat Hercules milik TNI AU kembali ke Wamena,” ungkapnya kepada wartawan di Base OPS Lanud Silas Papare, Jumat (11/10).

Menurut Tri Bowo, para pengungsi yang diberangkatkan ini terdiri dari ibu-ibu dan anak-anak serta para pria yang selama kerusuhan telah mengungsi ke Jayapura. Karena situasi dan kondisi di Wamena sudah mulai kondusif, sehingga mereka balik ke Wamena.

“Para pengungsi yang diberangkatkan ini terdiri dari laki-laki, perempuan (ibu-ibu) dan anak-anak. Mereka ini dari berbagai posko pengungsian yang ada di Jayapura,” ucapnya.

Tri Bowo menyatakan pihaknya mana tetap membuka posko untuk pengembalian para pengungsi yang akan kembali ke Wamena. 

Lanud Silas Papre setiap sore akan mengumpulkan data-data dari masing-masing posko pengungsian yang di wilayah Kabupaten/Kota Jayapura. Terkait dengan adanya para pengungsi yang akan kembali ke Wamena.

“Nanti kita akan kumpulkan data nama-nama para pengungsi yang akan berangkat dari setiap posko yang ada di Kabupaten dan Kota Jayapura, sehingga apabila lebih dari 70 atau kurang lebih 100 orang akan kita berangkatkan,” ujarnya. 

Sementara sebagian pengungsi dari Sentani yang dipindahkan ke aula Lantamal X Jayapura, pada tanggal 3 Oktober 2019 lalu, sudah tidak berada di pengungsuan. 

Informasi yang diperoleh Cenderawasih Pos pengungsi tersebut pulang ke kampung halamannya menggunakan KM Dabonsolo dari Pelabuhan Jayapura.

Kepala Dinas Sosial Kota Jayapura Irawadi mengakui, pengungsi dari Wamena yang ditampung di aula Lantamal X/Jayapura sebanyak 178 orang termasuk Balita, sudah pulang ke kampungnya masing-masing.

Irawadi mengatakan, petugas Dinsos Kota Jayapura sudah turun ke lapangan untuk mengecek kondisi para pengungsi yang akan pulang. 

“Untuk dana pemulangan para pengungsi memang tidak menjadi tangung jawab Pemkot. Bahkan kami belum merasa mengeluarkan dana untuk membayar tiket kapal dan pesawat. Bisa jadi pemerintah daerah atau peguyuban dari para pengungsi yang membantu untuk membiayai pemulangan mereka. (jo/bet/dil/nat)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: