24 Situs di Papua Harusnya Naik Status

By

JAYAPURA – Hasil diskusi yang dilakukan para penggiat seni dan kebudayaan di Papua bersama Dinas Kebudayaan Provinsi Papua terungkap bahwa sejatinya ada 24 situs sejarah di Papua yang seharusnya bisa naik status. Hanya sayangnya hingga kini situs – situs tersebut tidak terawatt, rusak bahkan dilaporkan sudah ada yang hilang. Para kepala daerah ditingkat provinsi dan kabupaten menjadi pionir atau ujung tombak lahirnya sebuah regulasi perlindungan sebuah situs yang kemudian didorong menjadi cagar budaya. Ini yang dikatakan perlu segera dilakukan. 

 “Saya setuju sekali, ini dimulai dari lahirnya sebuah regulasi dan ini perlu inisiatif dari kepala daerah untuk mendorong itu. Kami disini hanya sebagai Pembina atau pihak yang  memberi masukan tapi yang mengeksekusi  adalah pemerintah sendiri,” kata Cheviano Alputika S. Hum dari UPDT Balai Pelestarian Maluku, Papua dan Papua Barat saat menjawab pertanyaan peserta sosialisasi secara virtual yang digelar di Hotel Horison Kotaraja, Selasa (27/7).  Kegiatan yang dibuka Paskalis Netep selaku Staf Ahli Pengembangan Masyarakat Adat dan Budaya  ini diharapkan nantinya akan melahirkan rekomendasi rekomendasi yang bisa dieksekusi oleh pemerintah daerah.

 Yahya Modouw selaku Kabid Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Provinsi Papua menyampaikan bahwa untuk mendorong adanya pengelolaan situs yang menjadi cagar budaya maka dibutuhkan tim ahli. Semua diawali dari kajian tim ahli agar semua yang dianggap memilikihistori sejarah bisa dipertahankan posisinya.

 Menurut Cheviano jika  sebuah wasiran budaya sudah diklaim oleh negara luar maka akan sulit untuk mengembalikan atau diklaim kembali, karenanya sebelum semua terlambat maka diperlukan  komitmen dan itikad baik dari kepala daerah untuk memproteksi. “Sangat disayangkan jika 24 situs ini akhirnya rusak, hilang apalagi diklaim orang lain karenanya harus diproteksi dan ini dimulai dengan  membentuk tim ahli,” tambahnya. Sementara Cheviano juga menjelaskan bahwa selain cagar bucaya, ada  warisan budaya yang juga harus dipagari. “Itu termasuk termasuk tarian, makanan, Bahasa yang secara tidak langsung sedang berjalan hingga kini. Ingat, cagar budaya ini tidak akan habis sehingga sangat penting untuk dilestarikan,” tutupnya. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: