25 Kampung dari 10 Distrik Beresiko Stunting

By

Rembuk stunting yang dilakukan beberapa waktu lalu oleh OPD terkait di lingkungan Pemkab Jayawijaya. Sebanyak 25 kampung dari 10 distrik yang ada di Kabupaten Jayawijaya beresiko stunting.( FOTO: Denny/ Cepos) 

WAMENA—Sebanyak 25 kampung dari 10 distrik yang ada di Kabupaten Jayawijaya beresiko stunting, dari prevalensi stunting di kabupaten ini 29,73% per Agustus tahun 2021, angka tersebut tersebar pada lokus yang sudah ditentukan sebelumnya.

Kepala Bappeda Kabupaten Jayawijaya, Ludia Logo, SSTP menyatakan, sejauh ini, sudah dua tahun berturut-turut, lokus stunting itu ada di 25 kampung dari 10 distrik masuk kategori beresiko.

“Sebagai leading sektor penanganan stunting, kami terus melakukan koordintasi lintas sektor atau Oraganisasi Perangkat Daerah (OPD) se Jayawijaya. Dari Bappeda, kami mengkoordinir di program dan kegiatan yang diusulkan oleh OPD yang berdampak ke penanganan stunting,” ungkapnya Kamis (23/6), kemarin.

Ludia mengatakan, untuk menurunkan angka stunting yang terus meningkat di Jayawijaya ini, membutuhkan kerja keras dan kerja sama intens dari berbagai sektor maupun OPD terkait. Bappeda selaku koordinator penanganan stunting sebagaimana Perpres nomor 72 tahun 2021 terus berupaya menjalin koordinasi untuk sinkronisasi penanganan stunting di Jayawijaya.

“Misalnya di Dinas Kesehatan itu ada program kegiatan peningkatan gizi Balita, kami anggarkan dana di situ, terus di Pemberdayaan Perempuan untuk sosialisasi, terus air bersih di Dinas PUPR, artinya penanganan stunting ini dilakukan secara bersama-sama,”katanya.

Begitu juga untuk tambahan gizi, leading sektornya di Dinas Pertanian. Sehingga kegiatan itu lebih banyak prioritas masuk ke lokus stunting 10 distrik yang menjadi lokus dari penanganan stunting di Kabupaten Jayawijaya.

Sementara itu, Kepala Seksi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Dinkes Jayawijaya, Isay Komba, SKM, M.Kes mengatakan, penyebab meningkatnya angka stunting, diantaranya karena minimnya sanitasi dalam kehidupan sosial masyarakat, baik yang ada di distrik maupun di kampung di luar Kota Wamena.

“Penyebab langsung itu dari makanan yang masuk ke dalam tubuh, tidak terpenuhi gizinya, selain itu penyakit infeksi yang diderita berulang kali,” kata Komba.

Ia menyatakan, penyebab tidak langsung itu pola hidup, sanitasi yang jelek, kurang air bersih, ketersediaan makanan di rumah tangga.

“Dengan melihat realita kasus stunting yang ada di Jayawijaya maka dibutuhkan kerja sama semua pihak untuk menurunkannya. Artinya dengan adanya lokus stunting, maka bupati Jayawijaya tetapkan semua konvergensi itu semua OPD terlibat untuk penurunan stuntiing ini,” bebernya.(jo/tho)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: