Lolos dari Bandara, Tak Gunakan Masker, Ternyata Positif Covid-19

By

Ketika Pejabat Pusat Abaikan Prokes, Pejabat dan Masyarakat di Daerah Kena “Getahnya”

Di saat pemerintah daerah dan warga sedang berjuang untuk menurunkan angka Covid -19, ternyata justru oknum pejabat dari pusat yang mengabaikan Prokes saat melakukan kunjungan kerja di daerah. Ironisnya, belakangan dari hasil swab antigen diketahui positif Covid-19.

Laporan : Denny Tonjauw – Wamena
Dari kegiatan peletakan batu pertama pembangunan SD,SMP, SMA Yapesli di Wamena, Kamis (24/6) kemarin, yang dihadiri oleh pejabat pusat, tenaga alih madya Kedeputian V Bidang Politik, Hukum, Pertahanan, Keamanan dan Hak Asasi Manusia, ternyata menyisakan hal yang meresahkan, bagi yang hadir dan terlibat dalam acara tersebut.
Ya bagaimana tidak, pejabat pusat yang hadir, belakangan diketahui positif Covid-19 dari hasil rapid swab antigen di Bandara, harusnya menunggu hasil swab tes untuk PCR. Anehnya, sambil menunggu swab tes PCR, pejabat bersangkutan tidak dikarantina, tapi langsung menghadiri acara hari itu. Bahkan tanpa mentaati prokes, terutama memakai masker. Kontan saja, beberapa orang yang kontak dengan yang bersangkutan, termasuk wartawan diminta untuk karantina.
Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan, apakah prosedur Prokes hanya berlaku bagi masyarakat saja atau golongan pejabat di daerah. Tentunya hal ini disesalkan karena usai pelaksanaan acara itu hasil Swab tesnya menunjukkan jika yang bersangkutan Positif Covid -19, dan baru di karantina di RSUD Wamena. Namun bagaimana dengan masyarakat yang mengikuti acara tersebut dengannya baik itu anak -anak maupun orang dewasa yang hadir dalam acara tersebut.
Salah satu Wartawan Media Elektronik RRI Wamena Melkyas Tangkelangan menilai bahwa dalam melakukan pengendalian dan pencegahan Covid -19 di Jayawijaya masyarakat sudah minta untuk taat menjalankan protokol kesehatan.
Harusnya sebagai seorang pejabat negara harusnya memberikan contoh atau di barisan terdepan untuk memberikan contoh kepada masyarakat terkait dengan disiplin protokol kesehatan. Namun dalam kasus ini mau dikatakan marah dan kecewa, beliau harusnya memberikan contoh.
“Pada pelaksanaannya justru beliau yang paling depan menunjukkan kepada masyarakat tidak disiplinnya mematuhi protokol kesehatan, salah satu contoh kemarin tidak menggunakan masker pada saat acara padahal beliau sudah tahu jika hasil pemeriksaannya antigen di Bandara Wamena reaktif, harusnya menunggu hasil swab tes PCR dulu,” bebernya.
Sementara salah satu wartawan di Wamena Naftali Pawika mempertanyakan bagaimana oknum pejabat dari pusat ini bisa keluar dari pengawasan petugas bandara ketika hasil rapid antigennya menunjukkan hasil reaktif. Tim Medis yang tugas di Bandara kerja dengan pakai SK resmi yang dibuat Negara ini, tapi mengapa abaikan itu. Ada Prosedur dan Prokes ketat jika seseorang dinyatakan reaktif. Apalagi yang bersangkutan dinyatakan reaktif saat swab antigen di Bandara.
Kenyataannya, Tim Medis tidak melakukan upaya karantina. Terbukti, pejabat bersangkutan sempat ikut kegiatan di Yapesli selama 2 Jam lebih, setelah itu baru hasil PCRnya keluar. Apakah Tim Medis yang di Bandara sengaja memberi kekhususan? Itu yang harus dijawab.
Hal yang sama juga disampaikan jurnalis antara Papua Marius Frison Yewun yang memandang jika kalau memang yang bersangkutan reaktif, kenapa tidak ditahan di Bandara itukan ada petugas keamanan seperti satpol PP, polisi dan tentara yang ditempatkan di sana. bukan berarti pejabat negara lalu diloloskan dengan membawa covid dan membagikan virus itu kepada masyarakat.
“Saya menyampaikan terimakasih kepada petugas medis yang terus menjaga wilayah ini aman dari covid. Hanya saja saya harapkan mereka terus membangun koordinasi dengan aparat penegak hukum agar tidak kecolongan membiarkan orang yang berpotensi menjadi penyebar covid, berkeliaran bebas seperti yang terjadi kemarin.” ujar Marius yang berharap hal ini bisa menjadi pembelajaran bagi semua pihak, terutama dari para pejabat. (*/tri)

Ketika Pejabat Pusat Abaikan Prokes, Pejabat dan Masyarakat di Daerah Kena “Getahnya”

Lolos dari Bandara, Tak Gunakan Masker, Ternyata Positif Covid-19

Di saat pemerintah daerah dan warga sedang berjuang untuk menurunkan angka Covid -19, ternyata justru oknum pejabat dari pusat yang mengabaikan Prokes saat melakukan kunjungan kerja di daerah. Ironisnya, belakangan dari hasil swab antigen diketahui positif Covid-19.

Laporan : Denny Tonjauw – Wamena
Dari kegiatan peletakan batu pertama pembangunan SD,SMP, SMA Yapesli di Wamena, Kamis (24/6) kemarin, yang dihadiri oleh pejabat pusat, tenaga alih madya Kedeputian V Bidang Politik, Hukum, Pertahanan, Keamanan dan Hak Asasi Manusia, ternyata menyisakan hal yang meresahkan, bagi yang hadir dan terlibat dalam acara tersebut.
Ya bagaimana tidak, pejabat pusat yang hadir, belakangan diketahui positif Covid-19 dari hasil rapid swab antigen di Bandara, harusnya menunggu hasil swab tes untuk PCR. Anehnya, sambil menunggu swab tes PCR, pejabat bersangkutan tidak dikarantina, tapi langsung menghadiri acara hari itu. Bahkan tanpa mentaati prokes, terutama memakai masker. Kontan saja, beberapa orang yang kontak dengan yang bersangkutan, termasuk wartawan diminta untuk karantina.
Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan, apakah prosedur Prokes hanya berlaku bagi masyarakat saja atau golongan pejabat di daerah. Tentunya hal ini disesalkan karena usai pelaksanaan acara itu hasil Swab tesnya menunjukkan jika yang bersangkutan Positif Covid -19, dan baru di karantina di RSUD Wamena. Namun bagaimana dengan masyarakat yang mengikuti acara tersebut dengannya baik itu anak -anak maupun orang dewasa yang hadir dalam acara tersebut.
Salah satu Wartawan Media Elektronik RRI Wamena Melkyas Tangkelangan menilai bahwa dalam melakukan pengendalian dan pencegahan Covid -19 di Jayawijaya masyarakat sudah minta untuk taat menjalankan protokol kesehatan.
Harusnya sebagai seorang pejabat negara harusnya memberikan contoh atau di barisan terdepan untuk memberikan contoh kepada masyarakat terkait dengan disiplin protokol kesehatan. Namun dalam kasus ini mau dikatakan marah dan kecewa, beliau harusnya memberikan contoh.
“Pada pelaksanaannya justru beliau yang paling depan menunjukkan kepada masyarakat tidak disiplinnya mematuhi protokol kesehatan, salah satu contoh kemarin tidak menggunakan masker pada saat acara padahal beliau sudah tahu jika hasil pemeriksaannya antigen di Bandara Wamena reaktif, harusnya menunggu hasil swab tes PCR dulu,” bebernya.
Sementara salah satu wartawan di Wamena Naftali Pawika mempertanyakan bagaimana oknum pejabat dari pusat ini bisa keluar dari pengawasan petugas bandara ketika hasil rapid antigennya menunjukkan hasil reaktif. Tim Medis yang tugas di Bandara kerja dengan pakai SK resmi yang dibuat Negara ini, tapi mengapa abaikan itu. Ada Prosedur dan Prokes ketat jika seseorang dinyatakan reaktif. Apalagi yang bersangkutan dinyatakan reaktif saat swab antigen di Bandara.
Kenyataannya, Tim Medis tidak melakukan upaya karantina. Terbukti, pejabat bersangkutan sempat ikut kegiatan di Yapesli selama 2 Jam lebih, setelah itu baru hasil PCRnya keluar. Apakah Tim Medis yang di Bandara sengaja memberi kekhususan? Itu yang harus dijawab.
Hal yang sama juga disampaikan jurnalis antara Papua Marius Frison Yewun yang memandang jika kalau memang yang bersangkutan reaktif, kenapa tidak ditahan di Bandara itukan ada petugas keamanan seperti satpol PP, polisi dan tentara yang ditempatkan di sana. bukan berarti pejabat negara lalu diloloskan dengan membawa covid dan membagikan virus itu kepada masyarakat.
“Saya menyampaikan terimakasih kepada petugas medis yang terus menjaga wilayah ini aman dari covid. Hanya saja saya harapkan mereka terus membangun koordinasi dengan aparat penegak hukum agar tidak kecolongan membiarkan orang yang berpotensi menjadi penyebar covid, berkeliaran bebas seperti yang terjadi kemarin.” ujar Marius yang berharap hal ini bisa menjadi pembelajaran bagi semua pihak, terutama dari para pejabat. (*/tri)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: