Ada Circle Area dan Menara Pantau Untuk Menyaksikan Burung

By

Pengunjung pertama dari Rumah Bakau Jayapura ketika berfoto beberapa waktu lalu usai membersihkan lokasi Adjahfuk Resources di Jalan Pantai Hamadi yang tak lama lagi akan dioperasikan. (Gamel Cepos)

Melihat Lokasi Eko Wisata Adjahfuk Resources, Tempat Hiburan dan Edukasi Baru di Jayapura

Tempat hiburan di Kota Jayapura semakin menjamur. Cafe – cafe urban baru terus bermunculkan menawarkan konsep yang memanjakan. Satu yang sedikit berbeda, Adjafuk Resource. Buah tangan Dinas Kehutanan Provinsi Papua

Laporan : Abdel Gamel Naser – Jayapura

Jika melintas di Jalan Pantai Hamadi wisata pantai terus menjamur dan semakin bejibun. Ini menjadi sesuatu yang lumrah. Pantai dengan laut yang dibalut dengan berbagai konsep hiburan menjadikan. Lokasi Pantai Hamadi kini menjadi satu lokasi tujuan diakhir pekan. Warga dari berbagai daerah datang ke pantai hamadi hanya untuk melepas penat, berkumpul bersama rekan, keluarga maupun gebetan. Namun jika diperhatikan seksama ada satu lokasi baru yang hingga kini masih belum dibuka. Dari depan terpampang jelas nama tempatnya  adalah Adjahfuk Resources.

Sekilas banyak yang bingung apa isi bagian dalamnya sebab tampilan muka hanya berisi  jejeran papan yang mainstream dengan dua pintu. Namun sejatinya jika menilik ke bagian dalam terlihat jelas suasana hutan mangrove yang sangat asri. Ya jika selama ini orang hanya melihat hutan mangrove sebagai hutan yang kerapatan pohonnya sangat padat, kali ini bisa masuk langsung melihat dari dekat isi hutan mangrove.

Sejatinya konsep eko wisata seperti ini jika di daerah luar semisal di Wanasari Kuta Bali, Wonorejo Surabaya, Sekotong Lombok Barat, Pantai Indah Kapuk Jakarta dan  beberapa daerah lainnya sudah menjadi sesuatu yang biasa namun di Jayapura sendiri hal ini terbilang baru. Lokasi hutan mangrove yang masuk dalam Taman Wisata Alam Teluk Yotefa digarap menjadi lokasi wisata. Nama Adjahfuk sendiri  diambil dari nama tempat atau area oleh suku Afaar. Lokasi ini kini digunakan sebagai  sarara prasarana ekowisata.

Menurut Jhon Moiseri selaku Kepala Seksi Jasa Lingkungan yang bertugas sebagai pelaksana teknis perencana dan pengelolaan sarpras ekowisata pembangunan Adjahfuk Resources ini  dimulai pada November 2019 dengan tujuan menerapkan program kebijakan pengembangan jasa lingkungan dengan strategi pemberdayaan masyarakat di dalam atau sekitar kawasan hutan dengan bertujuan melestarikan kawasan hutan mangrove yang kebetulan berstatus kawasan konservasi Taman Wisata Alam (TWA).

Ini sekaligus untuk meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat dalam hal ini masyarakat mendapat manfaat ekonomi melalui upaya pelestarian alam agar tidak lagi menebang atau merusak hutan. Kata Jhon di lokasi ini tersedia kantin yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk makan atau berbelanja, lalu ada menara pantau untuk melihat dari ketinggian lokasi hutan mangrove termasuk circle area yang bisa digunakan sebagai latar foto. Circle ini posisinya tersis di bawah menara pantau dan karena dibuat lebih rendah akhirnya pengunjung bisa bersentuhan langsung dengan pepohonan mangrove. Menariknya jika sesuai rencana, lokasi ini bisa dioperasikan hingga malam hari.

“Ia ada lampu yang kami siapkan,” jelas Jhon. Lokasi eko wisata ini juga kental pesan edukasi khususnya yang berkaitan dengan mangrove  dan persoalannya. Yang paing sering terjadi kata Jhon adalah sampah yang berceceran di lokasi wisata dan disini pihaknya menekankan sejak di pintu masuk untuk pengunjung bertanggungjawab atas sampah masing – masing. “Ada tempat sampah yang kami siapkan dan ini wajib dipatuhi dimana yang datang tak boleh meninggalkan sampahnya begitu saja. Harus tertib sehingga tak sekedar wisata tetapi ada edukasi,” bebernya. Saat pembangunan lokasi Adjahfuk ini  sebisa mungkin diminimalisir ada pohon yang ditebang sehingga jangan heran jika di jalur yang akan dilewati ada pohon yang tetap berdiri di tengah – tengah jalan. Meski bisa saja ditebang namun konsep menjaga dan merawat tetap harus ada.

“Kalau disitu ada pohon biasanya kami yang menyesuaikan, bukannya kami tebang tapi mengikuti alurnya saja. Pohon tetap tumbuh dan akses juga tetap dibangun. Jadi tidak merusak dan semaksimal mungkin tak ada pohon yang kami tebang,” katanya. Dari spot ini kata Jhon direncanakan ada pembangunan lainnya yakni tracking sepanjang 500 meter hingga sampai ke sungai atau Hali Hanyaan  lalu dibuatkan 5 unit homestay yang berposisi di bibir/pinggir sungai/kali hanyaan.

Konsep dari eko wisata ini sendiri kental terasa bagaimana bisa hidup berdampingan dengan alam. Bagaimana bisa lebih dekat dengan alam dan memahami ancaman yang muncul jika terjadi kerusakan. Pengunjuk diajak peduli lewat pesan – pesan moral yang dipajang sehingga setelah dari lokasi Adjahfuk ini pengunjung memiliki nilai lebih dan tak sekedar rekreasi atau refreshing tetapi ada aspek pendidikan yang diperoleh. “Segera kami buka dan sekali lagi, bagi pengunjung harus memahami betul bagaimana menghargai alam,” pungkasnya. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: