Ada Yang Pesan Semalam Harus Jadi, Ada Yang Minta Perajinnya Puasa

By

Kepuhsari, Wonogiri: Muasal Wayang di Tangan Dalang-Dalang Kondang dan Suvenir Asian Games 

Wayang buatan para perajin Kepuhsari terkenal karena kehalusan tatahan dan ketebalan kulitnya. Sudah turun-temurun menekuni seni tatah sungging itu sejak abad ke-17.  

I’ied Rahmat Rifadin, Wonogiri

DI belakang rumahnya, di ruangan selebar 4 x 10 meter berdinding gedek (bambu) dan beralas tanah, setiap hari tangan telaten Suparno tahan berjam-jam meliuk-liuk nyungging alias mewarnai tokoh-tokoh pewayangan. Sudah 28 tahun dia melakukannya. 

Seperti siang itu, Kamis pekan lalu (7/7), tangan pria 42 tahun itu tengah memegang pen kodok saat Jawa Pos berkunjung ke rumahnya di Desa Kepuhsari, Kabupaten Wonogiri. Di dalamnya terdapat tinta hitam untuk membuat garis lurus kecil-kecil sebagai motif ornamen baju tokoh pewayangan Werkudoro atau Bima.

Begog, begitu Suparno biasa dipanggil, bekerja dengan ditemani lampu pijar kuning yang digantung rendah. Di sekelilingnya dipasangi sobekan kertas kalender tahun lalu agar sinarnya tidak ngglambyar.

’’Monggo Mas, seadanya,’’ ucap Riani, istri Begog, sambil menghidangkan tiga cangkir teh hangat saat koran ini memperhatikan suaminya bekerja.

Sejak abad ke-17, Kepuhsari di kabupaten di Jawa Tengah yang berbatasan dengan Jawa Timur itu dikenal sebagai Kampung Wayang. Seni tatah sungging untuk membuat wayang kulit telah mendarah daging di sana.  

Begog pun menjadi salah seorang penyungging terbaik di desa yang masuk wilayah Kecamatan Manyaran itu. Wayang hasil gambarannya halus, rapi, coraknya kecil-kecil, dan padat. Dia mendapatkan kemampuan itu setelah merantau bertahun-tahun untuk mempelajari seni melukis wayang kulit kepada seniman tatah sungging di berbagai daerah. Seperti Tulungagung, Blitar, dan Nganjuk di Jawa Timur, serta Sukoharjo dan Klaten di Jawa Tengah.

’’Goresan saya dibilang rapi itu setelah dari Sukoharjo. Saya berguru langsung sama Pak Mur (Murdiyanto) yang sekarang sudah almarhum,’’ ungkap Begog, saat berhenti sejenak dari aktivitas dan mengobrol dengan Jawa Pos.

Sekitar 100 meter dari rumah Begog, Abdillah Nugroho, 27, dan Amar Nuruddin, 20, juga sibuk di depan rumah mereka. Dengan tatah (lidi dari besi) dan ganden (palu dari kayu) di tangan, keduanya serius memahat motif bunga kecil-kecil dan garis lurus-lurus pada kulit kerbau yang sudah digambari tokoh wayang dan terhampar di atas meja.

Abdillah tengah menyelesaikan Krisna. Sementara itu, Amar menyelesaikan tokoh Citrakso. Menatah detail-detail kecil pada kulit kerbau sebagai motif wayang bukan perkara mudah. Tidak boleh terlalu keras karena bisa merusak kulit. Namun, kalau pukulannya terlalu lemah, hasilnya juga tidak bagus.

’’Butuh tiga tahun sampai mereka bisa saya lepas sendiri. Saya mengajari mereka mulai kelas V SD,’’ jelas Giyoto, ayah Abdillah dan Amar, saat menemani Jawa Pos memperhatikan keduanya menatah.

Kegiatan Begog, Abdillah, dan Amar siang itu juga menjadi rutinitas bagi sebagian besar warga Kepuhsari lainnya. Sularjo, kepala desa, menuturkan bahwa dari data terakhir yang dia miliki, ada 114 perajin wayang di wilayah yang dipimpinnya.

Itu belum termasuk perajin wayang di desa-desa sebelah yang masuk wilayah Kecamatan Manyaran. ’’Kalau di seluruh Manyaran bisa sampai 500-an,’’ ujarnya.

Giyoto menambahkan, 114 perajin tatah sungging di Kepuhsari itu dibagi dalam tiga kelompok. Ada yang penatah seperti dirinya dan anak-anaknya, penyungging seperti Suparno alias Begog, ada juga yang khusus membuat pegangan wayang alias garan atau gapit. 

’’Dalang juga ada. Kalau dipersentasikan, hampir 80 persen orang sini bekerja sebagai seniman atau perajin wayang. Sisanya baru bertani dan jadi pegawai,’’ tutur pria 45 tahun yang juga pegiat budaya sekaligus ketua RW di Kepuhsari tersebut.

Konon, seni tatah sungging di Kepuhsari dibawa oleh dalang bernama Ki Kondobuono. Sepeninggal dia, keterampilan itu diteruskan dan dilestarikan oleh anak keturunannya. Sekaligus ditularkan kepada para tetangga dan masyarakat setempat.

Jadilah Desa Kepuhsari masyhur sebagai Kampung Wayang sampai saat ini. ’’Kebanyakan kami berani serius menggeluti tatah sungging juga berawal dari kebutuhan ekonomi,’’ kata Giyoto.

Orang tua yang tak mampu menyekolahkan lebih lanjut lantas meminta anak-anak mereka untuk menekuni kesenian tatah sungging sebagai bekal hidup. ’’Terbukti, sampai saat ini kami bisa hidup dari kesenian ini,’’ ucap Giyoto.

Wayang buatan Kepuhsari terkenal karena kehalusan tatahan dan ketebalan kulitnya. Banyak dalang kondang yang menggunakan wayang dari desa itu. Di antaranya, Anom Suroto serta Manteb Sudarsono dan Seno Nugroho (keduanya telah almarhum).

Panitia Asian Games Jakarta-Palembang pada 2018 juga memesan wayang dari Kepuhsari untuk dijadikan suvenir bagi tamu acara itu. ’’Ada juga yang percaya, kalau mau jadi dalang besar, harus datang dulu ke Kepuhsari,’’ papar Wijono, sekretaris Desa Kepuhsari, saat ditemui di kantornya.

Sebagai perajin kesenian adiluhung alias bernilai tinggi, Giyoto punya pengalaman beragam saat mendapat pesanan. Pernah dia diminta menyelesaikan tatahan satu tokoh wayang dalam semalam. Tepatnya pada malam 1 Sura. Padahal, umumnya, memahat satu tokoh wayang baru bisa diselesaikan dalam tiga hari. 

Pernah juga ada pemesan yang memintanya berpuasa selama menatah tokoh wayang tertentu. ’’Sebagai perajin, saya menurut saja. Pokoknya bayarannya cocok,’’ terangnya, lalu tersenyum.

Kini, Kepuhsari berkembang menjadi desa wisata kampung wayang. Wisatawan lokal maupun asing yang ingin mendapatkan pengalaman langsung melihat dan membuat wayang kulit bisa datang ke sana. 

Kepuhsari juga menyediakan paket pentas wayang jika wisatawan ingin melihat secara langsung pergelaran wayang. Semua paket wisata itu dikelola oleh kelompok sadar wisata (pokdarwis) yang merupakan perkumpulan perajin wayang Desa Kepuhsari. 

’’Wisatawan dari 25 negara pernah berkunjung ke desa ini. Sebelum Covid lagi ramai-ramainya, tapi begitu pandemi langsung sepi. Sekarang mulai bergeliat lagi,’’ ujar Wijono. 

Untuk melestarikan budaya tersebut, seni tatah sungging terus diajarkan kepada generasi muda setempat. Salah satunya dengan menjadikan kesenian tatah sungging sebagai pelajaran muatan lokal di sekolah negeri setempat.

Wayang kulit sebagai karya seni adiluhung kerap terpampang di tempat mewah atau rumah para konglomerat di kota-kota besar. Sementara seniman pembuatnya seperti Begog, Giyoto, Abdillah, maupun Amar, masih akan terus hidup dengan rutinitas kesederhanaannya. 

Menatah dan menyungging Kresna, Werkudoro, Citrakso, dan tokoh-tokoh pewayangan lain, dari pelosok desa, di balik dinding gedek, ditemani secangkir teh hangat. Seperti siang itu. Saat Jawa Pos berkunjung ke Kepuhsari. (*/c18/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: