Adanya Hujan Deras di Jayapura Akibat Gangguan Atmosfer 

By

Pj Wali Kota Jayapura Dr Frans Pekey, M.Si., meninjau langsung lokasi robohnya pohon di jalan polimak akibat guyuran hujan deras dan sempat kendaraan tida bisa lewat karena pembersihan,Selasa (13/9)kemarin.(FOTO: Priyadi/Cepos)

JAYAPURA-Dua malam terakhir ini kondisi cuaca dan suhu di Kota Jayapura dan sekitarnya diguyur hujan lebat yang disertai badai Guntur dan angin kencang. Akibatnya beberapa ruas jalan tergenang, dan pohon-pohon tumbang.  

 Berdasarkan hasil pengamatan BMKG, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang dimulai pukul 22.00 WIT dengan akumulasi hujan 3-4 mm/jam. Intensitas hujan kemudian meningkat menjadi hujan lebat pada pukul 01.00 WIT dini hari dengan jumlah curah hujan tertakar 14,4 mm/jam. 

 Intensitas hujan kemudian menurun menjadi hujan sedang dengan jumlah hujan tertakar 8 mm/jam terjadi hingga pukul 05.00 WIT. Konsentrasi hujan lebat terjadi di wilayah Jayapura bagian utara dan Sebagian Jayapura bagian selatan.

 Plt.Kepala Balai Besar MKG wilayah V, Yustus Rumakiek,S.Si, menjelaskan penyebab terjadinya hujan tersebut ialah adanya beberapa gangguan atmosfer baik pada skala global, regional dan lokal yang terjadi bersamaan sehingga mendukung pertumbuhan awan-awan hujan konvektif dan menyebabkan hujan dengan intensitas lebat. 

 Gangguan tersebut diantaranya, pada skala global, aktifnya fenomena La Nina dengan kategori lemah dimana kondisi tersebut turut berpengaruh terhadap penyediaan uap air secara umum di atmosfer Indonesia. 

 Dalam skala regional, terdapat aktivitas pergerakan konveksi atau yang dikenal dengan fenomena Madden Julian Oscillation (MJO). Kondisi ini kemudian didukung oleh kondisi atmosfer skala lokal yang teridentifikasi cukup labil akibat cuaca yang cukup cerah yang menyebabkan terjadinya proses konveksi/pemanasan yang cukup signifikan dari hari-hari sebelumnya. Gangguan atmosfer yang terjadi pada skala regional dan lokal di atas umumnya terjadi dalam rentang waktu yang pendek (jam-harian) namun berpengaruh signifikan pada proses pertumbuhan awan-awan hujan terutama awan Cumulonimbus.

 Diimbau kepada masyarakat serta stakeholder terkait untuk tetap meningkatkan kewaspadaan karena masih terdapat peluang hujan sedang hingga lebat apabila terjadi gangguan di atmosfer dan dapat berdampak pada potensi kejadian bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, pohon tumbang, banjir bandang, dan lain-lain. Terutama masyarakat yang tinggal di wilayah bantaran sungai ataupun kaki gunung/perbukitan serta wilayah dengan drainase yang buruk. 

 Secara terpisah, Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Jayapura, Heri Purnomo,S.Si mengatakan gelombang dengan ketinggian berkisar 1.25-2.50 meter berpotensi terjadi di Perairan utara Papua Barat hingga Papua dan Samudera Pasifik utara. 

 Seiring dengan peningkatan potensi hujan, potensi gelombang tinggi juga dapat meningkat. Masyarakat nelayan harus tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang cepat di perairan. Hujan lebat disertai angin kencang dapat memicu kenaikan tinggi gelombang.

  Kondisi air laut yang bergejolak dapat membahayakan perahu dan kapal. Masyarakat yang beraktivitas di wilayah perairan diharapkan untuk tetap melengkapi diri dengan informasi cuaca perairan sebelum memulai kegiatan dengan memperhatikan informasi peringatan dini.

 Sementara itu, Pj Wali Kota Jayapura Dr Frans Pekey, M.Si.,yang juga sempat datang ke sana, dan meminta langsung petugas dari Dinas PUPR PKP, DLHK, BPBD, Satpol PP Kota Jayapura dan aparat terkait untuk bisa segera melakukan pembersihan supaya kendaraan bisa lewat dan meminta kepada dinas terkait supaya bisa memperhatikan mana saja pohon yang lapuk bisa berpotensi jatuh khususnya di jalan untuk dibersihkan, termasuk ranting-ranting pohon yang mengganggu jaringan listrik sehingga tidak membahayakan.

  Walaupun hal ini sepele jika tidak ada perhatian serius dari Dinas terkait tentu jika ada kejadian pasti bisa menggangu aktvitas maupun lainnya seperti saat ini.

  Oleh karena itu, diingatkan kepada dinas terkait untuk bisa melakukan pemantauan di jalan terkait kondisi rating pohon, pohon yang sudah lapuk dan berpotensi bisa roboh, dengan demikian, jika terjadi hujan deras tidak ada potensi yang membahayakan bagi pengendara.

  Diingatkan juga kepada BPBD, Dinas PUPR PKP bisa memetakan daerah mana saja yang membahayakan masyarakat tinggal apakah potensi banjir, potensi longsor dan terkena robohnya pohon atau lainnya sehingga dibutuhkan penanganan bersama.(dil/wen)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: