Anak Putus Sekolah Pun Dilatih, 80  Persen Peserta OAP

By

Salah satu ruang pelatihan menjahit di BLK Provinsi Papua. Selain ketrampilan menjahit, ada sejumlah pelatihan ketrampilan kerja lainnya yang diberikan.(FOTO: Elfira/Cepos)

Melihat Upaya Peningkatan Ketrampilan Kerja  di BLKI Provinsi Papua

Hampir setiap tahun, pencari kerja terus bertambah. Ironisnya, banyak lulusan sekolah menengah atau yang putus sekolah, belum siap kerja karena belum memiliki bekal ketrampilan kerja yang mumpuni. Oleh karena itu, keberadaan Balai Latihan Kerja Industri diharapkan mampu mengatasi masalah skill kerja. Lantas bekal ketrampilan kerja apa saja yang disiapkan?

Laporan: Elfira_Jayapura

Terik matahari menyengat di lingkungan Kantor Balai Latihan Kerja Industri (BLKI) Provinsi Papua yang berlokasi di Jalan Pasifik Indah I Base G, Rabu (28/7) siang. Tak ada pegawai yang kelihatan mondar mandir, kecuali di parkiran kendaraan roda dua dan roda empat di halaman kantor.

  Di lain sudut, beberapa ruang Workshop terkunci rapat. Dari ruang workshop jahit, Cenderawasih Pos melihat beberapa pegawai sedang duduk di kursi kayu menikmati waktu istrahat siang.

  Dari merekalah, Cenderawasih Pos berhasil mengabadikan moment di ruang pelatihan mesin jahit yang didalamnya terdapat mesin jahit portable yang berjumlah 7 mesin, dan mesin jahit manual berjumlah 16 unit.

  Di BLKI, terdapat beberapa ruang pelatihan seperti pelatihan mesin jahit, praktik computer, operator computer, perhotelan, teknik las, Teknik otomotif, pengoperasian mesin produksi, instalasi listrik, Teknik pendingin, motor tempel, service sepeda motor, audio video, mebel dan administrasi perkantoran.

  Berdasarkan data dari BLKI Papua, ada sebanyak 208 peserta yang dilatih dalam program pelatihan APBN tahun anggaran 2022. Dari jumlah tersebut, 171 peserta diantaranya adalah Orang Asli Papua (OAP).

  Kepala UPTD BLKI Papua Yahya Itlay, S. Sos menyebut, untuk anggaran pelatihan, BLK Provinsi Papua mendapatkan bantuan dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Sementara dana dari APBD hingga saat ini belum dicairkan.

  “APBN setiap tahun anggarannya Rp 1 M, dari dana tersebut kami lakukan pelatihan dengan beberapa jurusan. Pesertanya kami utamakan OAP, untuk OAP sendiri sebanyak 80 persen sementara 20 persen non Papua,” kata Itlay kepada Cenderawasih Pos.

  Di BLK, waktu pelatihan yang diberikan kepada peserta selama sebulan. Itlay mengaku, baru-baru ini pihaknya kedatangan peserta pelatihan dari Kabupaten Jayawijaya. Usai pelatihan, peserta kembali ke daerahnya masing masing.

   Menariknya, rata-rata yang dilatih di BLK kata Itlay adalah mereka yang putus sekolah. Bahkan, yang tidak sekolah. “Yang tidak sekolah pun saya terima untuk diberi pelatihan di BLK, jika kita meninggalkan  mereka begitu saja. Nanti mereka cari makannya seperti apa, mereka ini perlu diberikan pelatihan,” kata Itlay.

  Kata Itlay, mereka yang putus sekolah mengikuti pelatihan sesuai dengan kemauan dan kemampuan mereka, BLK tetap melatih dan menyesuaikan kemampuan daripada yang bersangkutan. Mereka yang mengikuti pelatihan tidak dipungut biaya.

  Dengan memberikan pelatihan, mereka memiliki keterampilan dan bisa membuka usaha sendiri dengan kemampuan yang sudah ia dapatkan saat mengikuti pelatihan di BLK Papua. ”Usai mengikuti pelatihan dan mendapatkan sertifikat dari BLK, mereka ini menjadi prioritas. Terlebih kami sudah melakukan MoU dengan beberapa perusahaan yang ada di Papua,” ungkapnya.

  Di tengah upaya melatih anak anak Papua, beberapa bangunan tempat pelatihan di BLK kata Itlay ada yang sudah tidak layak digunakan. Bahkan, ada sebagian bangunan yang dibangun sejak tahun 60-an.

 “Kita membutuhkan perhatian dari Pusat maupun dari daerah untuk pembangunan beberapa bangunan yang sudah tidak layak digunakan,” ungkapnya.

  Sebagaimana kata Itlay, dari 15 gedung ruang workshop yang ada di BLK. Hanya 3 gedung yang layak digunakan, sementara beberapa gedung lainnya kebanyakan sudah tidak layak digunakan. (*/tri)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: