Andalkan Tuhan Dalam Segala Hal, Tetap Ikuti Anjuran Pemerintah

By

Makna Pra Paskah dan Paskah Bagi Umat Kristen di Papua

Pra Paskah dan Paskah merupakan masa-masa penantian untuk mengenang kesengsaraan sampai dengan kebangkitan Yesus Kristus. Makna Pra Paskah dan Paskah dimaknai sebagai bagian dari meninggalkan kegelapan dan masuk dalam terang di Papua. Seperti apa saja makna Pra Paskah dan Paskah di Papua?

Laporan: Roberthus Yewen

Pra paskah dalam bahasa Inggris disebut Lenk dan dalam bahasa Latin disebut Quadragesima, ke 40 adalah masa yang mendahului hari raya Paskah dalam agama Kristen.
Masa ini mencakup 40 hari mulai dari Rabu Abu sanpai hari Minggu Palma, dengan berbagai liturgi yang diakhiri sampai Kamis Putih, menjelang peringatan ke 3 peristiwa amat penting, yaitu kematian Yesus pada hari Jumat Agung, yang dilanjutkan dengan penguburannya dan masa tinggalNya di dalam kubur, serta kebangkitan-Nya dari kematian pada hari Minggu Paskah.
Secara tradisional, Pra-Paskah ini merupakan persiapan penyesalan orang percaya, melalui doa, penyesalan, pertobatan, pemberian sedekah, dan mengingkari diri. Tujuan ini lebih ditekankan saat memasuki masa perayaan tahunan Pekan Suci, yaitu peristiwa Kematian dan Kebangkitan Yesus. Ada empat puluh hari dalam masa pra-paskah yang ditandai dengan berpantang dari makanan dan kenikmatan, dan sikap penyesalan lainnya.
Pastor Jhon Bunai, Pr mengatakan, Paskah sesungguhnya adalah kebangkitan Kristus, dari mati Dia hidup. Paskah artinya meninggalkan kegelapan dan masuk dalam terang, maka ada proses secara liturgi yang biasa dibuat adalah perayaan tobat dalam cara berpikir, berperasaan, kehidupan yang tidak oke seperti yang Tuhan mau, maka bertobat terlebih dahulu sebelum masuk dalam tri hari suci.
Tri hari suci yang pertama, yaitu Kamis Putih. Kenapa dibilang Kamis Putih? Karena waktu itu Tuhan mengadakan perjamuan, Dia menyamakan diri seperti roti. Inilah tubuhKu dan inilah DarahKu yang menyelamatkan, menyembuhkan dan memulihkan. Yang penting untuk masuk ke Kamis Putih adalah meninggalkan cara berpikir lama, berperasaan lama, hidup lama, kebiasaan-kebiasaan yang tidak oke, lalu hidup dalam kasih. Kasih akan Allah dan kasih kepada sesama.
Secara simbolik yang diberikan oleh Yesus adalah memberikan tubuh dan darah kepada murid-muridnya. Simbolik yang kedua adalah Yesus membasuh para murid. Aku guru dan Tuhanmu, seperti apa yang Aku buat, kamupun harus membuatnya. Itu artinya saling mengasihi satu dengan yang lainnya.
Pesan kedua dari Jumat Agung sendiri adalah sebuah peristiwa dimana Yesus menjalani salib. Tidak bersalah, tidak berdosa, dibuat menjadi salah dan berdoa dan hukumannya adalah jalan salib menuju Golgota dan wafat di salib.
Dari Jumat Agung untuk di tanah Papua, baiknya untuk menghentikan segala bentuk kekerasan yang terjadi di atas tanah Papua dan meninggalkan itu semua dan mulailah dengan cara berpikir untuk saling mengasihi antara sesama dan tidak usah berpikir tentang stigmanisasi kepada orang lain dan tidak usah merancangkan dengan yang jahat dan memulailah dengan yang baru.
“Ini merupakan pesan dari Jumat Agung untuk kita semua umat Kristen dan semua kita yang ada di tanah Papua dan juga dimana saja berada,” ucap Pastor Bunai yang juga merupakan Koordinator Jaringan Damai Papua (JDP) ini.
Pesan ketiga adalah Sabtu Suci, dimana ada peralihan dari kematian untuk kebangkitan. Yesus yang merupakan manusia wafat itu lahir sebagai tubuh ilahi, maka untuk mempersiapkan hati dan pikiran memasuki Paskah harus kuburkan semua bentuk kekerasan dalam cara berpikir yang meresahkan, mengelisahkan siapa saja dan melihat manusia sebagai citra dan gambar Allah.
Artinya manusia merupakan bagian dari citra dan gambar Allah yang harus saling menghargai dan menghormati serta saling menunjung tinggi, sehingga ketika ada masalah harus bicara baik-baik supaya ada jalan terang dan pemikiran yang terang seperti Paskah, dimana kegelapan ditinggalkan dan terang itu datang. Sehingga lilin yang dinyalakan dalam Paskah merupakan lilin yang baik, benar, jujur, adil, sejahtera dan menyukacitakan siapa saja yang ada di atas tanah Papua.
Sementara itu, berkaitan dengan makna Pra Paskah dan Paskah dalam situasi Covid-19 saat ini, jika dilihat secara umum Covid-19 benar-benar ada, karena banyak orang yang menderita dan menjadi korban serta berada di sekelilingi masyarakat yang ada di tanah Papua.
“Maka diimbau agar tetap membaca kitab suci dan hidup dalam pujian penyembahan, sehingga imun bisa naik dan memperkatakan Yesus Engkaulah andalanku. Hal ini harus diperkatakan oleh semua orang yang ada di tanah Papua. Yesus Engkaulah andalanku,” imbuhnya.
Sementara itu, mewakili Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua, Pdt. Jhon Baransano menyampaikan, masa Pra Paskah ini berlangsung di seluruh dunia dalam mengenang masa-masa sengsara penderitaan Kristus yang menunjuk sampai jalan sengsara, Dia menunjuk sebagai Tuhan dan Allah yang mati bagi dunia dalam menyelamatkan manusia.
Sebagai orang percaya, maka setiap orang diarahkan kepada fase atau masa Pra Paskah sampai kepada Paskah, Jumat Agung. Ada tahapan yang dilalu, yaitu 7 minggu sengsara yang dilalui oleh di seluruh gereja di dunia, khususnya di Papua. 7 minggu sengsara itu dimaknai oleh seluruh umat untuk memandang kepada penderitaan Kristus sebagai jaminan dan keselamatan dalam hidup mereka.
“Umat harus mengarahkan pandangan kepada Tuhan dengan berbagai situasi yang dihadapi mulai dari konflik bersenjata, situasi peperangan, seperti di Nduga, Intan Jaya dan berbagai daerah. Orang percaya harus memandang ke Kristus dan percaya sampai dengan situasi Covid-19 saat ini,” ungkapnya.
Pdt Baransano menyampaikan, setiap orang harus patuh terhadap protokol kesehatan, seperti cuci tangan, pakai masker dan jaga jarak di tengah-tengah pandemi Covid-19 saat ini. Meskipun demikian imunitas dan iman hanya kepada Tuhan. Karena mati dan hidup ada pada Tuhan.
Di tengah masa Pra Paskah saat ini orang Kristen harus memandang kepada Tuhan, karena sudah ditebus oleh darah yang mahal, yaitu darah anak domba Allah yang sanggup menyelamatkan semua orang. Di situ iman dari semua orang Kristen.
“Jadi, hari ini situasi Papua hanya bisa didamaikan dengan Injil dan kekuatan Injil. Injil bicara tidak ada kekerasan, pembunuhan, injil juga bicara rekonsialisi atau perdamaian dengan Tuhan dan sesama,” ujarnya. (*/wen)

 

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: