Angka Kematian di Bulan Juli, di Kota Jayapura Capai 70 Orang

By

JAYAPURA-Wakil Wali Kota Jayapura, Ir. H. Rustan Saru, MM., meminta masyarakat lebih peduli terhadap bagaimana memproteksi kesehatan diri disaat pandemi Covid-19. 

Pasalnya hingga kini belum ada tanda-tanda Covid akan mereda. Bahkan pada Juli kemarin terbilang menjadi waktu dengan angka kematian tertinggi selama ini. Ada 70 pasien Covid yang akhirnya meninggal di bulan itu dan sebagian besar memiliki catatan belum pernah divaksin. 

Rustan Saru  mengingatkan agar kondisi bulan Juli yang benar-benar crawdit tidak terjadi di bulan berjalan.  Pasalnya kemarin kata Rustan di delapan rumah sakit yang ada di Jayapura semua penuh dengan pasien bahkan harus ditangani hingga ke teras atau halaman rumah sakit. Tak hanya itu, persediaan oksigen juga sempat menjadi langka termasuk peti jenazah. 

Pemerintah dan tim medis saat itu benar-benar dibuat kelimpungan dengan serangan pasien yang mendadak dengan jumlah banyak. Hal ini bukan tidak mungkin terjadi mengingat masih banyak warga yang belum menerapkan protokol kesehatan. 

 “Ada beberapa hal yang perlu disampaikan, pertama berdasar data di bulan Juli terjadi lonjakan pandemi di mana rata – rata 73 orang perhari. Padahal Juni lalu hanya 14 orang perhari. Lalu yang membuat kami sedih  adalah angka kematian, dimana di bulan Juni  hanya 3 yang meninggal namun di bulan Juli ini ada 80 yang meninggal,” beber Rustan Saru usai menghadiri undangan Pansus Covid DPRD Kota Jayapura, di ruang rapat DPRD Kota Jayapura, Selasa (3/8). 

Pansus kata Rustan meminta ada perubahan langkah dan strategi yang dilakukan Satgas agar Level IV ini bisa ditekan.

 Rustan menjelaskan bahwa sejumlah upaya sudah dilakukan mulai dari pembuatan posko PPKM di setiap distrik kemudian ini akan di ditambah di  lokasi pasar tradisional,  serta  Satgas akan melakukan operasi yustisi. “Kami akan lakukan  penegakan hukum dengan melakukan operasi yustisi. Jika melanggar akan dilakukan sidang ditempat kemudian langsung dites antigen dan jika positif akan dibawa ke LPMP,” tegasnya.  

Masyarakat di Kota Jayapura lanjut Rustan Saru, ada sekira 38 persen yang sudah divaksin dan ini belum dengan angka ditingkat  provinsi. 

 Rustan juga membeberkan bahwa Jayapura sempat kelabakan dengan kebutuhkan tabung oksigen pada Juli lalu dimana dibutuhkan sebanyak 426 tabung perhari. Sementara saat itu yang baru bisa disuplai hanya 300 tabung yang artinya masih kurang 126 tabung sehingga pada Agustus ini pihaknya mendorong untuk menambah fasilitas. 

Lalu untuk anggaran dari Januari – Juni disebutkan telah terserap sebesar Rp 7,3 miliar. Ini digunakan sebagian besar untuk penanganan di LPMP maupun penanganan penegakan hukum. 

 “Untuk Juli – Agustus kami masih butuh dukungan anggaran Rp 3,3 miliar sedangkan untuk hingga Desember 2021 kami membutuhkan anggaran sebesar Rp 16,7 miliar namun jika ditotal semua dalam setahun paling tidak berkisar pada Rp 27,7 miliar,” pungkasnya. 

Secara terpisah, Ketua Pansus Covid DPRD Kota Jayapura, Yuli Rahman menjelaskan bahwa untuk anggaran, pihakya  akan memperjuangkan dalam APBD perubahan. “Kita akan lihat berapa silpa yang ada dan memang membutuhkan anggaran sekitar Rp 16 miliar lebih. Ini akan kami bicarakan juga dengan DPR Papua, bagaimana solusinya,” jelas Yuli. 

 Ia berharap pemerintah provinsi bisa membantu soal penganggaran karena pihaknya sangat berharap jelang PON tingkat covid yang berjumlah 1955  pasien terpapar ini bisa turun melandai. “Paling tidak kita masuk dalam penyelenggaraan PON angka ini turun ke 500 ke bawah sebab Juli kemarin pandemic paling tinggi,” sambung Yuli. 

Ia juga mengajak masyarakat untuk divaksin. “Saya pikir taka da pemaksaan sebab ada screening lebih dulu jadi tidak serta merta masyarakat divaksin. Kami tidak memaksa masyarakat   divaksin namun untuk membentuk  herd  immunity untuk  membantu pemulihan daerah. Jika Herd Immunity terbentuk mencapai 70 persen maka kita bisa lebih leluasa bekerja,” tutupnya. (ana/ade/nat) 

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: