“Apa Perjuangan Saya Masih  Kurang, Hingga Negara Abaikan Keluarga Saya?”

By

Ketua Veteran Papua-Papua Barat bersama sekertarisnya saat berbincang di ruang kerjanya, Senin (15/8) (FOTO: Elfira/Cepos)

Melihat Kondisi Veteran yang masih ada  di 77 Tahun Indonesia Merdeka

Momen peringatan hari Kemerdekaan RI, biasanya menjadi momen special bagi para veteran, para pejuang yang telah berjasa pada negara ini. Hampir dua tahun Pandemi Covid-19 membatasi kehadiran mereka dalam setiap upacara peringatan HUT RI. Lantas seperti apa kondisi para veteran yang masih ada di Papua ini?

Laporan: Elfira_Jayapura

77 tahun sudah negeri ini merdeka. Namun, sebagian para pejuangnya terutama veteran merasa diabaikan oleh negara. Di tengah usia yang sudah tidak produktif lagi, harusnya negara bisa memberikan perhatian lebih kepada kesejahteraan para veteran ini. 

  Saat Cenderawasih Pos, mengunjungi para veteran di Kantor LVRI di Dok V Jayapura, terdengar lirih suara lelaki tua di kursi besi, berkali kali berkata “apa perjuangan saya sebagai Veteran kurang hingga negara ini mengabaikan keluarga saya” ungkap Musnibi pejuang Trikora tahun 1963 silam.

  Musnibi B.A adalah  Ketua Veteran Papua-Papua Barat, pernah bertugas di Polres Jayawijaya bagian staf operasi tahun 1965. Ia juga mantan anggota DPR dua periode di zamannya Soeharto.

Hidup sebagai pejuang, pria kelahiran 10 Desember 1943 itu dikaruniai enam orang anak, tiga perempuan dan tiga pria. Sayangnya, enam anaknya tak satu pun menjadi seorang PNS atau anggota Polri seperti dirinya.

  Enam anaknya sudah berusaha semampu mereka agar bisa menjadi seperti ayahnya, namun mungkin nasib belum berpihak kepada keenam anak Musnibi. “Anak saya sudah berusaha mendaftar di CPNS dengan menggunakan Veteran, kenyataannya tidak berhasil. Padahal saya ini seorang pejuang Trikora, maklumlah pandangan saat ini hanya tertuju kepada ekonomi,” tutur pria yang rambutnya mulai dipenuhi uban.

  Keenam anaknya kini pekerja swasta, meski berkali kali ia meminta adanya perhatian pemerintah untuk anaknya. Namun semua itu seakan sia-sia, hingga ia pasrah dengan keadaan. Padahal, ia begitu berharap salah satu dari anaknya bisa mengikuti jejaknya.

  “77 tahun negeri ini merdeka, namun minimnya perhatian kepada anak anak Veteran. Seakan negara ini tidak tahu dengan anak anak Veteran,” keluhnya sembari tangan menyeka kelopak matanya.

   “Contoh saya punya anak ikut tes CPNS kuota 2000 tidak lulus, ini aneh menurut saya. Padahal orang tuanya berjuang mati-matian untuk Papua, tinggal nyawa saja yang tidak diambil,” ujarnya. 

  Selaku orang tua, tak mengapa jika para Veteran ini tidak diperhatikan oleh negara. Asalkan, anak anak dari dari para Veteran sudah sepantasnya mendapat perhatian dari negara ini.

“Apa pengabdian seorang Veteran di tanah ini kurang hingga anak anak kami diabaikan oleh negara ?” tanya pria yang kini hampir berusia 80 tahun itu.

  Sementara itu, dalam rangka HUT ke-77 RI, para Veteran mendapatkan undangan dari Pemprov untuk bisa memperingatinya di Stadium Lukas Enembe pada 17 Agustus mendatang. Dalam peringatan 77 tahun tersebut, para Veteran bakal mendapatkan penghargaan dari  Dinas Sosial Provinsi Papua.

  Pria 80 tahun ini berharap para Veteran makin diperhatikan oleh pemerintah, sebagaimana Veteran selama ini hanya bergantung kepada pemerintah khususnya bantuan dari Gubernur.

“Selama ini kami hanya mengandalkan dana hibah, mudah mudahan pemerintah perhatikan kami khususnya Gubernur untuk perhatikan Veteran,” ucapnya.

  Ia juga berpesan kepada anak muda saat ini, sebagaimana yang dikatakan Bung Karno ‘Jas Merah’ jangan sekali-kali melupakan sejarah. Anak muda mengisi kemerdekaan dengan hal hal positif.

  Di sudut ruang lainnya, pejuang Trikora lainnya Ones Bonay (80) juga mengeluhkan soal perhatian pemerintah kepada para Veteran Papua-Papua Barat. “Kenapa pemerintah tega sekali tidak bisa melihat kami sebagai veteran yang membuat Papua ini masuk dalam bingkai NKRI. Saya berjuang untuk negeri ini, tapi pemerintah tidak menghargainya, bahkan gaji kami tidak cukup Rp 2 juta/bulan,” ciutnya.

  “Kenapa pemerintah tidak bisa melihat perjuangan kami sebagai veteran, sampai anak anak kami juga terlantar. Padahal kita mengusir Belanda kala itu, hingga kami diberikan hukuman,” kenangnya.

 Ones Bonay memiliki sembilan anak, namun tak satu pun anaknya menjadi PNS ataupun TNI-Polri. Bahkan, anak-anaknya setiap kali tes tidak pernah lulus begitu juga dengan cucunya.(*/tri) 

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: