Aplikasi Sapu Bantu Simpan Kuota, DJ Scholar Permudah Cari Beasiswa

By

Mendengar Cerita Dua Mahasiswa FMIPA Uncen, Moses dan Evan yang Berhasil Meraih Juara Nasional Dalam Ide Aplikasi

Meski sistem perkuliahan saat ini masih dilakukan secara online namun tiga mahasiswa Uncen mampu mencetak prestasi. Tak sekedar tingkat lokal tapi di nasional dan menyisihkan 19 ribu peserta lainnya. Keren. 

Laporan : Abdel Gamel Naser 

Disaat banyak mahasiswa justru pasrah bahkan mungkin ada yang bersyukur dengan kondisi pandemi yang tidak bisa menggelar proses perkuliahan secara tatap muka hingga akhirnya mengikuti perkembangan dunia kampus ala kadarnya, tiga mahasiswa Uncen masing – masing Moses Johanes Febrian Manuputty jurusan Matematika FMIPA, Evan Claude Boudewin Khainama  jurusan Matematika  dan Lusyana Wibisono dari Fakultas Ekonomi justru mengambil peluang dari kondisi sulitnya menjaga mutu ilmu pendidikan ini.

 Ketiganya tetap melakukan berbagai upaya untuk bisa mendapatkan ilmu dari luar yang tidak hanya diperoleh di kampus. Apalagi saat ini perkuliahan hanya dilakukan via Hp. Tak mau menyerah dan terus belajar, itulah yang dilakukan tiga  mahasiswa ini dan akhirnya berhasil  menorehkan prestasi dalam IndonesiaNEXT Season 5 yang merupakan satu program corporate social responsibility (CSR) dari Telkomsel yang diumumkan 19 Agustus kemarin. 

 Telkomsel memposisikan program IndonesiaNEXT sebagai ajang dalam membuka peluang lebih luas kepada para mahasiswa di Indonesia agar dapat meningkatkan kapabilitas dan potensi demi mewujudkan Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh. Moment ini juga paling tidak akan mendorong pertumbuhan Sumber Daya Manusia (SDM) berdaya saing tinggi dan komunitas digital talent dimasa depan Indonesia yang berkualitas serta siap kerja. Moses misalnya, ia melakukan riset hingga melahirkan ide soal DJ Scholar yang ternyata dalam kompetisi ini berhasil meraih predikat best of the best atau yang terbaik dari hampir 20 ribu peserta.

 Lalu Evan Claude Boudewin Khainama  meraih runner up dari 26 best talent dan Lusyana masuk dalam 10 best talent. Kepada Cenderawasih Pos, Moses menjelaskan bahwa ia dan dua temannya bersaing secara nasional dan internasional  dan dilakukan secara online sejak tahun 2020. Ketiganya memulai dengan beberapa tahapan mulai regstrasi, training untuk mengikuti hard skill mulai dari Microsoft Power Poin dan Microsoft Excel, lalu ada adobe illustrator dan photoshop hingga nasional both camp.

 Dari hasil sertifikasi internasional ini diambil 9 orang finalis dari masing – masing regional untuk kembali bertanding pada tahap nasional both camp. Dari nasional both camp ini dipilih 26 runner up, 10 best talent dan 3 orang best of the best talent. Ia dan Claude sendiri setelah melakukan presentase ternyata diterima dan masuk dalam nasional both camp dan mereka mewakili wilayah Papua Maluku untuk bergabung dengan 39 peserta lainnya secara nasional. “Kami persiapkan diri selama 1 bulan karena sempat jaringan hilang dan kegiatan dipending dan ide DJ Scholar saya ini diterima.  Ide aplikasi ini bisa digunakan mahasiswa menyiapkan diri mengikuti program beasiswa,” kata Moses saat ditemui di ruangan Dekan FMIPA, Uncen Waena pecan kemarin. 

 Ia menyebut ada video tips dan trik yang bisa menuntun mahasiswa untuk mendapatkan beasiswa sehingga akan sangat membantu bagi mereka yang kebingungan. “Semua sudah disiapkan dalam DJ Scholar dan itu memudahkan,” imbuh Moses. Moses berharap ide aplikasi ini akan digunakan oleh pihak Telkomsel sendiri untuk membantu mahasiswa.

 Sementara Claude sendiri menyiapkan fitur sapu yang ditempelkan pada perangkat aplikasi My Telkomsel. “Jadi aplikasi ini bisa digunakan bagi mereka yang menggunakan aplikasi telkomsel. Biasa setelah membeli kuota mereka bisa  menyimpan ke fitur ini,” jelasnya. Menariknya fitur sapu ini bisa digunakan kapan saja sehinga lebih efektif dalam penggunaan kuota. Ide ini muncul setelah Claude melihat kebutuhan kuota mahasiswa ternyata naik turun. 

 Ada kalanya dalam 1 bulan mahasiswa tidak banyak perkuliahan dan lebih banyak kosong namun ada kalanya membutuhkan kuota lebih. Nah saat tidak banyak dibutuhkan ini ketimbang hangus maka kuota bisa disimpan dalam fitur tersebut dan bisa digunakan kapan saja. “ Respon Telkomsel dengan fitur sapu ini sendiri disetujui karena fitur ini diambil dari aplikasi My Telkomsel dan mereka meminta saya menegaskan benefit dari saya sendiri maupun Telkomsel sendiri. Fitur ini bisa digunakan saat situasi genting, kata Claude.

 Dan untuk benefit dari Telkomsel sendiri paling tidak meningkatkan akuisisi untuk pengguna baru dimana yang sebelumnya di luar Telkomsel akhirnya memilih menggunakan Telkomsel dengan adanya fitur ini. Begitu juga dengan  retensi pengguna lama yang gunakan Telkomsel untuk tetap menggunakan Telkomsel.  “Jadi  pihak Telkomsel sendiri baru tahun persoalan mahasiswa dengan adanya ide ini,” jelasnya. Untuk kendala yang dihadapi kata Claude lebih pada brain stroming. “Ini (brain stronig) yang sulit karena  harus menghitung mahasiswa untung dan Telkomsel juga bisa diuntungkan. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: