Banyak Dengar Keluhan, Janji Akan Segera Kembali Bersama Instansi Teknis

By

Penjabat Bupati Sarmi, Markus Mansnembra, SH., MM., duduk melantai mendengar berbagai masukan dari warga Pulau Liki di Balai Kampung Liki Sabtu (30/7) kemarin. (FOTO: Wenny Firmansyah/Cenderawasih Pos)

Ketika Penjabat Bupati Sarmi Kunjungi Pulau Liki, Salah Satu Pulau Terluar di Indonesia

Tepat Dua bulan setelah dilantik Mei Lalu, Penjabat Bupati Sarmi melakukan kunjungan ke Pulau Liki. Di pulau tersebut, bupati menyempatkan berdialog dengan warga di pulau tersebut. Apa saja yang disampaikan warga ?

Laporan: Wenny Firmansyah, Sarmi

SEJAK dilantik menjadi Penjabat Bupati Sarmi oleh Mendagri pada bulan Mei lalu, Markus Mansnembra SH MM telah berkomitmen untuk tetap memberikan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat. Hal itu dimulai dari perubahan yang kecil. 

 Di sela-sela hari libur, Sabtu (30/7) akhir pekan lalu, Bupati Markus Mansnembra mengunjungi salah satu pulau terluar di Indonesia yang berada di wilayah Kabupaten Sarmi yakni pulau Liki. Perjalanan ke pulau Liki menempuh waktu kurang lebih 1 jam. 

Keinginan Bupati Markus Mansnembra untuk melihat dari dekat, bercengkrama dengan masyarakat di Pulau Liki begitu besar, sehingga meskipun angin dan gelombang yang cukup tinggi namun bupati dan rombongan tetap berlayar ke pulau Liki pukul 09.00 WIT. 

 Sesampainya di pulau Liki, Bupati Markus Mansnembra dan rombongan disambut hangat oleh masyarakat setempat dan langsung menuju balai desa untuk berdialog dengan warga setempat.

 Ondoafi Kampung Liki Festus Reno mengungkapkan penghargaan yang setinggi-tingginya atas kedatangan Bupati Sarmi ke pulau Liki.

Dalam kesempatan itu, Bupati Markus Mansnembra mengatakan baru mengunjungi beberapa distrik, dan telah bekerja melakukan tugas-tugas rutin. Menurutnya, jika Tuhan melalui pemimpin negara berkehendak, maka pihaknya akan bertugas hingga Januari-Februari 2025.

Mengapa bisa cukup panjang, karena pada tahun 2024 ada Pemilu serentak, baik untuk Pilpres, Pilkada, dan Pileg. 

Bupati Markus Mansnembra telah berkomitmen bahwa dirinya tidak pernah mau disambut-sambut atau aparat kampung dibuat sibuk untuk menyiapkan segala sesuatu atas kunjungan kepala daerah. Karena dirinya tidak ingin dana kampung terganggu atas kunjungan kepala daerah. “Jadi dana APBK betul-betul untuk masyarakat dan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh masyarakat,”katanya. 

 Raimond Palege dari aparat Kampung Liki dalam sesi dialog mengusulkan perlunya dibangun dermaga. Dia juga menyampaikan persoalan ikan yang melimpah namun setelah dibawa ke Sarmi tidak laku, karena itu perlu dicarikan pembeli atau pengepul untuk membawa ikan dari Pulau Liki.

Hal lain yang disampaikan yaitu masyarakat juga membutuhkan rumpon, serta renovasi gereja, termasuk peningkatan fasilitas jalan kampung.

 Tokoh masyarakat Pulau Liki, Teno juga mengusulkan agar bantuan renovasi gereja, rumah es untuk muat ikan hasil masyarakat, dan agen penjualan BBM. 

Sementara Mama Wete dari kaum perempuan meminta bupati untuk bantuan pemasaran ikan. Sebab ketika hasil ikan dibawa ke Sarmi tidak laku, padahal masyarakat yang jual ikan untuk beli BBM pulang ke Liki. 

Sementara dari pihak kepolisian, Danpospolsubsektor Liki, Bripka O May mengatakan situasi dian kondisi keamanan di pulau Liki dalam keadaan aman dan terkendali, karena daerah ini merupakan salah satu kawasan daerah terluar di Indonesia, namun tak ada gangguan dari luar. 

 Tentang sejumlah usulan warga, Bupati Markus Mansnembra mengatakan soal usulan pembangunan dermaga memang harus dibuat lebih kuat, tidak hanya dermaga kayu yang paling hanya bertahan 1 tahun. Sebab itu perlu dibuat dermaga yang lebih kokoh yang menggunakan tiang pancang. Namun dengan tegas bupati meminta jika nantinya ada anggaran untuk pembangunan dermaga maka tidak boleh ada palang memalang. “Soal ini (palang memalang) kita harus bicara lebih awal. Jangan sampai kita perjuangkan program ini, sudah mulai bekerja tapi ada yang datang memalang. Jadi kalau pemerintah datang membangun masyarakat harus berikan garansi bahwa lokasi itu aman,” pintanya.

Mengenai soal BBM, Bupati Markus Mansnembra mengatakan persoalan stok BBM tidak hanya dirasakan masyarakaat di kepulauan saja, tapi juga di kota, tentunya di kepulauan atau pesisir harganya berlipat-lipat. Oleh sebab itu untuk menyikapi kelangkaan BBM, maka pihaknya membuka kesempatan kepada siapa saja yang ingin membuka/menjadi pemasok BBM di Sarmi.

Pemerintah juga sedang memikirkan untuk bagaimana membangun SPBU khusus nelayan. “Saya bisa pastikan bahwa kunjungan saya ke Liki ini bukan merupakan kunjungan terakhir. Karena dalam waktu dekat saya akan bersama instansi teknis atau OPD yang membidangi masalah yang disampaikan untuk mensinkronkan program. Sebab tak lama lagi pemerintah akan membahas APBD perubahan, dan APBD 2023,” tuturnya. 

“Kalau di APBD perubahan belum bisa diakomodir, maka pemerintah akan berupaya keras agar di tahun 2023 akan direalisasikan,” sambungnya.

  Tentang usulan pemasaran ikan, pihaknya akan berdiskusi bersama kepala dinas perikanan, apakah nantinya akan dibentuk koperasi yang nantinya bisa memberi keuntungan bagi nelayan itu sendiri. “Jadi misalnya jika ada pembentukan koperasi maka nelayan tidak lagi pusing-pusing lagi menjual ikan, bagaimana membeli BBM lagi dan sebagainya,” tandasnya.

 Dia mengatakan Sarmi selama ini sebagai daerah penghasil ikan dan udang, hampir sebagian besar ikan dan udang yang ada di Jayapura dipasok dari Sarmi. Namun yang mengherankan ada masyarakat yang membeli ikan dari Jayapura. 

 Tentang usulan bantuan peralatan bagi petani coklat di Kampung Liki,  Bupati Markus Mansnembra meminta kelompok petani coklat untuk bersabar karena nantinya dia bersama instansi teknis untuk datang lagi sebelum bulan September, untuk melihat sejauh mana program dari instansi teknis.

 Sementara usulan dari petugas kesehatan yang meminta genset untuk operasional laboraturium, secara langsung bupati menyanggupinya untuk langsung mengambil sendiri pada saat upacara kemerdekaan HUT RI di Sarmi. 

“Kenapa saya bisa langsung jawab apa yang disampaikan petugas kesehatan, karena saya tahu kapasitas yang diperlukan. Kalau untuk genset sekolah, hal itu perlu dilihat berapa kebutuhan listriknya di sekolah tersebut yang menggunakan komputer. Jangan sampai ketika listrik padam, dan komputer rusak pemerintah disalahkan,”bebernya. 

   Di akhir dialog tersebut, Bupati Markus Mansnembra menegaskan selama dia memimpin di Kabupaten Sarmi ada upaya yang dilakukan untuk menjawab keluhan dari masyarakat. Dirinya juga bertekad untuk bekerja keras demi pembangunan Kabupaten Sarmi ke depan.

 Setelah berdialog Bupati Sarmi langsung mengunjungi eks dermaga, dan melihat gedung gereje Parakletos yang dikeluhkan. Secara spontan 

bupati menyerahkan uang sebesar Rp 10 juta sebagai modal awal renovasi gereja. 

“Jadi dana yang saya serahkan ini sebagai modal bagi panitia untuk bekerja mulai menyiapkan proposal, surat-surat, fotocopy dan sebagainya guna keperluan panitia pembangunan,”bebernya. Selanjutnya ia meminta panitia segera menyiapkan proposal renovasi gereja.(*/wen/nat)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: