Banyak Meminta Foto Bersama dan Dicari Pengusaha Malaysia

By

Sosok Esau Miram, Wakil Bupati Yahukimo yang Dinobatkan Menjadi Sosok Inspiratif

Meski terbilang sangat  muda namun pria ini pelan tapi pasti terus menjejak dalam titian yang tepat. Karirnya terus menanjak dan pekan kemarin kembali menerima penghargaan Most Trusted Award Trends Summit 2022 Kategori  Inspiring Professional and Leadership 2022-2023. 

Laporan : Abdel Gamel Naser – Jakarta 

Tak banyak yang menyangka jika sosok muda yang berdiri di pojokan jejeran meja bundar barisan pertama adalah sosok wakil bupati. Dari puluhan orang berpenampilan necis malam itu, nampaknya banyak yang mengira Esau adalah pemuda yang paling hanya seorang pengusaha atau wiraswasta. Namun setelah ia diberi kesempatan berdiri dan memperkenalkan diri, barulah terlihat semua berdecak kagum dengan eskpresi tak menduga jika ia adalah seorang wakil bupati. 

 Bahkan saat Esau memperkenalkan diri hampir semua tersentak terdiam dan tak lama memberi aplaus. Satu persatu mata mulai diarahkan ke sudut ruangan dimana Esau duduk di meja paling depan bersama Vice Chairman Indonesia Award Magazine, Rafanara Paramudya. Ya, Esau dinobatkan meneriman penghargaan Most Trusted Award Trends Summit 2022 Kategori  Inspiring Professional & Leadership 2022-2023 atau sosok  pemimpin muda yang menginspirasi versi Indonesia Award Magazine. 

 “Ini adalah catatan setiap tahun yang dilakukan oleh Indonesia Award Magazine untuk mensurvei dan mencari sosok yang memang menginspirasi dan memiliki tekad mentransfer hal – hal positif bagi lingkungan sekitar maupun bagi daerah lewat kemampuannya masing – masing,” kata Paramudya sesaat sebelum menyerahkan penghargaan di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Jumat (16/12). Esau diberi penghargaan yang berbeda diantara semua. 

 Ia menerima plakat berwarna putih dengan ukuran paling besar. Plakat ini hanya satu yang menerima dan itu diberikan berdasar catatan dari Indonesia Award Magazine yang melihat bahwa sosok Wakil Bupati Yahukimo ini memang berbeda. “Pak Esau masih sangat muda dan jika melihat track recordnya kami pikir ia layak untuk menerima ini (penghargaan),” jelas pria berponi tersebut. Secara umum Paramudya menyebut bahwa dedikasi, kepemimpinan dan ketangguhan Wakil Bupati Yahukimo meski baru sekitar 2 tahun lebih menjabat namun dengan usia yang muda dan catatan capaian yang sudah diperoleh dikatakan Esau layak disebut sebagai sosok muda inspiratif. 

 Dari usia yang baru 33 tahun, Esau membuktikan bahwa anak muda juga bisa melakukan hal yang sama seperti para senior. Yang dibutuhkan adalah tekad, mau belajar hal baru dan tak kenal menyerah. Moment penganugerahan penghargaan ini juga dihadiri sekitar 20 sosok hebat lainnya yang tak hanya dari Indonesia tapi juga dari Malaysia. Paling tidak ada dua pengusaha asal Malaysia yang datang untuk menerima penghargaan  itu. 

 Selain dari Malaysia, ada juga dari perusahaan media, pengusaha tembakau hingga alat kecantikan dan furniture. Para pengusaha ini disebut layak menerima setelah memenuhi enam kriteria muai dari system managemen, tata Kelola perusahaan, hubungan investor, tanggungjawab sosial perusahaan, kredibilitas, dedikasi, loyalitas dan berfikir strategis.  Esau sendiri masuk dalam kategori pemimpin disector pemerintahan yang layak dijadikan panutan atau menginspirasi. 

 Paramudya menyebut ada tim independent yang  dibentuk untuk memonitor kepemimpinan, kebijakan dan capaian yang dihasilkan selama memimpin dan  untuk Esau ini memuaskan. Pria bertubuh jangkung ini berharap dari apa yang sudah dilakukan Wakil Bupati Yahukimo ini bisa membuka pemikiran bahwa prestasi tidak mengenal usia dan batas waktu. Siapa saja bisa membukukan torehan positif dalam berbagai aspek, tinggal bagaimana semua ditekuni dan diyakini. “Anak muda juga bisa,” tandasnya.

 Sementara usai menerima menghargaan ini menariknya banyak yang tiba – tiba mengajak Esau untuk ngobrol. Bahkan ada juga pengusaha dari Kalimantan yang meminta berfoto bersama mantan Wartawan Cenderawasih Pos itu. Alhasil setelah satu pengusaha berfoto ada juga pengusaha asal Tionghoa yang meminta berfoto bersama Sekretaris Nasdem Yahukimo ini. Acara foto – fotopun berakhir dan moment lain yang terlihat adalah Esau sempat dicari dua pengusaha asal Malaysia untuk berdiskusi singkat kemudian saling bertukar – tukar nomor. 

 “Ia tadi  saya juga perhatikan mereka mencari saya. Mereka asal Malaysia,” singkat Esau. Usai kegiatan, Esau yang ditemui di tempat terpisah menyampaikan bahwa penghargaan tersebut merupakan sebuah kepercayaan yang sangat istimewa baginya. Ia mengaku sempat tidak percaya akan menerima penghargaan tersebut. Pasalnya ia merasa tidak tahu menahu jika ada survey yang dilakukan. Malah saat dalam perjalanan dari tempatia menginap ke lokasi kegiatan ia masih bertanya tanya apakah ini betul atau penipuan.

 Esau malah sempat meminta ajudannya untuk mengecek lebih dulu ke ruangan acara yang disebutkan. “Itu dia, saya sempat tidak percaya juga dan dalam perjalanan tadi saya bilang ajudan coba cek  acaranya ada atau tidak. Kalau tidak ya kita balik kanan,” ucapnya sambal berseloroh. Namun setelah menaiki beberapa lantai tangga dan masuk ke dalam ruangan kegiatan, ia melihat ada sejumlah tamu berpenampilan rapih dan necis dan disitulah ia baru yakin jika undangan untuk menerima penghargaan ini benar adanya. 

 “Sampai masuk ruangan baru saya percaya,” tambahnya. Esau menyebut penghargaan ini akan ia dedikasikan kepada keluarga, pemerintah dan masyarakat di Kabupaten Yahukimo. “Tentunya ini sebuah kepercayaan, apalagi penghargaan ini diberikan kepada orang-orang terpilih dan tak terbatas dalam negeri saja, tapi untuk sosok-sosok inspiratif yang ada di negeri tetangga yang juga punya catatan baik,” kata Esau. 

 Ia menceritakan bahwa awal menerima undangan ini pada awal Desember lalu dimana dikatakan Majalah Penghargaan Indonesia ini sebelumnya telah melakukan survey dan penilaian secara indepen dimana dari hasil survey yang dilakukan ia menjadi salah satu nominator pemimpin muda inspiratif. Menurut Esau, penghargaan dari Magazine Award ini tak terbatas, artinya untuk semua kalangan, mulai dari politisi, birokrasi, profesional, dari lembaga dalam bidang kemanusiaan dan bahkan para pengusaha-pengusaha inspiratif di luar Indonesia. 

 “Yang jelas kami bangga dan bersyukur, karena menjadi salah satu yang terpilih dari sekian juta orang yang ada di Indonesia,” ucapnya. Iapun menjelaskan bahwa tujuan diberikannya penghargaan ini agar lebih termotivasi dalam bekerja dan berusaha dalam bidangnya masing-masing.  “Saya percaya ada indikator dan seleksi tersendiri untuk penilaiannya, sehingga hal ini juga hendaknya menjadi memotivasi kita semua yang ada di Papua,” sambungnya. 

Dan  sebagai generasi milenial, Esau merasa lebih tertantang untuk melihat daerah terkait persoalan apa yang harus dipecahkan. Tak hanya pendidikan  dan kesehatan saja namun semua aspek dimana ada kebijakan yang bisa diambil untuk membantu masyarakat dalam rangka peningkatan kesejahteraan dengan harapan Yahukimo harus ada kemajuan sesuai dengan misinya yakni Yahukimo Cerdas, Yahukimo Sehat  dan Mandiri seperti yang sedang digarap saat ini.

 “Masih banyak tantangan bagi pemerintah saat ini bagaimana memajukan sumber daya manusia di Kabupaten Yahukimo itu sendiri,” sambungnya.  Pria yang sebelumnya meniti karir  sebagai anggota DPRD ini menyatakan bahwa ada banyak hal yang bisa digunakan untuk merangsang anak muda melakukan hal – hal positif.  Yang dibangun secara mandiri saat ini adalah lapangan futsal dan Esau melihat bahwa banyak hal positif yang dihasilkan dimana anak – anak muda di Yahukimo yang dulunya lebih banyak diam dan terjebak dalam aktifitas penyakit masyarakat, kini memilih bergabung ke arena lapangan futsal.

 “Banyak yang berterimakasih kami membangun  lapangan futsal itu. Meski berbayar tapi banyak yang menyampaikan terimakasih kepada saya karena selama ini itulah yang mereka cari, itulah yang mereka harapkan dan kini telah terealisasi,” bebernya. “Banyak waktu kosong yang dipakai untuk berolahraga. Kami akhirnya merencanakan untuk membangun fasilitas guna mengakomodir passion anak – anak muda di Yahukimo. Saya melihat anak – anak muda di Yahukimo ini memiliki passion tapi sayangnya belum ada wadahnya sehingga itu satu target kami, menyediakan fasilitas untuk mereka,” imbuhnya.

 Iapun menambahkan bahwa sukses bukan soal usia tapi Kembali kepada pribadi dimana apa yang ditanam hari ini maka esok itulah yang dituai. Maksudnya adalah ketika masih berada di bangku sekolah maupun kuliah saat masih kuliah itu harus memiliki target. Ketika sudah selesai apa yang harus dilakukan dan Ketika wisuda ingin menjadi apa.  “Ini yang harusnya tertanam sejak awal jadi Ketika lulus itu sudah punya gambaran mau bagaimana dan seperti apa. Jadi harus punya misi ke depan, jangan hanya sekedar selesai dan mengantongi gelar sarjana. Tidak seperti itu tapi paling tidak ada target yang dicita – citakan,”  paparnya. 

 Perencanaan jangka panjang yang perlu disiapkan akan tetapi jangan  hanya sebagai wacana melainkan harus diperjuangkan dengan tekad sebab kesuksesan tidak ditunggu melainkan dijemput. “Jika ada disekitar kita yang sukses lebih dulu itu layak dijadikan tempat untuk belajar. Ini sama seperti saya dulu dimana ketika saya belum bisa berbicara di panggung itu saya belajar bagaimana berbicara yang baik. Lalu soal politik saya juga banyak belajar dari tokoh tertentu yang sudah  lebih paham lebih dulu. Saya harus berfikir mengapa ia bisa sementara saya tidak. Itu yang juga memotivasi,”  katanya lagi.

 “Saya juga punya prinsip harus berdiri di atas kaki sendiri dan jangan diam untuk menambah ilmu. Tapi jangan juga tahu sedikit tapi omongannya banyak sekali. Harus banyak bertanya dan belajar dari mereka yang lebih dulu sukses. Jadi generasi masa depan saya melihat banyak yang hanya kerja instan padahal kalau mau sukses itu harus bisa berdiri di atas kaki sendiri seperti yang saya bilang tadi,” jelas Esau.

 Iapun mereview pendidikannya dimana Esau menamatkan Pendidikan SMP di Wamena tahun 2004 dan  setelah itu ia ke Biak untuk melanjutkan SMA YPK Biak  dan lulus tahun 2007.  Usai SMA di Biak, Esau melanjutkan kuliah di Unipa Manokwari. Hanya saja ia tak menamatkan kuliahnya di Unipa karena jadwal kuliah yang penuh sementara Esau sendiri masih harus bekerja untuk membantu biaya kuliahnya. Ia mengaku kedua orang tuanya bukan dari kalangan orang berada karena tinggal di kampung bekerja sebagai petani.

 “Saya tidak selalu mendapat kiriman bulanan dan saya rasa itu berat sekali sehingga saya memutuskan untuk keluar dari Unipa kemudian masuk ke ISIP Biak hingga selesai tahun 2011 dan setahun kemudian ke Jayapura dan melamar sebagai wartawan di Cepos dan saya bersyukur bisa diterima,” ucapnya. Namun setelah jadi wartawan tak lebih 2 tahun Esau memilih resign dan memutuskan maju mencalonkan diri sebagai anggota DPRD. Setelah periode pertama berjalan mulus iapun masuk dalam periode kedua.

 Dalam periode kedua ini ia juga masih dipercaya rakyat   dan kembali terpilih.  Namun masa jabatan periode kedua  di DPRD ini tak lama. Hanya beberapa bulan iapun memilih maju  mendampingi Didimus Yahuli dan akhirnya terpilih. “Jadi saya sempat putus kuliah karena tidak kuat dalam pembiayaan, orang tua saya hanya seorang petani dan saya sadar diri tidak mau memberatkan mereka namun dari doa mereka juga saya bisa seperti sekarang,”  kenangnya. (*)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: