Batik Papua Tidak Kalah dengan yang di Luar Papua

By

Kadis Perindagkop dan UKM Kota Jayapura Robert LN Awi, ST.,MT., (FOTO: Priyadi/Cepos)

JAYAPURA-Hari Batik Nasional adalah hari perayaan nasional Indonesia untuk memperingati ditetapkannya batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009 oleh UNESCO.

  Kepala Dinas Perindagkop dan UKM Kota Jayapura Robert LN Awi, ST.,MT.,mengakui, peringatan Hari Batik Nasional tetap menjadi perhatian Pemkot Jayapura dimana belum lama ini perajin batik Papua OAP juga telah diberikan pelatihan dari pusat bagaimana cara membatik, menentukan warna kain batik dan diberikan pelatihan serta alat-alat pendukungnya.

   “Momen peringatan hari batik nasional tetap kita jaga dan pelihara dengan baik, Kita tahu bahwa di Kota Jayapura juga memiliki warisan seni membatik dengan ciri khas budaya Port Numbay di 14 kampung, dalam membatik pasti ada corak gambar ciri khas Port Numbay ada dayung, ikan, tifa dan lainnya jadi batik juga sebagai salah satu ciri khas seni budaya yang masih dilestarikan di Papua khususnya Kota Jayapura,” ungkapnya, kemarin.

   Robert menjelaskan, setiap daerah memiliki ciri khas motif batik tersendiri, untuk keunikan batik Port Numbay adalah adanya perahu dan dayung khas Sentani, Jayapura. Selain itu, dia juga mengambil motif ukiran kayu dan tifa yang khas dari sejumlah suku Papua lainnya. “Bisnis batiknya diawali dengan memproduksi batik tulis tangan. Dan kelompok pembuat batik Papua juga masih ada selama ini,”ucapnya.

  Diakui, kain batik Papua asal Port Numbay sudah banyak dipakai, tidak hanya di Kota Jayapura tapi sudah ada di seluruh Indonesia, bahkan manca negara. Sebab,  sering diberikan untuk cinderamata para tamu atau pejabat yang datang di Kota Jayapura dan bisa dilihat gerai batik motif asli papua atau khas port numbay juga banyak di Kota Jayapura.

  Ditambahkan, untuk memperkaya ciri khas motif batik Papua tidak hanya asli Port Numbay, maka kini sudah banyak dikembangkan mengeluarkan motif terbaru, yakni suku Kamoro dan Amukme.

  Dimana untuk mengangkat budaya-budaya Papua lewat membatik. Untuk itu,  di sini tidak lagi berdiri sebagai anak Port Numbay saja, melainkan anak Papua, sehingga sudah saatnya juga menampilkan corak khas Papua lainnya. 

   “Penambahan corak khas Papua dilakukan mengikuti perkembangan pasar, sekaligus memperkenalkan beragam budaya yang banyak terdapat di Papua, baik itu budaya pantai maupun pegunungan, melalui seni yang dituangkan dalam motif batik,” jelasnya.

   Robert berharap, generasi muda Papua juga bisa terus melestarikan dan mengembangkan dalam seni membatik, sehingga tidak batik motif papua khususnya ciri khas Port Numbay masih ditemukan sepanjang masa. Apalagi setiap hari Kamis dan Jumat di lingkungan Pemkot juga diwajibkan memakai batik nasional dan batik khas motif Papua semua ini masih dijalankan dengan baik. (dil/tri)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: