Beli Laut Buatan, Bikin Kos Eksklusif, dan Dorong Anak Kuliah Setinggi-tingginya

By

Ke Pundong, Desa Para Miliarder Baru Dampak Kompensasi Tol Jogja–Bawen (1) 

Ada yang memborong tiga mobil dalam hitungan hari setelah kompensasi tol Jogja–Bawen cair. Tapi, ada pula yang membeli tempat wisata agar bisa diwariskan dari generasi ke generasi. 

ILHAM WANCOKO, Sleman 

KALUT benar Sumianto. Putranya, Rian Mustofa, butuh biaya kuliah Rp 25 juta. Sementara usaha bengkel dan dekorasi pernikahan miliknya tengah minim pendapatan buntut pembatasan kegiatan berjilid-jilid. 

Kepada sang anak, warga Desa Pundong III, Tirtoadi, Mlati, Sleman, Jogjakarta, itu sempat mengutarakan kemungkinan menjual sepeda motor. Efeknya, Rian kudu siap berangkat kuliah dengan bus. 

Semua itu dilakukan agar pemuda 19 tahun tersebut bisa tetap kuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah Universitas Negeri Yogyakarta. ”Kepepet ingin jual motor, juga beberapa barang,” ujar pria 51 tahun itu saat ditemui Jawa Pos di rumahnya Jumat (3/9). 

Sumianto memang sudah mendengar ada rencana kompensasi jalan tol Jogja–Bawen. Tapi, kabar tersebut merebak di antara warga Pundong sejak dua tahun lalu. 

Sosialisasi demi sosialisasi, juga undangan rapat untuk pemilik lahan, berkali-kali dihadiri. Tapi, tetap belum terdengar kabar pastinya. 

Namun, 19 Agustus lalu, beberapa hari sebelum jatuh tempo pembayaran uang kuliah anaknya, kabar itu ternyata menjadi kenyataan. Uang ganti rugi lahan tol dengan panjang total 75,82 kilometer itu cair. 

Sumianto mendadak jadi miliarder. Di rekeningnya ada transferan uang Rp 2,4 miliar. ”Saya kena dua lahan, rumah dan sawah,” ujarnya. 

Kekalutannya dengan segera sirna. Tanpa pikir panjang, dia membeli tanah untuk ganti tempat tinggalnya. ”Tidak jauh dari rumah dan tanah yang ini, masih di Pundong,” tuturnya. 

Rumah aman, biaya kuliah anaknya jelas juga terbayar. Tapi, Rian yang hampir kehilangan motor rupanya sudah jenuh naik kendaraan roda dua. 

Dia kepingin punya mobil. Bak jin yang keluar dari lampu wasiat Aladin, Sumianto langsung memenuhinya. Satu unit Mitsubishi Xpander dihadiahkan untuk putranya tersebut. ”Ini jadi kado karena saya diterima di UNY,” kata Rian.

Biar adil, anak perempuan pertamanya juga dibelikan sebuah mobil Honda Jazz. Sumianto sendiri membeli sebuah mobil pikap Suzuki Carry karena berniat berbisnis jual beli sayuran. 

Jadi, hanya dalam hitungan hari, Sumianto langsung membeli tiga mobil. ”Saya juga membeli tiga sepeda motor untuk aktivitas harian,” jelas Sumianto.

Buntutnya, ternyata Sumianto jadi kebingungan. Bukan bingung bayarnya, tapi bingung parkirnya. Parkiran rumahnya sebenarnya bisa muat tiga mobil, tapi tidak akan cukup kalau ada tamu yang datang mengendarai mobil. 

Jadilah mobilnya dititipkan parkir di garasi tetangga. ”Itu mobil saya titipkan garasi Pak (Kepala) Dukuh,” ujarnya menunjuk rumah di depan kediamannya, lantas tersenyum. 

Dukuh Pundong III Pekik Basuki sebenarnya juga mendapatkan ganti rugi lahan untuk lahan warisan orang tua istrinya, Tri Baningsih yang akrab disapa Bu Ning. Nilai ganti ruginya jauh di atas yang diterima Sumianto: mencapai Rp 9 miliar. 

Bu Ning dan Sumianto merupakan segelintir dari warga Pundong yang mendapatkan ganti rugi lahan jalan tol yang nanti menghubungkan tiga bandara di Jogjakarta dan Jawa Tengah itu. Terdapat 145 bidang tanah yang terkena pembangunan jalan tol di Pundong. 

Warga mendapatkan ganti rugi paling banyak Rp 12 miliar. Namun, ada pula yang mendapatkan ganti rugi beberapa puluh juta. Semua bergantung seberapa luas dan posisi lahan yang terkena pembangunan.  

Keluarga Pekik belum membeli mobil sama sekali setelah menjadi miliarder. Bahkan, sebelumnya mereka menjual mobil jenis Picanto dan Ford. 

Dua mobil itu dijual untuk membeli lahan dan bangunan sebagai transit karena lahan untuk rumah masih dibangun. ”Keluarga kami harus pindah terlebih dahulu akibat pembangunan jalan tol,” kata Bu Ning.  

Bu Ning memang tidak membeli mobil. Tapi, ibu Hotlan Fasqi Abangga dan Shinta Arya Kosala itu justru membeli sebuah laut buatan di Jogja Eco Wisata. 

Istri Pak Dukuh itu menginvestasikan uangnya untuk membeli tempat wisata tersebut. ”Tempat wisata ini untuk umum juga,” jelasnya. 

Keputusannya membeli laut buatan itu didorong dua anaknya. Keduanya kebetulan lulusan dan sedang kuliah di jurusan ekonomi. ”Anak-anak yang memberikan masukan untuk membeli tempat wisata sebagai investasi,” ujarnya.  

Dengan membeli investasi tersebut, dia berharap bisa menjadi pemasukan dari keluarganya. Sehingga dapat diwariskan dari generasi ke generasi. 

”Jadi, lahan warisan orang tua saya beralih ke sesuatu yang juga bisa diwariskan. Saya tidak menjual lahan warisan, tapi terpaksa karena program pemerintah. Mau tidak mau,” tuturnya. 

Setelah laut buatan, Bu Ning juga membeli sebuah vila yang memiliki kolam renang. Posisinya tepat di depan laut buatan tersebut. 

Dari vila itu, saat melihat ke utara, yang terlihat adalah Gunung Merapi. Kalau melihat ke selatan, laut buatan itulah yang tampak. Jelas indah dan sangat mewah. ”Tapi, rencananya itu bukan untuk rumah,” ujar guru di SMAN Seyegan tersebut. 

Bu Ning mengatakan, awalnya memang membeli vila itu dimaksudkan untuk membelikan anak-anaknya. Tapi, anak-anaknya justru meminta vila itu dijadikan kos supereksklusif. Yang akan menambah pemasukan untuk keluarga. ”Anak saya bilang belum butuh rumah,” urainya. 

Lokasi kos supereksklusif di sebuah vila itu dekat dengan Universitas Islam Indonesia (UII). Jadi, Bu Ning yakin investasinya prospektif.   

Bu Ning juga menginginkan anak-anaknya kuliah setinggi-tingginya. Setidaknya menyamai dirinya yang lulus magister atau S-2. ”Kalau bisa lebih tinggi, S-3 atau malah profesor,” ujarnya. 

Toh, uang tak lagi menjadi masalah… (*/c19/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: