Berwisata Ke Bali Wajib Karantina 5 Hari

By

6 Negara Diusulkan Mendapatkan Izin Masuk ke Bali 

JAKARTA, Jawa Pos-Persiapan uji coba pembukaan Bali untuk wisatawan mancanegara pada 14 Oktober mendatangkan terus dimatangkan Saat ini pemerintah tengah menggodok beberapa kebijakan terkait seperti visa kunjungan wisata dan daftar negara yang diperbolehkan masuk. 

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengatakan, dalam pembahasan terakhir Presiden bersama para menteri, 6 negara masuk dalam seleksi akhir izin masuk ke Bali. Yakni Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Korea Selatan, Jepang, Uni Emirat Arab, Arab Saudi dan Selandia Baru.  ”Tapi kami menyampaikan beberapa usulan negara lain yang bisa disasar seiring dengan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan,” jelas Sandi kemarin (11/10)

Sejumlah persiapan internal diantaranya adalah penyiapan tenaga kerja pariwisata. Meliputi skill dan vaksinasi. ”Kita pastikan mereka skill-nya sudah memadai untuk kembali menerima wismancanegara dan vaksinasi nya sudah lengkap,” jelas Sandi. 

Kemudian sertifikasi CHSE dan penggunaan aplikasi pedulilindungi juga diperluas disertai penguatan komitmen dari penyelengara wisata dan pelaku ekonomi kreatif untuk implementasi protokol kesehatan. Pemprov Bali sendiri rencananya akan menyediakan 35 hotel untuk karantina serta sejumlah fasilitas penunjang tracing dan treatment. ”Kampanye mengajak wisatawan berwisata di dalam negeri dan di bali sudah kita lakukan pre –launch,” kata Sandi. 

Selain persiapan internal. Aturan soal perjalanan bagi para turis asing tersebut sudah dipersiapkan. Protokol dibagi menjadi dua yakni kewajiban saat keberangkatan (Pre-Departure Requirement) serta kewajiban saat menginjakkan kaki di Bali (On-Arrival Requirement). 

Dalam keterangannya kemarin, Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan menerangkan persyaratan tersebut. Pre-Departure Requirement mensyaratkan wismancanegara harus berasal dari negara dengan kasus konfirmasi level 1 dan 2 dengan positivity rate sama dengan atau kurang dari 5 persen.  

Wisman yang dimaksud harus membawa hasil negatif tes RT-PCR yang sampelnya diambil maksimal  3×24 jam sebelum keberangkatan, bukti vaksinasi lengkap dengan dosis ke-2 dilakukan setidaknya 14 hari sebelum keberangkatan dan ditulis dalam bahasa Inggris selain bahasa negara asal. 

Kemudian wisman yang bersangkutan harus membawa serta bukti asuransi kesehatan dengan nilai pertanggungan minimal USD 100.000 dan mencakup pembiayaan penanganan COVID-19. Kemudian bukti konfirmasi pembayaran akomodasi selama di Indonesia dari penyedia akomodasi atau pihak ketiga. 

Sementara saat tiba di bali (On-Arrival Requirements) wisman yang bersangkutan wajib melakukan tes RT-PCR dengan biaya sendiri kemudian mengunduh aplikasi PeduliLindungi untuk mengisi paspor kesehatan E-HAC. ”Nantinya pelaku perjalanan dapat menunggu hasil tes RT-PCR di akomodasi yang sudah direservasi,” jelas Luhut.  

Jika hasil tes negatif, maka wisman tersebut bisa melakukan karantina di tempat karantina yang sudah direservasi selama 5 hari. Pada malam keempat, wisman bisa melakukan tes PCR kembali.. ”Jika hasil negatif maka pada hari ke 5 sudah bisa keluar dari karantina,” kata Luhut. Jika masih positif, maka wisman perlu mengulang siklus dari karantina tersebut. 

Meski demikian, Menparekraf Sandiaga Uno mengatakan di beberapa objek wisata, akan ada pengaturan kegiatan yang hanya berfokus di dalam area sekitar hotel atau resort. 

Sementara untuk visa, Sandi mengatakan jika mengikuti Permenkumham terbaru nomor  34 2021, visa kunjungan wisata memang belum diperbolehkan. Pintu perjalanan Internasional baru dibuka untuk Bandara Soekarno Hatta dan Sam Ratulangi dengan keperluan bisnis esensial. Namun saat ini Menkumham telah ditugaskan untuk memformulasikan kebijakan visa yang tepat untuk uji coba wisatawan mancanegara ke Bali.  

”Selain Bali, Batam  dan Bintan akan menjadi destinasi uji coba untuk dibuka untuk wismancanegar a dengan konsep travel corridor arrangement serta safe travel lane,” kata Sandi.         

Update PPKM

Sementara itu, situasi Pandemi Covid-19 terus menunjukkan perbaikan satu minggu belakangan ini. Kasus konfirmasi harian nasional turun 98,4 persen dan kasus konfirmasi di Jawa Bali juga menunjukan penurunan hingga 98,9 persen dari puncaknya pada 15 juli lalu. 

Selain kasus harian yang terus membaik, jumlah kematian harian di Indonesia juga terus mengalami penurunan. Pada 10 Oktober hanya terdapat kasus kematian sebesar 39 untuk Nasional dan 17 untuk wilayah Jawa dan Bali. 

Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengungkapkan bahwa dibandingkan dengan negara-negara tetangga di ASEAN, kasus Indonesia termasuk yang terendah. Covid-19 Recovery Index Indonesia yang dirilis oleh NIKKEI menunjukkan peringkat Indonesia sudah jauh lebih baik dibandingkan Singapura, Malaysia hingga Thailand. 

Luhut mengatakan, dalam evaluasi mingguan pelaksanaan PPKM hari ini, syarat minimum cakupan vaksinasi lansia untuk penurunan level PPKM dari 3 ke 2 dan 2 ke 1 yang diberlakukan sejak 13 September 2021 mampu mendongkrak kecepatan vaksinasi lansia di Jawa-Bali secara signifikan. 

”Saat ini tingkat vaksinasi dosis 1 untuk Jawa Bali sudah mencapai 40 persen per 10 Oktober 2021, naik 8 persen sejak 13 September 2021,” jelas Luhut. 

Memang kata Luhut, ada peningkatan mobilitas penduduk dari Jawa dan Bali menuju Papua akibat pagelaran PON Papua XX. Namun menurut Luhut,  dalam pelaksanaan PON yang sampai saat ini masih berlangsung, tidak terjadi lonjakan kasus yang cukup signifikan. 

Untuk mengantisipasi penyebaran kasus, pemerintah telah mengeluarkan SE Satgas No.17 tahun 2021 untuk mencegah terjadinya penyebaran kasus setelah kepulangan kontingen dan seluruh panitia ke daerah asal. 

Hal lain yang perlu diperhatikan kata Luhut adalah libur Natal dan tahun baru yang akan segera datang. Sebagaimana yang lalu, libur Nataru biasanya diiringi dengan peningkatan kasus. ”Maka Presiden dalam Ratas hari ini berpesan agar segera ditentukan strategi untuk mempersiapkan Natal dan Tahun Baru ini,” kata Luhut.  

Beberapa yang bisa dilakukan saat ini adalah mengejar  tingkat vaksinasi lansia. Terutama pada wilayah wilayah aglomerasi dan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. ”Sehingga, jika terjadi gelombang berikutnya, angka kematian dan perawatan rumah sakit dapat ditekan,” kata Luhut.  

Vaksinasi Tembus 100 Juta Orang. 

Sementara itu, per 10 Oktober lalu, Indonesia telah resmi melakukan vaksinasi dosis pertama terhadap 100 juta orang. ”Capaian ini merupakan buah dari kerja sama semua pihak, termasuk seluruh masyarakat Indonesia,” kata Menkominfo Johnny G. Plate kemarin (11/10)

Per 11 Oktober kemarin, Satgas Covid-19 mencatat total 100.322.375 orang telah menerima dosis vaksin pertama. Sementara untuk dosis kedua, tercatat 57.607.200 orang. Menurut data Kemenkes, vaksinasi dosis pertama sudah menjangkau 48,11 persen masyarakat indonesia dan vaksinasi dosis kedua menjangkau 27,62 persen target vaksinasi 208.265.720 orang.

Johnny mengatakan, vaksinasi dosis pertama terhadap 100 juta orang itu berhasil dicapai dalam kurun waktu 10 bulan sejak penyuntikan perdana vaksin Covid-19 kepada Presiden Joko Widodo pada 13 Januari 2021 lalu. 

Capaian ini kata Plate tak bisa dilepaskan dari peran serta seluruh bangsa Indonesia, baik dari swasta, organisasi masyarakat, komunitas, dan seluruh lapisan masyarakat. “Mulai dari mendatangkan vaksin ke Indonesia, distribusi vaksin, penyuntikan vaksin, hingga pengawasan proses vaksinasi melibatkan banyak pihak,” katanya.  

Capaian positif juga terlihat dalam realisasi vaksinasi kelompok lansia yang terus meningkat. Hingga 10 Oktober 2021, tercatat sekitar 7 juta lansia sudah mendapatkan vaksinasi dosis pertama, dan sekitar 4,6 juta di antaranya yang sudah mendapatkan vaksinasi dosis lengkap. “Meskipun terjadi peningkatan, tetap perlu dipercepat agar kelompok lansia lebih cepat terlindungi,” tegasnya. 

Kemenkes berupaya mendekatkan pelayanan vaksinasi Covid-19 agar bisa dijangkau semua kalangan. Terutama untuk memudahkan kelompok lansia. Sentra-sentra vaksinasi dengan kapasitas 1000-2000 sasaran per hari terus diperbanyak di seluruh pelosok Tanah Air. 

Angka vaksinasi lansia memang rendah. Padahal risiko terpapar Covid-19 dan mengalami perburukan cukup tinggi. Dari total 21 juta sasaran lansia, baru sekitar 7 juta lansia yang sudah diberikan vaksin. Artinya masih ada sekitar 14 juta sasaran lagi yang harus segera mendapatkan vaksin COVID-19.

”Jangan lupa bahwa vaksin ini sangat penting untuk melindungi kita terutama yang usia lanjut,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Dia meminta agar anggota keluarga proaktif memberikan pemahaman kepada orang tuanya maupun anggota keluarga yang usia lanjut supaya mau divaksinasi. 

Belajar dari Singapura yang dalam beberapa waktu terakhir mengalami lonjakan kasus serta lonjakan kematian terutama pada kelompok usia lanjut, dengan adanya percepatan vaksinasi Covid-19 di daerah harus semakin digalakkan. Sebagai kelompok yang sangat rentan terpapar Covid-19, pemerintah memprioritaskan lansia untuk mendapatkan vaksin. 

”Masih banyak yang belum divaksinasi, ada yang memang takut ke RS, tidak diajak anggota keluarganya, atau enggan keluar rumah, sehingga mesti dibantu untuk diyakinkan agar mereka bisa segera divaksinasi,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Masdalina Pane menilai pembukaan Bali untuk wisata internasional tak jadi masalah. Sebab, kondisi kasus positif Covid-19 di sana pun telah turun signifikan. ”Tentu harus mengikuti aturan karantina yang berlaku,” ujarnya.

Dia menegaskan, karantina tak cukup dilaksanakan selama lima hari saja. Karena masih sangat berpotensi menularkan. Minimal, delapan hari dengan ditambah dua kali PCR di hari pertama menjelang hari terakhir. Dengan harapan, tak ada lagi varian-varian baru yang lolos dari pintu masuk. 

Harusnya, kata dia, pemerintah belajar dari kasus-kasus sebelumnya ketika varian delta menyerang karena tak maksimalnya masa karantina. Sehingga, membuat kasus melonjak hingga banyak masyarakat kesulitan memperoleh akses ke layanan kesehatan. 

Selain itu, yang harus menjadi perhatian pemerintah ialah penerapan protocol kesehatan bagi para turis. Terutama, turis mancanegara. Dari pengalamannya ke Bali dua minggu lalu, banyak turis mancanegara di sana yang lalai dalam penggunaan masker. Meski penerbangan direct ke Bali belum resmi dibuka, para turis mancanegara ini diduga menggunaan pintu Jakarta dan Batam untuk sampai ke Pulau Dewata. 

”Jadi saya lihat sudah banyak turis, sebagain gak pakai masker. Kami teriak-teriak, agar mereka pakai masker,” keluhnya. 

Dia menyayangkan sikap mereka yang seenaknya. Karenanya, dia mendorong agar apparat bisa tegas dalam menegakkan aturan mengenai pelanggaran protocol kesehatan bila ada turis yang lalai. Tak ada pengistimewaan meski mereka turis mancanegra. ”Jangan mereka di negaranya disiplin, di negara orang malah enggak,” sambungnya. 

Masdalina pun meminta masyarakat tak menganggap kondisi saat ini sudah mencapai herd immunity. Pasalnya, kasus masih fluktuatif yang menandakan masih ada kasus baru. Dengan begitu, masyarakat tetap berkewajiban untuk mematuhi 5M.

”Makanya saya bilang, jadikan Bali ini eksklusif jangan murahan. Jadi targernya, orang-orang kaya yang bisa menyewa vila sendiri atau fasilitas menuju lokasi wisata sendiri,” paparnya. 

Di samping itu, dia mendorong agar pembukaan ini nantinya tetap disertai dengan 3T yang ketat. Tracing harsu dilakukan sesuai standar WHO, di mana tracing minimal 80 persen kasus baru. Diharapkan, bila ada kasus bisa segera tertangani dan tak menyebabkan klaster baru.(tau/lyn/mia/JPG)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: