Bisa Saving Rp 540 Miliar Jika Tergarap Maksimal

By

YAHUKIMO-Bupati Kabupaten Yahukimo, Didimus Yahuli menyampaikan bahwa ia mendukung program ketahanan pangan yang sedang didorong Dinas Pertanian dan Perkebunan Yahukimo. Yang sedang dilakukan saat ini adalah pembukaan lahan untuk persawahan. Bukan hal baru tentunya mengingat pertanian jenis padi ini sudah digarap sejak kepemimpinan bupati pertama, Ones Pahabol dan sempat berproduksi.
Hanya program ini sempat terhenti dan kini dilanjutkan. Ia berharap dengan potensi lahan yang dimiliki di Yahukimo paling tidak bisa menjawab kebutuhan dasar soal pangan. Ia menyebut lokasi yang digunakan adalah milik suku Momuna yang dengan kerelaan ikut mendukung program pemerintah.
Disini Bupati Didimus melihat jika lahan menghasilkan padi dan beras maka masyarakat Suku Momuna tidak perlu membeli beras. “Kami juga akan membuatkan pos di sekitar lahan dan nantinya ada masyarakat yang kami minta untuk menggarap lahan dan menjaga. Selama mereka bekerja menunggu hasil ini kami akan beri honor. Tapi saya meminta semangat ini jangan hanya di awal saja, harus berkesinambungan,” jelas Didimus saat melakukan penanaman padi perdana di Kampung Maruku Distrik Dekai, Jumat (22/0).
Didimus juga tak lupa menyampaikan rasa terimakasihnya dimana saat itu juga ia melakukan peletakan batu pertama pembangunan 30 unit rumah untuk masyarakat Momuna. Soal pendistribusiannya jika sudah menghasilkan, Didimus menyampaikan bahwa ia sudah memikirkan semuanya dan masyarakat tidak perlu bingung.
“Ada Perumda yang akan menampung semua hasil padinya dan jika kita bisa menghasilkan jumlah besar saya akan meminta PD Irian Bhakti membeli beras dari Yahukimo juga, semua sudah kami pikirkan dan kami juga memberi ucapan terimakasih kepada masyarakat Momuna dengan membangun 30 unit rumah buat mereka,” imbuh Didimus.
Sementara Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan, Bongga Somule menjelaskan bahwa pihaknya tengah fokus mendorong swasembada padi untuk mencukupi kebutuhan pangan di Yahukimo. Ia memaparkan bahwa penduduk Yahukimo berjumlah 400.000 jiwa lebih dan setiap hari masyarakat memakan seperempat kilo perorang maka setiap hari membutuhkan beras paling tidak 100 Ton dan 1 bulan paling tidak membutuhkan 3000 ton.
Jika ini dikelola secara baik dalam satu tahun maka setiap hektar bisa menghasilkan 12 ton gabah kering. Hanya saja untuk menjawab kebutuhan ini, dibutuhkan paling tidak 3000 Ha lahan sawah. Bongga juga menyinggung soal adanya pergeseran kebiasaan. “Jika dulu tidak makan ubi, tidak makan papeda, tidak makan hom itu dianggap belum makan. Tapi sekarang kalau belum makan nasi maka itu dianggap belum makan. Ini juga menjadi tantangan baru, apalagi anak — anak millenial ini,” kata Bongga.
Disebutkan dengan kebutuhan beras sebanyak 360.000 ton per tahun maka Yahukimo kehilangan anggaran sekitar Rp 540 miliar. “Uang sebanyak itu selama ini justru tersedot ke Merauke, Makassar dan Jawa, jadi jika kita bisa menggarap sendiri maka dana tersebut bisa dipakai untuk yang lain apalagi potensi lahan di Yahukimo sangat memungkinkan karena tersedia 550.000 Ha lahan basah,” tutupnya. (ade/tri)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: