Bongkar Pasang Panggung Tak Sampai 30 Menit

By

GoPot Go, Wayang Potehi di Atas Truk 

GoPot Go lahir dari mimpi para pengurus Yayasan Kelenteng Tri Dharma Hong San Kiong, Gudo, Jombang, Jawa Timur. Mereka ingin pertunjukan wayang potehi terus lestari, murah, dan bisa dinikmati kalangan luas. 

TAUFIQURRAHMAN, Jombang 

SEBELUM kisah dimulai, tiga dewa utama turun dari gunung pertapaan. Mereka adalah Dewa Panjang Umur Lam Kiek Sian Ong yang berpakaian serbakuning, Dewa Kesuksesan Tio Ko Lo berbaju hitam, dan Dewa Kekayaan/Rezeki berbaju merah Chai Sen Ye. 

Chai Sen memberi sambutan dengan menyapa penonton. Dia juga mengumumkan tuan rumah penanggap pertunjukan. Dalam pertunjukan Jumat malam tersebut (18/6), tuan rumahnya adalah pengurus Yayasan Kelenteng Tri Dharma Hong San Kiong, Gudo, Jombang. Chai Sen yang dimainkan oleh dalang Widodo Santoso mengumumkan bahwa pentas malam itu atas hajat atau sumbangan dari pengurus Kelenteng Hong San Kiong Gudo. Chai Sen pun memimpin doa untuk tuan rumah.

”Dengan memohon pertama pada Tien Yang Mahakuasa dan kedua pada Yang Mulia Kongco Sekalian Hudco dan para Shinbing yang ada di ini rumah suci Kelenteng Hong San Kiong, Gudo, Jombang,” ucap Chai Sen.  

Tiga dewa tersebut memohonkan agar segenap pengurus kelenteng diberi berkah selamat dan panjang umur beserta banyak hoki dan rezeki. Dijauhkan dari segala kesukaran, senantiasa sekeluarga hidup rukun, damai, dan sejahtera. Terhindar dari marabahaya bencana penyakit apa pun. 

Setelah semua doa itu, tiga dewa tersebut naik kembali ke gunung pertapaan. Baru setelah itu, Baginda Raja Lie Sie Bin dari Kerajaan Tai Tong muncul di atas takhtanya. Dia memikirkan bagaimana merebut benteng kota Tong Ma Koan dalam rencana serangan umum ke Kerajaan Barat See Liang Hap Bie Kok. Sebuah benteng yang terkenal kuat dan dijaga dua perwira sakti, Hoa Pek Nai dan Hoa Siok Nai.

Lakon Sie Djin Kwie yang berkisah tentang serangan Kerajaan Tai Tong pada See Liang dimainkan setiap sore selama tiga bulan terakhir di Kelenteng Hong San Kiong. Memperingati ulang tahun dewa Kelenteng Hong San Kiong. Pertunjukan dibagi dua sesi. Pukul 15.00 sampai 17.00. Berhenti istirahat, kemudian mulai lagi pukul 7 sampai pukul 9 malam. Warga Gudo di sekitar kelenteng maupun bocah-bocah biasanya mampir sebentar untuk menyaksikan pertunjukan tersebut. 

Namun, malam itu agak berbeda. Pertunjukan dilakukan di atas truk GoPot. Biasanya di panggung potehi yang ada di depan kelenteng. Sejak magrib mobil Isuzu Traga yang menjadi truk GoPot diparkir di depan kelenteng. Kemudian, para kru membongkar mobil tersebut. Dinding boks bagian belakang serta samping kanan dan kiri dibuka. Lalu, disangga dengan lengan hidrolis. 

Begitu bagian belakang terbuka, muncullah kotak merah yang menjadi panggung wayang potehi. Panggung dengan lebar sekitar 160 x160 sentimeter tersebut duduk di atas rel. Tinggal ditarik keluar sedikit, panggung itu pun siap. Tutup boks yang berfungsi sebagai naungan juga dilengkapi lampu sorot yang menembak ke arah panggung. Tidak perlu mencari penerangan lagi. Hanya butuh maksimal 30 menit dari parkir mobil sampai pertunjukan wayang potehi ’’portabel” tersebut siap dimainkan.

Dalang Widodo Santoso tampak duduk di belakang panggung merah ditemani asisten dalang Koh Ping. Mereka mempersiapkan para karakter lakon dan properti pementasan. Sebuah mikrofon menggantung di atap boks yang ujungnya dekat dengan wajah Widodo.

Wayang potehi portabel itu sangat praktis dan bisa dimainkan di ruangan maupun tempat terbuka. Penanggap cukup menyediakan listrik. Sound sudah siap di dalam truk meski bisa ditambah sesuai selera tuan rumah. Bahkan, kalau listrik mati pun, pertunjukan masih bisa berjalan. ’’Di sini ada inverter untuk suplai listrik saat darurat,” jelas Han Thong, kru GoPot. 

Ketua tim GoPot Budiharto Harson mengungkapkan, biasanya rombongan GoPot bepergian dengan dua mobil. Satu mobil Panther di depan membawa dalang dan kru, kemudian diikuti truk GoPot di belakang yang membawa panggung beserta peralatan. 

Ide awalnya, kata Budiharto, adalah keinginan menggelar pertunjukan potehi yang praktis dan murah. Ketua Yayasan Kelenteng Gudo Toni Harsono memiliki inisiatif untuk membuat panggung keliling. ’’Akhirnya, kita dapat bantuan dari PT Marimas,” jelas Budiharto. 

Saat ini, para penanggap wayang potehi cukup membayar Rp 1 juta untuk wilayah Jateng dan Jatim. Kemudian, Rp 1,5 juta untuk wilayah DKI dan Jabar. Pada masa pandemi pun, GoPot cukup sering keliling Pulau Jawa. Mulai dari Solo, Jogjakarta, Ungaran, Semarang, Kutoarjo, Purwakarta, Jabodetabek, Bandung, Cirebon, Tegal hingga ke Lasem. ’’Namun karena ada penyekatan mudik (6 Mei, Red), akhirnya kami stop dulu,” tutur Budiharto. 

Menurut Ketua Yayasan Kelenteng Hong San Kiong Gudo Toni Harsono, GoPot adalah salah satu upaya agar kesenian wayang potehi bisa dinikmati oleh kalangan luas. Sejauh ini rata-rata para penanggap adalah kelenteng maupun vihara. Namun sebelumnya, kru wayang potehi Gudo sempat pentas di sekolah-sekolah, rumah warga, maupun pondok pesantren seperti Ponpes Tebuireng, Jombang, yang hanya berjarak 4 kilometer dari Kelenteng Gudo. 

Salah satu cara unuk memasyarakatkan potehi, kata Toni, adalah memperluas cerita. Bukan hanya tentang kronik-kronik Tiongkok, melainkan juga kisah-kisah lokal dengan pesan-pesan kekinian seperti toleransi dan keberagaman. Bahkan, Toni dan para perajin potehi saat ini membangun wayang dengan lakon ludruk Kebo Kicak, legenda asal muasal Kota Jombang. ’’Ini ada kepala kerbau dan siluman buaya,” kata Toni sambil menunjukkan dua kepala wayang yang setengah jadi kepada Jawa Pos. (*/c6/oni/JPG)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: