Butuh Payung Hukum, Untuk Kelola Peninggalan Sejarah Jadi Tempat Wisata

By

Erlin Novita Idje, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Arkeologi Pra Sejarah dan Sejarah, Saat menunjukan Artefak Artefak yang ada di Balai Arkeologi Papua, Kepada Mahasiswa STIPER Petra Baliem Wamen, Selasa, (14/6). (FOTO: Karel/Cepos)

Mencermati Potensi Situs Peninggalan Pra Sejarah Sebagai Tempat Wisata Sejarah (Bagian II/Habis)

Situs peninggalan  pra sejarah di Papua, tidak hanya ada di wilayah Jayapura dan sekitarnya yang berada di daerah pesisir, namun jug ada situs sejarah di daerah pendalaman Papua yang juga menarik untuk dikembangkan sebagawai wisata sejarah. 

Laporan: Carolus Daot_Jayapura

Erlin Novita Idje, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Arkeologi Pra Sejarah dan Sejarah, mengungkapkan bahwa banyak ragam artefak yang ada di Megalitik Srobu menunjukkan cara pembuatan atau teknologi yang sederhana, hingga cukup rumit dan kompleks. Hal ini menunjukkan bahwa budaya yang berkembang di Situs Megalitik Srobu dapat menjadi salah satu contoh penting dalam perkembangan sejarah budaya di Papua. 

   “Situs ini dapat dikatakan merupakan salah satu situs terlengkap dari segi temuan maupun tradisi budaya yang ada dibandingkan dengan situs-situs lain yang ada di Papua Barat maupun Papua pada umumnya,” terang Alumni UGM tersebut.

   Menurutnya, potensi situs pra sejarah sebagai tempat wisata di Papua sangat banyak, namun yang menjadi kendala saat ini tidak adanya payung hukum yang kuat terhadap pengelolaan  terhadap situs pra sejarah tersebut. Karenat itu,  Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah itu mengatakan perlu adanya kerja sama antara masyarakat adat dan juga pemerintah, untuk menerbitkan Perda Khusus untuk pengelolahan situs pra sejarah. Diapun mengaku jika Perda terkait pengelolahan situs situs pra sejarah ini ada, maka akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi. 

    “Persoalannya jika hanya dikelola oleh masyarakat adat, berati pemasukan untuk PAD kota tidak ada. Tentu hal ini juga akan berpengaruh pada tingkat keamanan dan perawatan sistus situs pra sejarah ini. Maka dari itu perlu adanya perda, karena dengan adanya perda payung hukum untuk memberikan perlindungan terhadap situs pra sejarah ini semakin kuat”, tandasnya. 

   Menurut Erlin,  pemahaman masyarakat terhadap sejarah masih rendah. “Pada dasarnya setiap ada hasil penelitian yang dilakukan oleh balai arkeolgi selalu memberikan informasi kepada masyarakat. Hal ini kami lakukan demgan mengadakan kegiatan sosialisai terkait  hasil penelitian. Papua ini sangat berpotensi jadi tempa wisata situs bersejarah, tetapi memang pemahaman masyarakat masih awam dengan hal ini”, ucap Erlin.

   Dari pantau Cenderawasih Pos terlihat di ruangan penyimpanan artefak di Balai arkeologi begitu banyak artefa artefak yang berpotensi menjadi bahan pelajaran sejarah. Erin mengatakan balai arkeologi terbuka untuk umum, siapa pun yang ingin mempelajari tentang sejarah dan pra sejarah bisa datang di Balai Arkeolgi.  “Kami selalu menerima masyarakat yang ingin belajar pra sejarah disini ada banyak macam artefak yang telah di riset oleh peneliti arekeolgi. Jika ada yang mau datang belajar bisa ajukan surat, untuk menentukan jam kunjungan”, tutur perempuan berdarah NTT tersebut.   

  Salah satunya, adalah 23 Mahasiswa dari Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER) Petra Baliem Wamena yang berkunjung ke Balai Arkeolgi Papua pada, Selasa, (14/6) kemarin. Dosen STIPER Petra Baliem Wamena Naftali F. Rumbiak, S.S, mengaku kunjungan para mahasiswa tersebut untuk  mempelajari tentang sejarah dan pra sejarah kebudayaan orang Papua, khususnya peradaban sejarah di Lembah Baliem Wamena. 

   Pada kunjungan yang singkat itu, ada banyak hal yang dijelaskan oleh pihak Balai Arkeologi diantaranya tentang kebudayaan yang ada di Lembah Baliem Wamena, khususnya terkait kisah hidup para petani yang sudah sejak 10 ribu tahun lalu telah hidup di Lembah Baliem Wamena.

  Selain itu pihak balai juga menjelaskan tentang artefak yang merupakan peninggalan leluhur terdahulu situs Gua Otogece di Lembah Baliem Wamena yang sudah  hidup sejak 6 ribu tahun yang lalu.

  “Di Gua Otogece sendiri ada begitu banyak peninggalan sejarah yang dapat menggambarkan kehidupan orang Papua khususnya leluhur dari Lembah Baliem Wamena yang hidup pada 6 ribu tahun yang lalu”, tutur Erlin Novita Idje, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Arkeologi Pra Sejarah dan asejarah.  

  Dikatakannya dari hasil riset Balai Arkeologi Papua di situ Gua Otogece, ada berbagai macam bentuk artefak yang diantaranya alat batu, alat dari kerang laut maupun kerang danau. Selain itu ada juga alat alat dari tulang dan sampah sampah tulang binatang, ini merupakan gambaran kehidupan Para lalurur Papua yang hidup pada masa lampau. 

  “Hal hal semacam ini sangat perlu kami jelaskan kepada generasi muda Papua kiranya dengan penjelasan yang kami tuangkan pada kegiatan ini, mampu menjadi wadah bagi mereka untuk lebih memahami sejarah. Sebab dengan perekembangan zaman yang sekarang ini mempelajari ilmu  sejarah peradaban manusia seakan perlahan punah”, tuturnya. 

  Dia juga mengungkapkan di Lembah Baliem  Wamena sendiri tidak hanya situs Gua Otogece yang menjadi berpotensi menjadi tempat wosata. Ada banyak situs prasejarah yang ada di kota kenangan itu yang sangat perlu dikembangkan, sehingga dengan mengenal situs situs pra sejarah tersebut dapat memampukan generasi muda Papua khsusnya dari Lembah Baliem wamena untuk menjaga lingkungannya dengan baik. 

   “Kami sangat mengharapkan peretemuan yang singkat ini dapat menjadi bekal bagi para mahasiswa dari STIPER Petra Baliem Wamena untuk menjadi media penggerak bagi masyarakat Wamena pada umumnya,”  ujarnya.

   Banyak situs pra sejarah di Lembah Baleiem Wamena yang sampai saat ini hampir punah karena perbuatan oknum yang menjual artefak-artefak tersebut demi kepentingan pribadi. 

  “Sangat diharapkan para mahasiswa ini dapat berperan menjaga dan melestarikan situs pra sejarah dan artefak peninggalan para leluhur disana, karena hampir sebagian besar sudah hilang yang seharusnya peninggalan peninggalan tersebut sebagai sesuatu yang sacral, tapi karena keegoan masing masing orang menjual artefak artefak itu,” harapnya. (*/tri) 

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: