Cepos Satu-satunya Media Papua Tersimpan di Monumen Pers Nasional

By

Widodo Hastjaryo, Kepala Monumen Pers Nasional, Saat Memperlihatkan Koran Cendrwasih Pos, yang dikoleksi di Monumen Pers Nasional, Kepada para jurnalis Papua. (Karel/Cepos)

SUKARTA-Satu satunya media Papua yang diabadikan di Monumen Pers Nasional (MPI) adalah koran media harian Cendrawasih Pos (Cepos). Widodo Hastjaryo, Kepala Monumen Pers Nasional menyampaikan apresiasi atas dukungan dan kontribusi media harian Cendrawasih Pos yang selalu aktif memberitakan kinerja dan perkembangan yang ada di Provinsi Papua.

  “Terima kasih media harian Cepos yang selalu kirim koran ke Monumen Pers Nasional,” ujar Widodo Hastjaryo, Kepala Monumen Pers Nasional, saat menerima kunjungan 10 orang jurnalis Papua di Monumen Pers Nasional, kamis, (29/9).

   Dikatakannya bahwa tujuan koleksi   koran di Monumen Pers Nasional karena ingin melestarikan bukti terbit dari setiap berita yang tertuang dalam media cetak. Selain itu, juga dugunakan sebagai data jika ingin melakukan riset terhadap suatu pristiwa masa lampau.

  “Koleksi koran ini sangat penting, terutama untuk data penelitian. Hampir setiap hari mahasiwa yang ada di Yogyakarta datang di Monumen Pers Nasional untuk mencari data,” katanya.

  Media harian Cepos mulai mengirim koran ke MPI kata Widodo Hastjaryo sejak tahun 2011. “Untuk menghemat biaya biasanya Cepos kalau kirim koran satu minggu sekali,”ucap Kepala Monumen Pers Nasional.

  Kepala Monumen Pers Nasional menambahkan setiap koran yang ada di MPI akan dibuatkan dalam bentuk koran digital hal ini bertujuan agar memudahkan pembaca jika ingin mencari data.

“Perkembangan zaman tidak bisa dipungkiri, sehingga hal itulah yang mendasari kami di Monumen Pers Nasional membuat koran dalam bentuk digital,” tandasnya.

  Diapun menyampaikan walaupun perkembangan media online semakin pesat, tetapi penggunaan koran tetap ditingkatkan karena hanya media cetak yang memiliki nilai cover both side. Artinya dapat, meliput dari dua sudut pandang yang berbeda atau berlawanan dengan menampilkan dua sisi dalam pemberitaan. 

  Satu  hal  yang perlu diketahui oleh seorang jurnalis bahwa hal utama setiap berita yang terutang terlebih dahulu dilakukan riset di lapangan sehingga berita yang terbit dapat dipertangungjawabkan kebenarannya.

  “Berita yang tertuang di dalam media cetak itu sifatnya lengkap, sehingga selain sebagai wadah informasi, disisi lain berdampak besar pada nilai edukasi bagi pembaca,” terangnya.

  Widodo Hastjaryo pun meyampaikan kode etik jurnalistik tidak hanya berlaku dalam dunia jurnalisme. Tapi juga dalam setiap pola pandang masyarakat terhadap suatu isu atau permasalahan. Sehingga menurut dia kebutuhan koran diera sekarang ini sangt dipandang penting.

  “Media cetak, satus atunya media yang bisa menangkal berita hoax karena memiliki, bukti terbit media, untuk itu sangat penting adanya media cetak,” tutup Kepala Monumen Pers Nasional. (rel/tri)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: