Ciptakan Pelapis Keramik Semprot Termal, Digandeng Badan Antariksa Eropa

By

Fahmi Mubarok, Dosen ITS Finalis European Inventor Award 2022

Sebagai seorang peneliti, Fahmi Mubarok tidak ingin sekadar berhenti pada publikasi karya di jurnal internasional saja. Dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) itu berupaya mengembangkan hasil risetnya menjadi produk jadi. Salah satunya pelapis keramik semprot termal untuk memperpanjang umur produk. 

SEPTINDA AYU PRAMITASARI, Surabaya

JADI finalis ajang bergengsi itu tak lantas menghentikan inovasi Fahmi Mubarok. Dia terus mengembangkan karyanya, pelapis keramik semprot termal, untuk memperpanjang umur produk. 

Saat dihubungi Jawa Pos, dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) itu tengah berada di Norwegia, Selasa (5/7). Finalis nominasi Innovation Prize European Patent Office di European Inventor Award 2022 itu sedang membantu research and development (RnD) di Seram Coatings. Perusahaan tersebut merupakan start-up di bidang pelapis keramik semprot termal yang didirikannya bersama profesor di Norwegian University of Science and Technology (NTNU) Prof Nuria Espallargas. Selain itu, keberadaannya di Norwegia dalam rangka penelitian kemitraan luar negeri antara NTNU dan ITS. 

Temuan lapisan keramik semprot termal untuk memperpanjang umur produk tersebut sejatinya merupakan penelitian yang dilakukan Fahmi sejak S-3 di NTNU pada 2010. Saat itu, ada tantangan di industri bahwa ada satu material silikon karbida yang karakteristiknya bagus, hanya di bawah intan. Namun, secara teknologi tidak bisa diaplikasikan sebagai lapisan keramik karena tidak memiliki titik leleh. 

’’Sehingga kami mengembangkan suatu proses atau sistem yang membuat material tersebut bisa dijadikan lapisan pada suatu benda dengan teknologi tertentu tanpa mengalami sublimasi,” katanya kepada Jawa Pos melalui saluran telepon WhatsApp. 

Setelah melakukan trial and error pada 2010–2011, Fahmi pun berhasil menyelesaikan penelitian tersebut. Fahmi menyadari partikel silikon karbida harus dilindungi dengan sesuatu dari paparan suhu yang tinggi. Laki-laki 44 tahun itu menggunakan yttrium aluminium garnet, sejenis oksida yang tahan terhadap suhu ekstrem untuk melapisi partikel silikon karbida. 

’’Pada Januari 2012, kami berhasil memperoleh apa yang kami inginkan secara teknik. Dari situlah kami putuskan mengajukan paten,” ujarnya. 

Saat itu, Fahmi bersama Espallargas berhasil menemukan inovasi lapisan keramik semprot termal untuk memperpanjang masa produk. Fahmi pun mengajukan hak paten pada 2012 dengan bantuan biro transfer teknologi di NTNU. 

’’Setelah teknologinya kian berkembang, kami memutuskan untuk mendirikan start-up Seram Coatings di Norwegia pada 2014,” katanya. 

Perusahaan rintisan itu didirikan untuk mengomersialkan material kompositnya. Namanya, ThermaSiC. Paten tersebut baru diberikan pada 2018. Kemudian, investor pun banyak berdatangan.  ’’Saat ini, perusahaan kami telah memproduksi ThermaSiC dalam jumlah terbatas dan mengujinya di lapangan dengan klien yang potensial,” ujarnya. 

Fahmi menuturkan, inovasi tersebut dibuat berdasar dari tantangan besar yang dialami industri. Selama ini, para peneliti sudah mencoba melakukan riset tersebut. Namun, tidak ada yang sampai berhasil. 

’’Mereka menyerah di tengah jalan. Ketika kami melakukan riset ini, banyak peneliti yang berkecil hati. Akhirnya, kami berhasil membuktikannya,” katanya. 

Bahkan, inovasinya tersebut bisa menjadi sebuah start-up dan mendapatkan pasar industri. Rata-rata targetnya adalah industri. Contohnya, industri kertas, komponen kereta api, dan sepeda. 

Pada 2022, Seram Coatings juga memiliki proyek besar bersama European Space Agency (ESA) atau Badan Antariksa Eropa. ESA tertarik untuk melakukan pengujian ketahanan lapisan keramik semprot termal dalam menahan abrasi dari pasir di bulan dan planet Mars. 

’’Kami kaget dan tidak menyangka. Bangga juga bisa menjadi salah satu yang digandeng ESA,” kata founder Seram Coatings itu. 

Fahmi mengatakan, ESA melihat 4.000 paten untuk menjadi finalis. Seram Coatings sendiri merupakan perusahaan rintisan yang dikelola secara profesional untuk mengembangkan teknologi hasil risetnya. Saat ini, Seram Coatings berkembang menjadi start-up company yang nilainya di bawah 50 juta euro. 

’’Saya dinobatkan menjadi salah satu dari empat finalis dalam kategori SMEs atau UKM. Sebagai start-up yang sudah mendapatkan pasarnya,” ujarnya. 

Fahmi pun merasa bangga telah menjadi salah satu finalis EPO 2022. Perjuangan dua tahun untuk menemukan inovasi lapisan keramik semprot termal tersebut akhirnya membuahkan hasil yang baik. Kegagalan dari para peneliti sebelumnya akhirnya terpecahkan. 

’’Kami memperoleh hasil optimal dan bisa dilanjutkan hingga ke industri. Kami membuat inovasi ini dengan cara yang tidak umum,” ungkap dosen Departemen Teknik Mesin ITS itu.

Fahmi mengatakan, basic keilmuan yang dimiliki adalah mekanikal dan fokus pada pengembangan material. Namun, teknologi yang digunakan adalah kimia. ’’Saya akhirnya membawa teknologi yang dikembangkan di laboratorium ke industri. Itu yang tidak dilakukan para peneliti ahli kimia,” ucapnya. 

 Fahmi berharap start-up yang didirikan tersebut akan terus berkembang. Apalagi, Seram Coatings telah berjalan 7 tahun. Dana yang masuk juga sudah besar untuk start-up. 

’’Itu sebabnya, untuk kepentingan pengembangan inovasi dan start-up, saya sering ke Norwegia untuk membantu RnD Seram Coatings,” ujarnya. 

Fahmi mengaku ingin sekali mengajak para peneliti agar tidak berhenti pada jurnal penelitian atau publikasi saja, tetapi riset tersebut harus menjadi produk jadi. ’’Sehingga dapat diaplikasikan kepada individu atau industri,” pungkasnya. (*/c17/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: