Daging Lebih Tebal ketimbang Bebek, tapi Lembut dan Gurih

By

Melintasi Pantura Jateng, Menjajal Sate Persilangan Bebek dan Mentok (45)

Butuh sekitar 5 jam untuk mengolah daging blengong jadi gurih, kaya rasa rempah, dan tidak amis. Gubernur Jateng Ganjar Pranowo tak pernah melewatkannya saat kunjungan dinas ke Brebes. 

AGAS PUTRA HARTANTO, Brebes

AKHIRNYA pesanan itu datang. Enam tusuk sate, tapi dengan ukuran yang lebih panjang daripada sate pada umumnya. Tapi, yang ’’tidak pada umumnya” adalah daging yang digunakan: blengong. 

Blengong adalah unggas yang berasal dari persilangan bebek dan mentok. Dagingnya agak tebal ketimbang bebek. Kadar lemak yang rendah membuat tekstur daging blengong lebih kesat. Namun, lembut dan gurih.

Sate blengong khas Brebes, Jawa Tengah. Jawa Pos menikmatinya di sebuah warung di sudut alun-alun kota yang terkenal dengan produk telur asinnya tersebut. Persisnya, Warung Kupat Glabed Sate Blengong Hj Inah yang tampak ramai pada akhir pekan lalu menjelang Lebaran. 

Sate blengong disajikan dengan kuah merah dengan cita rasa manis. Sedangkan kupat glabed adalah sayur kuah kuning kental bersantan mirip opor dengan cita rasa gurih. Isiannya berupa ketupat atau lontong dan tempe. Lalu, ditaburi remahan kerupuk. 

Yang tak suka pedas bisa pesan memakai kuah glabed. ’’Untuk bumbu kuah merah sate blengong, bahannya kacang tanah yang disangrai, terus dihaluskan. Untuk rempah ada bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, ketumbar, cabai, garam, sama gula pasir diulek halus. Terus dikasih santan,” kata Slamet Untung Sugiarto yang merupakan generasi ketiga Hj Inah.

Slamet menuturkan, usaha neneknya itu dimulai sejak 1994. Berawal dari gerobak sederhana. Tidak ada tenda. Orang datang, duduk dengan dingklik (kursi kecil), makan di pinggir jalan.

’’Mbah pernah bilang sama saya, kalau hujan pindah ke depan warung yang ada tempat berteduhnya. Barang-barang diusungi (diangkut) ke situ. Dulu susah, Mas,” kenangnya.

Sampai saat ini tradisi jualan itu masih dipertahankan. Di tempat yang sama, pojok timur Alun-Alun Brebes. Hanya, kini disediakan tenda terpal, tikar, dan meja kecil untuk makan para pembeli secara lesehan.

Menurut dia, yang membuat sate blengong Hj Inah spesial adalah daging blengong yang gurih, kaya rasa rempah, dan tidak amis. Butuh sekitar 5 jam untuk mengolah daging blengong.

Ada tiga kali proses rebus. Rebusan pertama bertujuan melunakkan bulu sehingga mudah dicabut dari kulit blengong. Proses selanjutnya merebus daging dengan kunyit dan garam. Setelah itu, daging yang sudah masak dipotong-potong dan ditusuk ke lidi bambu menjadi sate. 

Tak berhenti di situ, sate direbus dengan kuah bumbu merah agar meresap ke potongan daging tersebut. Masing-masing proses itu membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam.

’’Rangkaian proses itu membuat daging tidak amis dan empuk. Saya jamin gurih meski nggak pakai bumbu (kuah merah),” tegasnya.

Dia mengatakan, resep masakan masih otentik dari Mbah Inah. ’’Sampai saat ini masih diracik mbah sendiri. Saya bantu masak dan olah,” imbuhnya.

Sebelum pandemi Covid-19, lanjut Slamet, sekali jualan menghabiskan 30 ekor blengong. Omzetnya rata-rata mencapai Rp 10 juta per hari. Sedangkan saat ini hanya 20 ekor blengong per hari. ’’Untuk omzet alhamdulillah sudah 80 persen dibandingkan sebelum pandemi,” ungkap pria 28 tahun itu.

Persebaran SARS-CoV-2 sangat berdampak pada bisnis keluarga itu. Bahkan, mereka sempat tidak berjualan tiga bulan pada 2020. Begitu pula saat merebaknya Covid-19 varian Delta tahun lalu. Sejak Juli hingga September warung Hj Inah tutup. 

Mudik Lebaran tahun ini tentu menjadi momentum untuk bangkit meski perlahan dan tidak seramai sebelumnya. Mengingat, sudah ada tol trans-Jawa yang sudah beroperasi penuh. Artinya, terjadi penurunan mobilitas masyarakat yang mudik melewati jalur pantura Jawa.

Warung Hj Inah menjual sate blengong dengan harga Rp 8 ribu per tusuk. Sementara itu, kupat glabed dibanderol Rp 7 ribu per porsi. ’’Hari-hari biasa dua masakan itu dijual Rp 7 ribu semua. Tapi, ketika momen Ramadan dan Lebaran harga blengong per ekor juga naik, makanya harga sate per tusuk juga naik. Karena beli blengong saja Rp 200 ribu per ekor,” ungkap Slamet.

Sate blengong nyatanya menjadi incaran para pejabat daerah maupun pusat ketika berkunjung ke ujung barat Jawa Tengah itu. Slamet menceritakan, Bupati Brebes Idza Priyanti kerap memesan sate blengong dagangannya. Terutama saat Lebaran. Sekitar 200 tusuk sate blengong dan 150 porsi kupat glabed.

Bapak dua anak itu menyebut Presiden Indonesia Ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono pernah mampir ke warung untuk mencicipi sate blengong. ’’Sekali. Waktu masih menjabat, kunjungan ke Alun-Alun Brebes. Kaget juga sebelumnya, ada tentara yang datang untuk melihat proses masak dan nyobain sate,” ujarnya.

Sate blengong juga menjadi kuliner favorit Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Lengkap dengan kuah merah pedas. ’’Setiap kunjungan dinas ke Brebes tidak boleh dilewatkan. Buat yang lewat Brebes, harus coba itu,” ucap Ganjar saat dihubungi Jawa Pos akhir pekan lalu.

Ganjar menilai, dengan pemudik mampir dan jajan kuliner di pantura, itu sama saja dengan membantu pelaku usaha mikro dan kecil (UMK). Membantu para pedagang agar dapurnya tetap ngebul dan bayar sekolah anak. ’’Jajan dan rasakan uenaknya. Ada juga produk UKM yang berkualitas, silakan dibeli untuk dinikmati atau untuk oleh-oleh,” katanya. (*/c7/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: