Dewan Adat : Hati – Hati Masuknya Budaya Luar

By

JAYAPURA – Perkembangan jaman dari dulu sulit dihindari, kemajuan teknologi juga tak bisa dibendung. Satu yang nyata adalah masivenya penggunakan smart phone yang setiap hari harus ditengok, harus dicas sehingga tak sadar tentang apa yang hampir hilang. Jika ini terus terbiar maka ada banyak dampak negatif, salah satunya terkikisnya nilai – nilai budaya. Ini dianggap Sekretaris II Dewan Adat Papua, John N.R Gobai  bahwa ada kondisi yang perlu dilihat ke belakang terkait tradisi dan budaya apa saja yang saat ini perlahan – lahan mau hilang.

John menyebut ini bisa dimulai dari merekonstruksi bahasa ibu meski ada banyak hal yang harus diperbaiki. “Kita memulai dari bahasa. Saya khawatir anak – anak jaman sekarang satu saat akan melupakan bahasa ibu mereka,” kata Gobai, Senin (27/7). John berpendapat perlu penetapan hari khusus untuk bahasa dan budaya asli Papua. “Saya pikir perlu ditetapkan sehari dalam sebulan atau seminggu untuk bahasa masing – masing suku. Bisa dengan memutar lagu asli Papua dan seni tari asli Papua atau memasyarakatkan warga untuk bertutur,” katanya.

Ini dengan sendirinya akan diikuti dengan tarian atau kearifan lokal lainnya. John berpendapat bahwa ada banyak hal baru dari luar yang pelan pelan telah menggeser nilai seni budaya dan tradisi . “Kita akan hanyut jika tak segera menata. Pengaruhnya sangat kuat, sebagai buktinya coba saja tanyakan kepada anak – anak generasi sekarang apakah mereka paham bahasa ibu mereka,” beber Gobai.  Ia menyinggung saat ini sangat sulit mendengar orang menyanyikan lagu bahasa daerah. Yang terdengar lagu dari luar yang tak ada kaitannya dengan budaya di Papua atau Jayapura.

“Kemana-mana lagu yang diputarkan adalah lagu-lagu  dari luar Papua, lagu yang sifatnya erotis, lagi asing yang tidak dipahami namun direspon. Anak – anak lebih mudah menghafal dan merekam lagu yang  mereka tak paham artinya. Saya pikir soal identitas itu tak bisa dipungkiri. Kita paham dimaa pusar kita ditanam dan air apa yang kita minum,” jelasnya. “Saya berharap fungsi dewan kesenian bisa kembali dihidupkan,” imbuhnya.

Gobai berpendapat bahwa DPRP perlu berinisiatif melakukan perubahan Perdasus No 16 Tahun 2008 tentang Pembinaan dan Perlindungan Kebudayaan Asli Papua dan setelah ini diberlakukan maka ada kewajiban untuk upaya pelestarian. “Semoga tak ada budaya yang hilang karena ketidakpahaman dan sikap tidak peduli,” pungkasnya. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: