Di Boven Digoel, Banyak Guru Tinggalkan Tempat Tugas

By

BOVEN DIGOEL-Permasalahan pendidikan terutama tenaga pendidik yang selalu menjadi sorotan karena sering meninggalkan tugas dalam waktu yang panjang tidak hanya terjadi di Kabupaten Merauke sebagai kabupaten induk, namun juga terjadi di Kabupaten Boven Digoel. 

   Ketua Umum LMA Kabupaten Boven  Digoel  Maret Klaru kepada  bupati Boven Digoel  dan Wakil Bupati Boven Digoel Hengky Yaluwo-Lexi Romel Wagiu agar membenahi masalah pendidikan. Karena banyak sekolah  yang tidak operasional karena ditinggalkan gurunya.

   Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten  Boven Digoel  Mathias Kainon, S.Pd, M.Pd dikonfirmasi  mengakui hal tersebut. Menurut Mathias, dirinya tercatat sudah 2 tahun dipercayakan di Dinas Pendidikan tersebut dan sebelum pandemi Covid  dirinya telah berkeliling di beberapa distrik dan kampung terutama distrik jauh Yeniruma. 

   “Memang guru-guru tidak ada di tempat. Setelah saya telusuri  ternyata banyak masalah dan kendala yang kita hadapi di lapangan,” kata  mantan guru  tersebut. 

   Sejumlah kendala  yang dihadapi para  guru  dilapangan diantaranya perumahan guru yang belum ada.   Kedua, masalah pembayaran honor guru yang selama ini dan masih berlaku dengan sistem pembayaran triwulan. Biasanya  honor guru tersebut baru dibayarkan pada bulan ke-10. Kendala lain, lanjutnya  adalah masalah keamanan  guru. 

   “Masalah lain yang kita lihat adalah masalah biaya transportasi  yang mahal dan sejumlah persoalan lain. Hal ini membuat guru terutama guru kontrak dan guru honor  yang sebagian besar ada di SD  mengalami kesulitan tinggal di  kampung-kampung. Ini beda dengan guru SMP yang ada di distrik-distrik dan guru SMA yang ada distrik dan kabupaten,” terangnya. 

    Mathias menjelaskan bahwa dirinya sudah bahas bersama dengan DPRD Boven Digoel untuk mencari solusi permasalahan  yang dihadapi  tersebut. Salah satu  solusinya adalah sistem pembayaran honor harus dirubah regulasinya yakni  dibayar setiap bulannya. “Logikanya orang makan baru kerja. Kalau sistemnya triwulan, lalu dibayar pada bulan ketiga, keenam dan ada bahkan bulan kesepulu. Minta maaf  tahun lalu, guru kontrak dari provinsi baru dibayarkan pada bulan Oktober. Ketika menerima uang hanya habis dipakai  bayar utang. Sisanya paling dalam 1-2 bulan kemudian sudah habis lagi. Ketika kehabisan uang maka disitulah mereka meninggalkan tempat tugas,’’ katanya. 

  Masalah rumah guru juga sangat penting. Karena menurutnya yang bisa tinggal di pedalaman hanya tenaga guru. Sementara ASN atau pegawai distrik, hanya patroli ketika ada uang. Tapi kalau tidak uang maka kembali tinggal di distrik. “Tapi yang bertahan di kampung-kampung pegawai pemerintah hanya guru. Bagaimana kita bisa menekan guru untuk  bertahan tinggal di kampung. Ini bukan persoalan tinggal 2-3 hari, tapi bertahun-tahun. Kalau rumah tidak ada ini juga masalah. Bagaimana mereka bawa anak istri,’’ terangnya. 

   Masalah lainnya, lanjut dia, adalah soal makan minum. Dimana para guru sering mengalami kesulitan ketersediaan makan. Karena sebagian dari guru tersebut terbiasa makan nasi. “Sementara di kampung-kampung masyarakat terbiasa makan  dengan apa yang disediakan alam seperti sagu, pisang dan petatas. Ini membuat banyak guru tidak betah. Jadi banyak faktor yang membuat  guru tidak betah tinggal di kampung,” jelasnya. 

  Karena itu,  tambahnya masalah yang dihadapi guru  ini  harus secara bertahap dibenahi mulai  dari ketersediaan rumah dinas di sekolah. (ulo/tri)   

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: