Di Laut Bahaya Gelombang Tinggi, di Darat ibarat Survival di Hutan

By

Menyusuri Jalur Laut dan Darat Mengawal Pembangunan IKN

Patroli laut TNI-AL tak hanya mengantisipasi kondisi darurat, tapi juga berkomunikasi dengan tiap kapal yang melintasi perairan di sekitar IKN. Adapun Polri, selain mengawal logistik, berjaga di titik nol saat akhir pekan yang biasa ramai pengunjung.

ILHAM WANCOKO, Balikpapan

KAPAL Sea Rider 08 Lanal Balikpapan yang dipimpin Dankal Sepinggan Lettu Laut (P) Dedy Yuniar membelah ombak dengan cepat. Mereka berpatroli untuk memastikan keamanan jalur laut menuju Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. 

Dari Pelabuhan Balikpapan, Kalimantan Timur, menuju ke dermaga terdekat dengan IKN Nusantara, jaraknya sekitar 17 mil atau 31 km. Jarak tersebut ditempuh sekitar 45 menit hingga 1 jam dengan kapal Sea Rider yang kecepatannya diatur sekitar 20 knot.

Ombak kian menantang setelah berada di tengah Teluk Balikpapan. Serasa menunggangi kuda. Jawa Pos turut duduk di salah satu kursi kapal. Bayangan petualangan sempat menghinggapi. Tapi, begitu ombak lebih tinggi, imajinasi itu langsung bubar jalan. Ketakutan yang lebih menyeruak. 

Dalam perjalanan, sempat terlihat beberapa pulau kosong yang rimbun oleh pohon bakau. Setelah hampir 45 menit, tampaklah salah satu dermaga terdekat dengan IKN Nusantara. Dermaga terbuat dari kayu yang bisa mengapung karena dilandasi dari drum plastik. Sederhana. Tapi, cukup aman. 

Yang cukup membikin waswas hanya tulisan yang terbaca jelas: awas ada buaya. Disertai dengan sebuah foto hewan purba itu. Gambarnya memang tampak sudah usang, bisa jadi ingin memberikan peringatan agar lebih waspada. ’’Walau saya tidak pernah melihat ada buayanya,’’ ujar Dedy. 

Tim yang dipimpin Lettu Laut Dedy seminggu lima kali berpatroli. Seiring dengan penguatan Lanal Balikpapan, patroli laut juga terus meningkat. Dari semula seminggu tiga kali. ’’Jalur patroli laut ini juga merupakan jalur laut menuju ke IKN Nusantara,’’ jelasnya. 

Jadi, bila ada masyarakat yang ingin ke IKN melewati jalur laut, tentu menggunakan jalur yang sama. Berlabuh di dermaga yang sama pula. 

Selain patroli laut Lanal Balikpapan, ada penguatan di patroli laut dengan KRI yang BKO Gugus Tempur Laut (Guspurla) dan Gugus Keamanan Laut (Guskamla) Koarmada II. Salah satunya, KRI Sultan Hasanuddin 366 yang sudah beberapa waktu sandar di Pelabuhan Balikpapan.

 ’’Sesuai instruksi KSAL Laksamana TNI Yudo Margono, ditingkatkan kehadiran TNI-AL di perairan Balikpapan,’’ papar Asops Danguspurla Koarmada II Kolonel Laut (P) Rafael Dwinatu A.P. 

KRI Sultan Hasanuddin 366 merupakan kapal perang jenis perusak kawal berpeluru kendali milik TNI-AL. Memiliki kemampuan antikapal permukaan, antikapal selam, dan antipesawat udara. Kehadirannya tentu dimaksudkan memberikan rasa aman di perairan Balikpapan yang merupakan pintu gerbang menuju jalur laut IKN.

Beberapa bulan lalu, misalnya, KM Ladang Pertiwi tenggelam akibat cuaca buruk saat sedang berlayar dari Makassar menuju Pulau Lima. Begitu menerima informasi, KRI Sultan Hasanuddin 366 langsung berupaya membantu. 

KRI Sultan Hasanuddin memetakan terlebih dahulu arus laut di lokasi yang diprediksi menjadi titik tenggelam kapal. Arus laut saat itu 12 jam ke selatan dan 12 jam ke utara. 

Setelah dihitung, KRI Sultan Hasanuddin segera menuju ke lokasi yang diprediksi. ’’Benar saja, kami temukan empat korban penumpang,’’ jelasnya. 

Dua dari empat korban yang diselamatkan seorang ibu-ibu dan anaknya. Mereka terombang-ambing dan bersandar hanya ke gabus atau styrofoam. Dari jarak yang cukup dekat, tampak mereka melambai-lambai. Awak KRI Sultan Hasanuddin 366 langsung menurunkan sekoci. 

Komandan Pangkalan TNI-AL (Danlanal) Balikpapan Kolonel Laut (P) Rasyid Al Hafiz menambahkan, patroli laut yang dilakukan tidak hanya mengantisipasi kejadian darurat. Di lapangan, setiap personel yang patroli laut juga berkomunikasi dengan setiap kapal, termasuk kapal pendukung logistik IKN. Saat komunikasi itulah, personel TNI-AL sembari bertanya mungkin ada kendala tertentu yang bisa dibantu. ’’Jadi, kami komunikatif dan tidak hanya menunggu,’’ jelasnya. 

Setelah menyusuri jalur laut, Jawa Pos juga menempuh jalur darat untuk mengetahui kondisinya. Dari Balikpapan hingga ke Penajam Paser Utara, kondisi jalanan sudah sangat baik. Terdapat jalan tol yang bisa digunakan untuk memangkas waktu tempuh. 

Tantangan baru muncul saat tiba lokasi pembangunan IKN, Penajam Paser Utara. Jalannya masih tanah bercampur batu. Namun, sudah layak untuk ditempuh sepeda motor, mobil, dan truk. Hanya, saat hujan, kondisi jalanannya bakal cukup licin. 

Sepanjang mata memandang, tampak pepohonan pinus. Sejumlah anggota Satgas IKN Polda Kalimantan Timur tampak berjaga di pintu gerbang. 

Mereka lantas berpatroli ke tiga segmen pembangunan. Pembangunan saat ini masih fokus ke infrastruktur jalan. Mereka berupaya membantu kelancaran pembangunan tersebut dengan mengawal dan mencegah terjadinya gangguan keamanan. 

Salah satu yang telah terbangun adalah Titik Nol Nusantara. Sebuah kawasan yang menjadi titik pusat untuk penentuan jarak dari IKN ke daerah di sekitarnya. 

Kondisinya sangat rapi, dengan sebuah pendapa yang bergaya khas Kalimantan. Dengan lantai yang sudah berkonblok. Lalu, titik nolnya berada di daerah yang menurun dan untuk sampai ke sana melewati puluhan anak tangga. 

Area titik nol itu dibangun berbentuk bulat. Dengan tempat duduk di sekitarnya, sebuah tulisan Titik Nol Nusantara, dan tepat di tengah area terdapat sebuah patok. Patok itu bertulisan titik kontrol geodesi 0 IKN. 

Kondisi cukup ramai saat itu, Sabtu (9/7) dua pekan lalu. Panit 6 Subbagrenmin Ditbinmas Polda Kaltim Ipda Zuhardi Edy Basir mengatakan, saat akhir pekan biasanya petugas menjaga titik nol karena jumlah pengunjung meningkat. ’’Tapi, biasanya kami mengawal pembangunan dan pengiriman logistik,’’ urainya. 

Untuk pengawalan logistik, terkadang ada pengiriman logistik dari salah satu pelabuhan warga, yakni Pelabuhan BUMDes Bumi Harapan, Penajam Paser Utara. Sebelum logistik dibongkar muat di kapal, petugas telah siap di pelabuhan. 

Logistik itu kemudian dikawal hingga ke lokasi pembangunan IKN. Selama ini belum ada kejadian menonjol yang terjadi. ’’Hanya suka dukanya seperti survival di hutan,’’ terangnya. 

Tim tinggal di sebuah mes yang terletak 3 kilometer dari pintu gerbang IKN. Mes tersebut dikelilingi kebun dan hutan. ’’Masih sangat asri,’’ ujarnya. 

Saat awal-awal berada di sana, banyak hewan yang kerap bermunculan. Dari monyet yang berlarian di atap, kura-kura, hingga ular. Pernah ada ular yang muncul saat salah seorang anggota sedang mandi. ’’Ular hitam bercincin kuning. Ya kaget, tapi lalu dipindahkan,’’ ungkapnya. (*/c17/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: