Dihadang 10 Orang Bersenjata Laras Panjang, Parang dan Panah

By

Sudarmin salah satu korban penembakan KKB di Kabupaten Nduga saat dibesuk Penjabat Bupati Nduga, Namia Gwijangge di RSUD Mimika, Minggu (17/7). (FOTO: Selvi/Cepos)

Kisah Sudarmin Salah Satu Korban Selamat Kebrutalan KKB di Kabupaten Nduga

Sudarmin merupakan salah seorang warga sipil yang selamat dalam aksi brutal Kelompok Kriminal Bersenjata pimpinan Eugianus Kogoya di Kabupaten Nduga, Sabtu (16/7).  Bagaimana kisah Sudarmin yang lolos dalam aksi sadis KKB akhir pekan kemarin ?

Selviani Bu’tu, Timika

SELASA 12 Juli 2022 lalu, kapal bermuatan barang berupa sembako tempat Sudarmin bekerja sebagai salah satu awak kapal, berangkat dari Pelabuhan Pomako Timika, Kabupaten Mimika. Kapal tersebut berlayar ke Kabupaten Nduga.

Normalnya, kapal tempat pria kelahiran tahun 1983 ini bekerja tiba di dermaga Batas Batu, Kabupaten Nduga paling lambat, Kamis (14/7). 

Seperti biasanya perjalanan dari Pomako Timika ditempuh selama satu malam dua hari. Tapi karena kondisi cuaca sehingga kapal tertahan di muara dan baru berlabuh di dermaga, Jumat (15/7). 

Hari itu juga, begitu kapal sandar di dermaga, barang muatan kapal langsung dibongkar oleh Sudarmin dan rekan-rekannya untuk diangkut ke Keneyam ibukota Kabupaten Nduga. 

Dengan menggunakan truk, Sudarmin serta beberapa rekannya membawa barang muatan kapal ke Keneyam. Perjalanan diperkirakan sekira sejam. 

Selepas mengantar barang, Sudarmin dan rekan-rekannya tidak langsung kembali namun masih bermalam di Keneyam. Aktivitas pengangkutan barang ini dilakukan dua  kali atau kadang sekali dalam sebulan. 

Setelah menginap semalam di Keneyam, Sabtu (17/7) pagi sekira pukul 9.30 WIT, Sudarmin dan rekan-rekannya kembali ke dermaga tempat kapalnya sandar.

Namun saat hendak turun ke dermaga Batas Batu, Sudarmin dan rekan-rekannya sempat diperingatkan warga agar tidak turun ke dermaga.

“Waktu mau turun sebenarnya ada masyarakat yang sudah memberi tahu. Katanya, jangan dulu turun karena ada bunyi tembakan,” ungkap Sudarmin saat ditemui Cenderawasih Pos di RSUD Mimika, Senin (18/7).

Peringatan warga untuk tidak turun ke dermaga, diabaikan oleh Sudarmin dan kawan-kawan. Saat itu, Sudarmin dan empat orang rekannya tetap turun ke dermaga menggunakan truk.

Dalam perjalanan ke dermaga Batas Batu, Sudarmin bersama rekannya Anwar duduk di bagian belakang (bak truk). Sementara di bagian depan, sopir, kondektur dan salah seorang penumpang.

Perjalanan dari tempatnya menginap di Keneyam awalnya berjalan aman dan lancar. Namun saat mendekati ujung kota tepatnya di Kampung Nogolait, truk yang ditumpangi Sudarmin tiba-tiba dihadang sekelompok orang. Seingatnya, ada lebih dari 10 orang. Dimama tiga di antaranya  membawa senjata laras panjang, selebihnya parang dan panah. 

Para pelaku penghadangan menurut Sudarmin, meminta mereka untuk mundur. Setelah itu, para pelaku meminta sopir truk turun dari mobil, lalu di tembak di tengah jalan. “Satu orang lagi, sudah terkena tembakan terlebih dahulu ketika masih di atas mobil,” bebernya,

Rentetan bunyi senjata laras panjang  membuat Sudarmin dan Anwar yang berada di bak belakang ketakutan. Mereka kemudian menunduk dan  mengambil terpal untuk membungkus badan. 

Meski sudah bersembunyi, namun satu peluru yang ditembakkan para pelaku menembus dinding bak truk yang mengenai tangannya dengan posisi ditekuk. 

Peluru menurut Sudarmin menyambar bagian lengan tangan sebelah kiri tembus sampai di pergelangan. Lengan bagian luar mengalami robek.  “Untung pelurunya tembus tidak kena urat nadi,” ucap Sudarmin yang Senin (18/7) kemarin sudah meninggalkan RSUD Mimika setelah mendapat perawatan sejak Sabtu (16/7).

.

Setelah memastikan kondisi sekitar aman, Sudarmin bersama Anwar rekannya yang sama sekali tidak terluka langsung berlari mencari pertolongan. Ia berlari sekitar 500 meter. Beruntung saat menyelamatkan diri meninggalkan truk yang ditumpanginya, sudah ada rekannya yang menunggu dan langsung dibawa ke Puskesmas Keneyam. 

Sudarmin bersyukur bisa selamat dari penyerangan KKB. Meski begitu, ayah dari satu orang anak ini mengaku akan tetap kembali ke Nduga untuk menekuni pekerjaan yang sudah dijalankannya kurang lebih enam tahun terakhir. “Itu biasa. Kalau bawa kapal ke pelabuhan tidak apa-apa karena di situ aman. Tapi kalau terus ke Keneyam itu yang mungkin kita lihat dulu,” tutupnya sembari tersenyum.(ryu/nat)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: