Disinyalir Sindikat Narkotika Dikendalikan dari Lapas

By

Kombes Pol Alfian ketika menunjukkan sabu – sabu dan pil dextro yang  berhasil diamankan Satnarkoba Polda Papua pada jumpa pers  Rabu (23/3). Pihaknya menduga saat ini peredaran narkoba jenis sabu masih dikendalikan dari Lapas Narkotika, Doyo, Kabupaten Jayapura. (FOTO:Game/Cepos)

JAYAPURA-Direktur Satnarkoba Polda Papua, Kombes Pol Alfian  menyampaikan  pihaknya masih mensinyalir  jika peredaran narkoba jenis sabu – sabu di  Papua, khususnya di Jayapura masih dikendalikan  dari dalam Lapas Narkotika di Doyo, Kabupaten Jayapura. 

   Ada narapidana yang sedang menjalani proses hukuman yang mengendalikan menggunakan Hp. Ini bukan tidak pernah ditemukan, namun selalu terjadi. Alfian menyatakan pihaknya sudah pernah  melakukan operasi di Lapas tersebut, namun informasi nampaknya bocor, sehingga tidak ditemukan barang bukti yang menjadi target. 

   “Kami mensinyalir hingga kini jaringan itu masih ada. Jaringan dari mereka yang tertangkap dan jadi tahanan di Lapas Narkotika, masih ada yang mengendalikan dan itu dari dalam Lapas. Kemarin sempat ada yang kami ungkap baik dari Lapas Doyo maupun jaringan terhubung dengan Lapas di Jawa Timur,” kata Alfian menjawab pertanyaan Cenderawasih Pos, Rabu (24/4) di Dok V Jayapura.  

 Alfian menyatakan bahwa narkoba yang dikendalikan dari dalam Lapas ini cukup menyulitkan untuk diungkap mengingat ketika didatangi, para pelaku ini langsung menyimpan, mengemas barang-barang yang menjadi penghubung, semisal Hp. 

  “Jadi kesulitan kami itu dimana ketika kami masuk (gerebek), ternyata sudah bocor. Bocor akhirnya semua beberes dimana Hp yang bisa dijadikan barang bukti sebagai penunjuk informasi juga hilang,” ujarnya. 

  Namun disini ia memastikan jika  kecurigaan terhadap para pelaku yang bermain dari dalam ini akan terus didalami. Termasuk jika melibatkan oknum-oknum dari pihak Lapas sendiri. 

 “Yang ditangkap Polres Jayapura, semua  dikendalikan dari dalam Lapas. Dan itu ada kaitannya dengan Lapas di Jawa Timur, hanya mereka belum tahu siapa pemiliknya karena mereka tidak saling mengenal,” sambung Alfian. 

   Pihaknya sendiri sudah melakukan pengembangan di Jawa Timur, namun alamat tidak sesuai kemudian di Jawa Timur sulit mendapat informasi dari masyarakat karena tertutup. “Lalu jika dilakukan penangkapan harus banyak personel, karena mereka saling melindungi,” akunya.   

   Disinggung soal sosok pemain kelas kakap, kata Alfian, saat ini  Papua kami pihaknya belum menemukan sosok kelas kakap masih kelas-kelas teri. “Belum  ada pemain besar, tapi pengguna rata-rata  digunakan di Timika, daerah tambang dengan alasan untuk bekerja. Mereka gunakan sabu-sabu agar bisa kerja pagi hingga malam,” tutupnya.  (ade/tri)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: