Dulu Ingin Jualan Koran, Kini Ditelepon Ketemu Jokowi

By

Ngobrol Bareng  Letda Laut (P) Always Giving H. Tiris Alumni SMN 5 Jayapura Peraih Adhi Makayasa AAL

Buah sebuah ketekunan dan tekad yang dibalut dengan takut akan Tuhan ditunjukkan Alex Tiris dan Dermawaty Panjaitan. Pasangan suami istri ini patut berbangga, sang anak Always Giving Hamonangan Tiris berhasil menjadi taruna Akademi Angkatan Laut (ALL) terbaik dan menerima penghargaan Adhi Makayasa 2021. 

Laporan: Abdel Gamel Naser – Jayapura 

KEDIAMAN semi permanen yang berada di lereng gedung SMA Kalam Kudus, Polimak Jayapura menjadi saksi bisu perjuangan pasangan suami istri Alex Tiris dan istrinya Dermawaty Panjaitan dalam mendidik dan membesarkan anak mereka. 

Meski dengan kondisi sangat sederhana namun dari rumah itulah sebuah mutiara muncul. Sang anak, Always Giving Hamonangan Tiris berhasil meraih penghargaan Adhi Makayasa yang diberikan KSAL, Laksamana TNI Yudo Margono pada 23 Juni lalu. 

Tak hanya itu, Always juga dihubungi untuk mempersiapkan diri menemui Presiden Jokowi guna menerima penghargaan langsung di Jakarta pada 13 Juli 2021 dan semua terwujud. 

 Tak ada yang pernah menyangka sebuah rumah berukuran 8 x 10 meter yang berada di lereng yang curam  menjadi tempat lahirnya sosok hebat.  

Di rumah yang awalnya bercat kuning dan belum diplester ini menjadi kediaman pasangan suami istri yang sebelumnya memutuskan menikah di Jakarta. 

Rumah tersebut memang  dikelilingi dinding namun sebagian besar belum diplester. Belum memiliki plafon dan tak berkeramik, serta tak ada ranjang. Semua Kasur digelar di lantai yang dialasi karpet atau tikar. Namun didikan tegas sang ayah dan ibu, berbuah manis dimana lima anak lahir dengan karakter yang bersahaja. 

Alex Tiris sendiri bukan pekerja kantoran. Ia hanya seorang juru parkir di depan Bank Mandiri Cabang Jayapura. Sementara istrinya berjualan minuman dingin di sekolah. Meski dengan pendapatan terbatas namun keduanya mampu menyekolahkan kelima anaknya dan menjadikan sebagai sosok yang memiliki karakter hebat. 

Alex Tiris memang bukan juru parkir biasa. Ia dikenal jujur, tekun dan tak pernah mengeluh. Bahkan Wali Kota Jayapura, Dr. Benhur Tomi Mano, MM., mengakui itu. “Saat saya klik berita online soal Always Giving, yang muncul wajah Pa Alex dan saya langsung ingat bahwa ia pegawai saya di lapangan, yang mengurus parkir. Beliau ini orangnya jujur dan  tertib. Beliau juga membantu saya mengatur parkir liar dulu,” kenang Benhur Tomi Mano saat mengunjungi kediaman Alex Tiris ketika dilakukan peresmian bedah rumah beberapa waktu lalu. 

Cenderawasih Pos mendapatkan sedikit cerita awal Alex Tiris berjuang di ibu kota, Jakarta. Pada Tahun 1979 setelah putus sekolah SMA di Jayapura, Alex Tiris memilih merantau ke Jakarta. 

Alex merantau untuk mengembangkan bakat olahraga tinjunya. Namun saat itu karir tinjunya tidak berkembang dan iapun harus memilih untuk tetap bertahan hidup di Jakarta. 

Dirinya diperhadapkan dengan kehidupan Jakarta yang keras dan akhirnya sempat depresi  hingga akhirnya ditampung di GPdI Pelita Kasih Cibubur Jakarta Timur dan dilayani sampai pulih. 

Menariknya dengan kondisi masih dititik nol ini, Alex menggelar pernikahan dengan Dermawaty Panjaitan di sebuah hotel bintang lima. Ini tak lepas dari kemurahan hati seorang direktur bank yang dijamah Tuhan ketika mendengar kesaksian Alex Tiris dalam suatu pelayanan di Jakarta.

Lalu setelah kelahiran anak kedua yang diberinama Aldrey Tiris tahun 1995, Alex mulai berpikir untuk pulang ke Jayapura. Awal tahun 1998, ia memboyong istri dan anaknya hijrah ke Jayapura. Di Jayapura ia mulai kerja serabutan dari pengumpul besi tua, barang-barang bekas, tukang bangunan, tukang ojek hingga angkut – angkut barang dagangan orang di pasar. 

Pekerjaan lainnya adalah penginjil atau misionaris. Ini  dilakukan tanpa henti dan Rumah Sakit jiwa Abepura adalah tempat yang paling sering dikunjungi untuk mendoakan orang – orang gangguan jiwa. 

Kemudian tahun 2005,  ia dipertemukan dengan Yance Awom seorang tukang parkir yang kemudian menawarkan Alex sebagai juru parkir di Jalan Ahmad Yani, Kota Jayapura. Seluruh hasil pertama atau buah sulung dari pekerjaan tukang parkir ini, Alex persembahkan semuanya untuk Tuhan. 

Alex Tiris dan istrinya Dermawaty Panjaitan sudah dikaruniai 5 orang anak yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Always Giving sendiri merupakan anak ketiga dimana kakak pertamanya adalah Joel M. Tiris kemudian Aldrey Tiris (Letda Mar) taruna AAL angkatan 63 tahun 2018 dan saat ini berdinas di Lanmar Sorong. Kemudian dua adiknya, Alvito Tiris dan Aira Tiris. 

Cenderawasih Pos akhirnya berhasil membuat janji dan mewawancarai Always Giving di kediamannya dan sama seperti yang dibicarakan orang bahwa sang ayah sangat ramah. 

Saat Cenderawasih Pos bertandang ke rumahnya, Always Giving membukakan pintu dan menggeser kursi seraya mempersilakan duduk. 

Letda Laut (P) Always Giving Hamonangan Tiris,  S.Tr (Han) lahir di Jayapura 15 Maret 1999 dan mengenyam pendidikan sejak SD hingga SMA di Angkasa, Distrik Jayapura Utara. Ia pertama sekolah di SDN Angkasa, kemudian melanjutkan pendidikan SMPN 12 Angkasa dan SMAN 5 Kota Jayapura. Ini tak lepas dari arahan kedua orang tuanya yang menginginkan sang anak mendapat pendidikan di sekolah berkualitas. SMAN 5 Angkasa menjadi almamater Always Giving.

 Menariknya ia sendiri baru mengetahui soal AAL saat sekolah di Angkasa ini. Always menceritakan bahwa ketika ia duduk di kelas IX, pihak Lantamal X Jayapura mulai melakukan sosialisasi ke sekolah. Iapun mulai membaca brosur yang diterima hingga ketemu yang namanya taruna. 

Dirinya akhirnya tertarik hingga mulai membulatkan tekad bergabung dengan TNI. “Saat SMP saya hanya tahunya tentara. Tapi saat di SMA, barulah saya tahu ada darat, laut dan udara,” cerita Always di kediamannya. 

Iapun tak mengalami kendala saat mendaftar mengikuti seleksi penerimaan calon taruna. Sebab  setelah tertarik, iapun mempersiapkan diri. Fisik yang utama. 

 “Untuk mendaftarnya juga tidak sulit sebab saya sudah mempersiapkan diri dan tahu step – stepnya,” katanya.  Hingga ia dinyatakan lulus SMA tahun 2017,  kemudian  mendaftar dan dinyatakan lulus. Alwayspun berangkat mengikuti pendidikan di Magelang, Jawa Tengah selama 1 tahun 5 bulan. 

Setelah dari Magelang, ia mulai bergeser ke matra masing – masing dimana untuk laut arahnya ke Surabaya. 

Di Surabaya Always mengikuti pelatihan selama 3 tahun dan ketika itu hanya Always yang satu – satunya anak Papua. Meski demikian pria yang menyukai banyak macam olahraga ini mengaku tidak berat mengikuti pendidikan ataupun pelatihan. Karena baginya, jika sudah diniati dari awal maka pasti bisa dijalani. Ia meyakini jika  tujuan sudah dilandasi dengan niat maka semua  pasti bisa diwujudkan asal ada keseriusan, keyakinan dan berdoa. 

Always justru merasa yang berat selama ia menjadi taruna adalah menahan rasa rindu terhadap keluarga. Bukan tanpa alasan,  siapapun tahu yang namanya sedang menjalani pendidikan di TNI semua komunikasi ke luar dibatasi. “Nanti setelah 3 hingga 6 bulan baru bisa pesiar, refreshing dan di situ kami bisa menghubungi keluarga, boleh menggunakan handphone,” bebernya.

 Adaptasi Always selama menjadi taruna terasa lebih cepat mengingat ketika ada waktu luang, ia memilih ngumpul bareng senior. Disinilah ia mendapat banyak cerita dan masukan yang dianggap sangat membantu saat pelatihan.  Untungnya Always  menyebut bahwa seluruh teman – temannya termasuk seniornya memiliki pemikiran yang maju dan terbuka. Tidak terlalu kaku soal komunikasi dengan siapapun termasuk yang berasal dari daerah. 

“Teman – teman berpikir terbuka sehingga tidak ada perbedaan kesukuan. Semua dianggap keluarga karena sedang berjuang bersama dan kalau kami mendapat waktu refreshing,  biasanya saya lebih pilih olahraga. Di tempat kami juga ada gedung untuk taruna berkreasi sehingga yang punya bakat bisa dikembangkan,” beber Always.

 Always pun menceritakan kegiatan hariannya yang mana diawali dari PHST atau Perintah Harian Sifat Tetap, dimana ini yang menjadi dasar mengatur kegiatan seluruh taruna mulai bangun hingga tidur. Pagi bangun pukul 03.30 WIB  kemudian olahraga pagi pukul 04.00 – 05.00 WIB. 

Setelah  itu pukul  05.00 – 06.00 WIB persiapan mandi dan mengecek semua kesiapan. Kemudian sarapan pagi diberi waktu hingga pukul 06.30 WIB dan pukul 07.00 apel pagi. 

 “Setelah itu kami menuju ke kelas pembelajaran hingga pukul 11.45 WIB dan dilanjutkan dengan ibadah serta makan siang pukul 12.45 WIB. Kami masuk lagi pukul 13.00 WIB  dan terkadang lanjut masih dilanjutkan dengan belajar atau kembali ke gedung hingga pukul 14.45 WIB,” urai Always. 

Kemudian dilanjutkan salat ashar dan olahraga sore hingga selesai pukul 16.45  WIB dan pembersihan dan 17.45 WIB salat magrib hingga 18.30  WIB  dan makan malam. Selesai salat isya barulah belajar malam hingga  dilanjutkan pukul 20.00 malam mulai ronda malam higga pukul 21.00 WIB.  “Setelah itu barulah istirahat,” sambungnya. 

Selama rutinitas yang padat ini tak jarang anggota taruna juga membuat kesalahan atau pelanggaran. Biasanya yang sering terjadi adalah penampilan tidak rapih maupun salah berkomunikasi dengan senior. Ya sanksinya adalah push up, lari sprint atau yang lainnya. Ironisnya jika salah dalam melakukan gerakan atau dianggap kurang biasanya dimulai dari nol. “Saya pernah telat bangun dan lagsung disuruh lari sprint. Kalau tidak sesuai waktu ya disuruh balik dan kalau gagal ya push up, begitu saja,” kenang Always.

Selama 3 tahun lebih ini, ia sendiri tidak pernah menyangka bahwa akan  terpilih menjadi taruna terbaik. Pasalnya ia hanya melakukan apa yang sudah dijadwalkan dan diperintahkan pembina maupun senior.  Always juga meyakini anak Papua siapapun pasti bisa selama mau mempersiapkan diri mengingat iapun sudah melalui.  

Hanya diakui selama tinggal bersama orang tua di Jayapura ada pendidikan moril yang diberikan. Bagaimana memulai hari dengan doa kemudian sekolah dan disiplin. Namun melihat kondisi ekonomi  orang tuanya yang pas – pasan, ketika itu Always mengaku sempat terpikir olehnya untuk membantu meringankan beban kedua orang tua. 

“Ia waktu SMA saya sempat berpikir untuk menjual koran. Membantu orang tua dan  hitung – hitung kalau sehari bisa dapat Rp 20 ribu tentunya bisa dipakai untuk uang taksi,” kenang perwira balok satu ini.  

Namun saat itu, sang ayah melarang untuk bekerja. Pesan yang ia ingat adalah dirinya hanya boleh belajar dan belajar sedangkan urusan mencari uang serahkan semuanya kepada kedua orang tuanya meski harus banting tulang hujan panas. “Itu yang saya ingat, saya tidak boleh bekera karena tugas saya hanya sekolah dan belajar. Ayah ibu saya juga mengajarkan karakter takut akan Tuhan serta bekerja keras dan harus memiliki komitmen  serta prinsip. Prinsip itu adalah menjauhi hal yang tidak benar dan apapun yang dilakukan harus dilaksanakan dengan maksimal,” ucap Always. 

“Saya pikir siapa saja bisa, anak Papua siapa saja bisa berprestasi asal diawali dengan niat,” sambungnya.

 Lalu yang disyukuri selama jauh dari orang tua adalah ia termasuk taruna yang jarang sakit. Ini menurutnya tak lepas dari pembinaan seniornya yang suka menggenjot fisik. 

Always bahkan mengaku kuat berlari keliling Stadion Mandala dalam waktu 12 menit dengan sprint juga berlari selama 2 jam nonstop. Selama melanjutkan pendidikan di Jawa, Always mengaku akhirnya mulai terbiasa berbahasa Jawa. Iapun menyukai makanan rawon hingga suasana dan pergaulan yang dianggap positif. 

Saat ini, Always telah melewati Suspaja atau sekolah kursus perwira remaja selama 3 bulan di Surabaya di Armada II dan telah berkeliling menggunakan kapal laut. 

Always menceritakan bahwa ia sudah mencicipi berlayar bersama KRI Bima Suci. Ia juga pernah berlayar dari Tiongkok ke Brunei dan melewati laut Cina Selatan. Cerita Serunya adalah perjalanan ini harus dihajar ombak dan badai selama 3 hari. “Kapal miring, kecipratan air itu sudah biasa. Perjalanan itu tidak seberapa dibanding keliling 9 negara mulai dari Filipina, Jepang, Korea, China, Brunei, Malaysia, Thailand, Vietnam, kemudian masuk ke Bali  dan melanjutkan ke Australia dan pulang ke Banyuwangi dan finis di Surabaya. “Itu selama waktu 3 bulan,” kenangnya.   

Selama berlayar ini diakuinya yang sulit dilupakan adalah ketika dilakukan parade roll atau berdiri di tiang –  tiang kapal.  Itu menurutnya tidak mudah karena membutuhkan fisik yang baik mengingat titik untuk berdiri ada yang 12 meter namun ada juga setinggi 33 meter. “Dalam parade roll ini saya pernah 2 jam lebih berdiri di tiang,” ucapnya bangga. 

Tak hanya itu, Always juga pernah bertemu dengan kru KRI Nanggala sebelum tenggelam. “Ia kejadian itu membuat seluruh prajurit bersedih, mereka seperti orang tua yang memberi motivasi bagaimana menjadi prajurit Angkatan Laut sejati,” kenang Always. (*)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: