Fenomena Es Beku Bisa Terjadi di Papua

By
Embun beku terlihat di Kawasan Wisata Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, Rabu (26/6/2019). Alih-alih menggangu, fenomena alam tersebut menjadi daya tarik tambahan bagi para wisatawan. Mereka selain disuguhi pesona alam pegunungan yang sudah terkenal, juga kabut membeku berupa es memutih yang menyelimuti lautan pasir, tanaman, dan rerumputan. Embun beku merupakan fenomena rutin setiap tahun Gunung Bromo, yang kerap terjadi saat musim kemarau. Diperkirakan kondisi ini berlangsung hingga Agustus mendatang. (ZAENAL ARIFIN / JAWA POS RADAR BROMO)

JAYAPURA-Suhu dingin yang menerpa beberapa wilayah di Pulau Jawa yang mengakibatkan terjadinya embun es, berpeluang terjadi di Papua khususnya di pegunungan tengah.

Fenomena embun es atau embun beku juga pernah terjadi di Kabupaten Lanny Jaya pada tahun 2015. 

Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah V Jayapura, Petrus Demon Sili melalui staf Sub Bidang Pelayanan Jasa, Septiana Monicasari mengakui bahwa fenomena embun es atau embun beku sudah pernah terjadi di wilayah pegunungan tengah Papua. 

“Hal itu, bisa saja terjadi namun pasti melalui beberapa indikasi atau gejala-gejala mengindikasikan kemunculannya,” jelasnya saat dihubungi Cenderawasih Pos vis ponselnya, Kamis (27/6). 

Dikatakan, hujan es (hail) merupakan fenomena turunannya hujan dalam bentuk butiran es. Fenomena ini biasa terjadi pada masa transisi musim atau pancaroba. 

Hujan es ini berasal dari terbentuknya awan konvektif cumulonimbus yang mengalami proses kondensasi uap air lewat pendinginan di atmosfer pada lapisan di atas titik beku.

Menurutnya beberapa indikasi terjadinya hujan es, misalnya satu hari sebelumnya udara pada malam hari hingga pagi hari terasa panas dan gerah. “Udara terasa panas dan gerah diakibatkan adanya radiasi matahari yang cukup kuat ditunjukkan oleh nilai perbedaan suhu udara yang disertai dengan kelembaban yang cukup tinggi dan ditunjukkan oleh nilai kelembaban udara di lapisan 700 mb (> 60%),” bebernya.

Selain itu mulai pukul 10.00 pagi terlihat tumbuh awan cumulus (awan putih berlapis-lapis). Di antara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu – abu menjulang tinggi seperti bunga kol. 

Tahap berikutnya awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu-abu/hitam yang dikenal dengan awan Cb (Cumulonimbus).

“Pepohonan di sekitar tempat kita berdiri ada dahan atau ranting yang mulai bergoyang cepat. Terasa ada sentuhan udara dingin di sekitar tempat kita berdiri. Biasanya hujan yang pertama kali turun adalah hujan deras tiba-tiba. Apabila hujannya gerimis maka kejadian angin kencang jauh dari tempat kita,” jelasnya. 

Menurutnya apabila dalam 1-3 hari berturut-turut tidak ada hujan pada musim transisi/pancaroba/penghujan, maka ada indikasi potensi hujan lebat yang pertama kali turun diikuti angin kencang baik yang masuk dalam kategori puting beliung maupun yang tidak

Dirinya mengakui bahwa fenomena ini biasa terjadi saat peralihan musim seperti pada bulan Maret, April dan Oktober hingga Desember yang diawali berbagai indikasi-indikasi awalnya.

Dampak dari turunnya hujan es menurutnya dapat melukai warga dan juga rumah warga apabila ukuran dari butirannya cukup besar. Selain itu juga merusak tanaman warga ataupun lahan pertanian sehingga mengakibatkan gagal panen. Kurangnya bahan pangan lahan yang rusak juga dapat menimbulkan korban jiwa.

“Intinya selalu wasapada setiap bencana yang ada dan jangan mudah percaya informasi yang bukan sumber terpercaya,” pungkasnya.(kim/nat)

Suhu dingin menerpa beberapa wilayah di Pulau Jawa. Salah satunya Dusun Cemoro Lawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Di daerah yang menjadi salah satu gerbang utama menuju kawasan Bromo itu, kemarin malam (26/6) suhu tercatat 8–9 derajat Celsius. Lebih rendah ketimbang sore yang masih berkisar 10 derajat Celsius. Namun, embun es tidak sampai menjangkau dusun tersebut.

Adit Pratama, warga suku asli Tengger yang bermukim di kawasan lereng Bromo, menyebutkan, embun es berpusat di laut pasir. ’’Salju itu tumpahnya di laut pasir atau orang-orang menyebut pasir berbisik,’’ ujarnya. Area perkebunan warga tidak sampai diselimuti butiran-butiran es tebal.

Para petani juga tidak menanam kentang pada musim yang sebetulnya masih masuk kemarau ini. Warga menggantinya dengan tanaman lain seperti daun bawang, kol, sawi, dan seledri. ’’Tidak sampai mengganggu atau merusak tanaman. Ada beberapa lahan yang memang kena es, tapi nggak seluruhnya,’’ ungkapnya.

Warga menjuluki kondisi saat ini dengan musim es atau banyu upas yang berarti air penyakit. Pasalnya, setiap tanaman yang terkena es akan seketika mengering dan tidak bisa tumbuh kembali.

Sulianing, istri ketua RT 05, Dusun Cemoro Lawang, mengungkapkan hal serupa. Dia menuturkan, warga di dusun yang memiliki ketinggian 2.200 mdpl itu terbiasa menanam kentang dan kubis pada periode November, sebelum musim hujan tiba, demi kesuburan tanaman. Lantas, mereka memanennya pada Maret–April.

’’Kalau salju musim kemarau gini, nggak berani nanam kentang,’’ ujarnya saat ditemui di rumahnya kemarin. Bagi Sulianing, embun es yang mampir setiap tahun itu tidak berpengaruh signifikan terhadap aktivitasnya sehari-hari. Setiap pagi dia tetap pergi berladang. ’’Warga di sini ya tetap kayak biasanya. Sabendinone lapo yo dilakoni iku,’’ ungkapnya. 

Sulianing juga menyatakan, warga tidak memiliki pantangan atau ritual tertentu ketika musim es seperti saat ini. ’’Yang bagus di musim es sekarang itu, bunga-bunga edelweis mekar. Nanti di bulan-bulan lain sudah nggak berbunga secantik sekarang,’’ katanya. (hay/c5/oni)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: