Festival Ulat Sagu Bagian dari Keaslian Masyarakat Adat

By

Bupati Mathius Awoitauw didampingi salah satu anggota DPR RI Robert Rouw, saat mencicipi sate ulat sagu disela-sela penutupan Festival Ulat Sagu di Kampung Yoboi, Kabupaten Jayapura,  Kamis (27/10)  kemarin. (FOTO: Robert Mboik Cepos)

SENTANI- Kembali ke Kampung. Slogan itulah yang seringkali disampaikan Bupati Jayapura Mathius Awoitauw dalam berbagai kesempatan. Dia tahu betul bahwa masyarakat adat hanya bisa hidup aman, sejahtera dan damai jika mereka kembali kepada kearifan lokal, budaya dan adat istiadatnya.

 Kamis (27/10) kemarin, orang nomor satu di Kabupaten Jayapura itu secara resmi menutup kegiatan Festival Ulat Sagu di Kampung Yoboi, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura yang sudah berlangsung selama tiga hari, yakni dari tanggal 25 Oktober lalu.

 Dia mengatakan, Festival Ulat Sagu sangat berhasil dan dia mengapresiasi inovasi yang ditunjukkan oleh masyarakat adat di kampung itu,  terutama anak-anak muda kreatif di kampung tersebut.  Mereka telah melakukan hal besar yang memberi dampak yang sangat baik kepada ekonomi di kampung, dengan memanfaatkan seluruh potensi yang ada di masyarakat itu sendiri.

“Festival Ulat Sagu ini adalah asli milik masyarakat adat dan ini adalah unik.  Festival ini sangat berhasil dan harus terus dipertahankan,” kata Mathius Awoitauw, Kamis (27/10).

Dia mengatakan slogan kembali ke kampung melalui program pemberdayaan masyarakat adat adalah satu harapan besar Bupati Mathius yang mengarah kepada pemberdayaan ekonomi masyarakat adat di kampung.  Masyarakat tidak harus menjual tanah,  tidak meninggalkan budaya dan adat istiadatnya.  Namun sebaliknya mereka kembali memaksimalkan apa yang ada di kampung dan dari sanalah terwujud pemberdayaan terhadap masyarakat adat itu sendiri. Mereka akan membangun dirinya sendiri dengan segala potensi yang dimiliki

“Ini harus tetap dipertahankan karena ini unik dan tidak ada di tempat lain.  Ini kreasi anak-anak kampung sendiri. Ini sangat luar biasa bahwa Kampung Adat  bisa membuat kreativitas-yang menakjubkan.  Tahun depan kita akan hadir lagi dan mungkin lebih semarak lagi,” imbuhnya.

 Lanjutnya, kegiatan itu merupakan aksi dari masyarakat adat dalam melakukan konservasi terhadap lingkungan.  Dari kegiatan itu pula telah berpotensi memberikan pemasukan ekonomi kepada masyarakat adat setempat. (roy/ary)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: