GPI Miliki Peran Mewujudkan Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Lebih Baik 

By

Wakil Menteri Agama Republik Indonesia Zainut Tauhid Sa’adi membuka Sidang Sinode GPI Papua X dan Musyawarah Pelayanan Kategorial V ditandai dengan pemukulan kandara, di Lapangan Mandala, Minggu (23/10). (foto: Sulo/Cepos)    

MERAUKE – Sidang Sinode GPI Papua X dan Musyawarah Pelayanan (Mupel) Kategorial V dibuka secara langsung Wakil Menteri Agama Republik Indonesia Zainut Tauhid Sa’adi di Lapangan Mandala Merauke, Minggu (23/10).

Sidang sinode dibawa sorotan tema kobarkanlah karunia Allah yang ada padamu dengan sub tema dalam keberagaman karunia, GPI Papua bertumbuh mnejadi gereja yang mandiri dan misioner ditengah zaman yang berubah ini diawali dengan ibadah  dilanjutkan dengan seremoni pembukaan.

Hadir Bupati Asmat Elisa Kambu, S.Sos, Wakil  Bupati Fakfak,  Uskup Agung  Merauke Mgr Petrus Canisius Mandagi, MSC dan Forkopimda dengan peserta sekitar 800  orang. 

   Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi dalam sambutannya mengungkapkan bahwa sidang  sinode ini merupakan forum tertinggi  dalam pengambilan keputusan dalam Gereja Protestan Indonesia (GPI)  di Ppaua. ‘’GPI Papua memiliki sejarah panjang dalam melayani umat dan masyarakat di Tanah Ppaua. GPI Ppaua telah berkembang menjadi organisasi gereja atau sinode yang matang dan termasuk  dalam sinode yang besar di Indnesia,’’ katanya. 

Dikatakan, kehadiran gereja di dunia secara umum di bumi  Indonesia jelas memilkiki tujuan ilahi. Gereja memiliki panggilan ilahi yang  mulia dan luhur untuk mencerahkan dan menerangi kehidupan kita dalam berbangsa, bermasyarakat dan bernegarta. Gereja sebagai kesatuan umat Kristiani, tidak bisa dilepaskan dari jati diri keberadaannya untuk mewartakan kerajaan Tuhan di tengah masyarakat.

Karena itu jelas dia,  pembaharuan relasi sosial berdasarkan ajaran sosial gereja harus selalu menjadi kekuatan dalam usaha membangun solidaritas keadilan dan perdamaian kristiani secara khusus juga dipanggil  dalam tugas menjadi bagian dalam masyarakat untuk memperhatikan dan merawat relasi sosial sehingga terjaga perdamiaan,kerukunan dan keamanan dalam kehidupoan masyarakat. 

    ‘’Terwujudnya  kehidupan masyarakat yang penuh damai, saling memperhatikan, gotong royong dan saling memuliakan merupakan kondisi dan lingkungan yang diperlukan untuk membangun kehidupan yang damai penuh dengan cinta kasih,’’ jelasnya.  

Dijelaskan, kerukunan  antar umat beragama senantiasa menjadi perhatian yang serius dari pemerintah. Sebagai bangsa yang memiliki keragaman bahasa, budaya hingga agama, sesungguhnya hal tersebut menjadi 2 makna, bisa menjadi unsur perekat persatuan dan juga bisa menjadi pemicu perpecahan. Ada banyak cerita dimana ada perbedaan  menjadi pemicu lahirnya konflik baik internal maupun eksternal umat beragama. 

‘’Bagi bangsa Indoensia seharusnya perbedaan bukanlah sebuah  alasan untuk kita tidak bersatu. Sejak jaman kemerdekaan, berbagai paham agama, berbagai paham kemasyaraat bisa bersatu padu memperjuangkan kemerdekaan tanah air kita dari penjajah,. Tidak ada diskriminasi atas dasar agama dan keyakinan. Bahkan semua perbedaan  itu justru memperkuat rasa persatuan dalam mewujudkan negara yang merdeka  satu dan adil makmur,’’ katanya.   

Terwujudnya persaudaraan  sejati adalah impian dan tujuan semua orang. Bahkan  inti pesan yang disampaikan nilai-nilai kristiani dalam kaitannya dalam hubungan antara  manusia demi terwujudnya persaudaraan sejati. ‘’Yesus memberikan dirinya sebagai saudara bagi semua orang. Tidak ada kasih yang besar dari kasih seseorang yang memberikan nyawaNya bagi sahabat-sahabatNya,’’ kata Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi.   

Dikatakan, peran gereja sangat strategis posisinya dalam pembangunan bidang agama. Dalam perjalanan sejarah bangsa, gereja berperan besar dalam  bangunan  berbagai bidang. Tentu hal ini merupakan bagian kontribusi besar masyarakat gereja yang sangat diharapkan  oleh seluruh bangsa Indonesia dalam mengisi pembangunan.  

‘’Gereja Prostestan Indonesia yang bersentuhan langsung dengan masyarakat,  kehadirannya sangat berpengaruh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Saya melihat GPI telah mengambil peran  yang sangat luas dalam  berbagai program pembangunan agama sejak dari dulu. Dengan  pelayanannya yang sangat luas,  GPI tentu sangat diharapkan peranannya yang sangat besar dalam mewujudkan kehidupan bangsa yang lebih baik,’’ jelasnya. 

Ditambahkan, dalam konteks  kerukunan infra dan interen umat beragama agar bisa terus membanghun nilai-nilai cinta kasih, damai dan harmonis di negeri tercinta ini . ‘’Dengan program pelayanan yang dimilikinya, GPI sangat mumpuni  dalam melaksanakan tugas-tugas mulia ini,’’ pungkasnya.  

   Sementara itu Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, Pdt Gomar Gultom menyampaikan selamat atas pelaksanaan Sidang Sinode X GPI Ppaua dan Mupel ke V  tersebut. Dengan adanya persidangan Sinode ini menandakan bahwa kita maish menginginkan perjalanan bersama satu jalan dan satu hati. Apalagi, pelaksanaan Sinode ini dapat digelar pasca pandemi. Pada kesempatan tersebut, Ketua Umum PGI Pdt Gomar Gultom menyoroti tentang  pemanasan global dan perubahan iklim akibat ulah manusia sendiri yang memporakporandakan alam melebihi maksud-maksud Tuhan menciptakan alam. Produksi sampah yang berlebih, penggunaan plastik yang tidak pada tempatnya telah  melahirkan instrumen yang akibatnya terjadi mutasi gen kita.  

‘’Tidak ada yang mampu menyangkal sekarang bahwa Covid-19 adalah buah dari mutasi genetika dari iris-iris sebelumnya. Dengan demikian, maka dia adalah akibat dari ulah kita. mestinya, pandemi ini mengingatkan kita   bahwa kekerasan terhadap alam harus kita hentikan mulai sekarang,’’ terangnya. 

Dikatakan, pada sidang raya PGI XVII bulan November 2019 lalu mampu mencatat krisis ekologis senbagai salah satu dari 4 tantangan yang dihadapi gereja-gereja masa ini. ‘’Saya bersyukur bahwa Keuskupan Agung Jakarta yang begitu berupaya  dan saya kira keuskupan-keuskupan lainnya untuk seluruh umat terlibat dalam penyelamatan alam ini dan menciptakan rama alam. Saya menantang GPI ikut dalam gerakan ini sebagaimana diamanatkan sidang raya PGI ke XVII,’’ katanya. 

 Selain itu juga kata  Gomar Gultom, gereja juga harus memberikan perhatian serius atas keprihatinan yang mengakibatkan oleh informasi bidang digital. Dunia digital yang dikenal sekarang ini, sambungnya telah membawa perubahan yang sangat besar, menyasar dan luas ditengah masyaarakat termasuk dalam pelayanan di gereja. Perkembangan tehnologi, ungkap Gomar Gultom disatu sisi membawa harapan baru dan pelayanan dengan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan tetap sisi lain juga membawa keprihatinan yang tidak ringan. Pedekatan-pendekatan analog dalam peribadatan dan pelayanan pastoral saat ini juga telah bergeser ke pendekatan digital. 

 ‘’Namun di satu sisi kita bersykur namun di sisi lain mmemberikan keprihatinan yang mendalam. Dengan terditorsinya berbagai aspek dalam kehidupan serta banyak umat kita yang terombang ambing dalam berbagai informasi dan ajaran yang berweliweran di media maya Medsos yajg begitu mudahnya diakses oleh seluruh lapisan masyarakat,’’ tandasnya. Menurutnya gereja juga harus mampu menyikapi ini  sehingga  umat Tuhan  tidak kehilangan arah tapi  tetap pada imannya  kepada Kristus Yesus. (ulo/wen)  

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: