Green Peace Ajak Komunitas Lakukan Audit Produk

By

JAYAPURA – Kondisi ekosstem hutan mangrove yang ada di sepanjang Teluk Youtefa  yang perlahan – lahan mengalami degradasi ikut menjadi perhatian oganisasi lingkungan, Green Peace. Persoalan kawasan dengan status Taman Wisata Alam (TWA) ini dikatakan patut dipertahankan karena tak hanya memiliki fungsi ekologi tetapi juga fungsi sosial dan fungsi ekonomi. Apalagi dalam kawasan ini ada kearifan lokal, Hutan Perempuan yang menjadi dapur bagi masyarakat di Engros dan Nafri.

Hanya saja persoalan kali ini ancaman lain yang muncul adalah pendistribusian sampah dari  wilayah kota yang kemudian terselip diantara akar pohon mangove dan berdampak pada rusaknya ekosistem. Nah, Green Peace yang menangani isu ocean lewat juru kampanye Ocean Defendernya, Afdillah berharap ada upaya yang dilakukan kelompok penggiat lingkungan untuk tetap memastikan keberlangsungan kehidupan di kawasan hutan mangrove di Jayapura.

“Akan sangat disayangkan jika hutan yang tersisa tak lagi bisa dijaga. Kami sendiri siap untuk dilibatkan dalam upaya advokasi dan kegiatan – kegiatan penyelamatan maupun kampanye yang berkaitan dengan perairan laut termasuk mangrove,” ujar Afdillah dalam webinar yang dilakukan, Jumat (19/3). Dari isu yang didapat, yang paling memungkinkan dilakukan adalah pembersihan sampah di lokasi hutan tersebut. Namun disni Afdillah menyarankan untuk dilakukan audit brand atau produk.

“Akan lebih menarik jika memang dari jumlah yang diperoleh kemudian dilakukan perenggkingan produk apa saja yang paling banyak dan itu nantinya didiskusikan. Kami menunggu aksi teman – teman dimana dari hasil di Jayapura  sangat memungkinkan dimasukkan datanya secara nasional bahkan lebih masive,” jelasnya. Dari audit produk ini nantinya jumlah yang diperoleh digabung dengan yang ditemukan di daerah lain kemudian dipublish. “Saya ambil contoh kalau di luar neger itu paling banyak produk Coca cola, Pepsi sedangkan di Indonesia yang paling banyak produk Unilever, nah ini akan  kita umumkan agar upaya balik sebagai tanggungjawab moril dari produk yang dihasilkan dan menjadi sampah,” imbuh Afdillah. (ade/wen)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: