Habis Hujan, Endapan Material Menumpuk, Debu Beterbangan

By

Akses Jalan Soa Siu Dok 2 Bawah Jayapura yang penuh debu setelah tergenang air hujan, belum lama ini.Yohana/Cepos

Kondisi Jalan di Area Depan Kantor Gubernur yang Kerap Tergenang 

Ruas jalan Soa Siu Dok 2 Bawah Jayapura, tepatnya di depan Kantor Gubernur Papua kini sudah diperlebar. Hanya saja, sepertinya, setelah pelebaran jalan ini, ada  masalah yang harus dipecahkan. Pasalnya, saat hujan jalan mudah sekali tergenang dan setelah itu material tanah menumpuk di jalanan.  

Laporan: Yohana-Jayapura

Ruas jalan depan Kantor Gubernur Papua ini, sebenarnya menjadi salah satu icon di ibu kota Provinsi Papua. Lokasi yang lama dikenal dengan kupang atau bangku panjang ini, sudah seperti menjadi obyek wisata murah meriah bagi masyarakat untuk menikmati pemandangan pantai dan juga lalu lintas kapal di Pelabuhan Jayapura.  

   Namun sayangnya, pelebaran badan jalan yang diharapkan bisa memberikan ruang yang lebih luas bagi masyarakat, untuk parkir maupun menikmati indahnya sore atau malam di pantai Dok II ini, justru sering timbul masalah. 

  Ya, beberapa kali saat terjadi hujan deras, banyak netizen atau warga yang mengupload kondisi ruas jalan di depan Kantor Gubernur yang terendam cukup dalam, hampir selutut orang dewasa. Ini seperti menjadi rutinitas, dimana setiap kali hujan deras, pasti terjadi genangan air di depan Kantor Gubernur Papua ini.  

  Kondisi ini diperparah dengan aliran banjir dan material yang mengalir dari tikungan atas  dekat Kantor BPS Papua. Air banjir yang menhanyutkan sejumlah material tanah dan batu ini, mengalir ke bawah, mencari celah-celah untuk menuju ke tempat yang lebih rendah. Muaranya, di ruas jalan Soa siu, depan Kantor Gubernur. Karena saluran pembuangan yang tidak memadai, 

   Bagaimana tidak, ketika hujan lebat aliran air disertai tanah merah akan memenuhi ruas jalan tersebut, tidak sampai disitu. Setelah air surut, pasti akan meninggalkan material berupa lumpur yang ketika terkena sinar matahari, serta dilalui kendaraan akan menimbulkan debu.

   Debu tak hanya mengganggu mereka yang melintas di sepanjang jalan tersebut, baik pejalan kaki, pengendara roda dua, tapi juga  menganggu para pedagang kaki lima. Bahkan masyarakat yang suka nongkrong di seputaran Jalan Soa Siu Dok 2 Bawah Jayapura.

  Pasalnya, Jalan Soa Siu Dok 2 Bawah Jayapura, depan Kantor Gubernur Papua,  ini sudah seperti menjadi pusat jajanan kuliner seperti bakso, mie ayam, aneka jajanan kopi dan sebagainya.

  Dengan kondisi tersebut, beberapa pedagang tidak bisa berjualan karena area lokasi berjualannya dipenuhi material, jika kondisi hujan maka pastinya material tersebut akan menjadi lumpur yang sulit untuk dilalui.

  Mas. Reza seorang panjual Mie Ayam menjelaskan, semenjak hujan lebat yang menggenangi ruas jalan Kantor Gubernur, pihaknya kesulitan berjualan. Bukan soal melayani pembelinya saja, tapi ketika  panas terik, debu beterbangan kesana-kemari membuat orang tidak dapat nongkrong di seputaran kupang.

  Meski kerap kali tergenang air hujan dan material, namun kesannya seperti dibiarkan terbengkalai, tidak mendapat perhatian khusus untuk dibersihkan. Jika mau dilihat, jalan Soa Siu Dok 2 Bawah Jayapura sendiri merupakan salah satu wajah depan Kantor Pemprov Papua, objek sayang jika masalah genangan banjir dan sisa endapan material dan lumpur ini dibiarkan berlarut-larut.

  Karena dampak ini akan mempengaruhi kualitas dari jalan tersebut, jika genangan air terus menerus tergenang akan mempengaruhi kondisi aspal di jalan yang kemudian akan terkelupas, jalanan menjadi berlubang dan sebagainya.

  Apa lagi dengan adanya pembangunan Kantor Gubernur, harusnya menjadi sorotan penting terhadap akses jalan di depannya agar transportasi tetap berjalan dengan lancar.Tanpa menganggu aktifitas warga yang ingin bersantai di lokasi ini. 

  Diana seorang masyarakat Jayapura yang suka bersantai di Kupang (Kursi Panjang) mengakui sangat disayangkan salah satu pusat  tempat rekreasi  yang tidak dikenakan biaya parkir, bisa menikmati suasana pantai, jadi tempat tongkrongan asyik bagi muda-mudi maupun keluarga yang kesannya seperti dibiarkan.

  “Kami tidak bisa duduk santai di Kupang, karena kalau angin kencang, debu akan terbang,  bukan sedikit yang berterbangan, sementara habis hujan pasti becek, kesannya tidak diberihkan padahal ini jalan utama,” jelasnya lagi.

  Apakah karena ada pembangunan Kantor Gubernur, sehingga akses jalan untuk sementara dibiarkan, atau memang disengaja karena kondisi cuaca yang terus berubah- ubah sehingga pemerintah sengaja membiarkan jalan tersebut sampai cuaca kembali stabil.

  Pada dasarnya, sangat disayangkan jika salah satu objek vital didepan Kantor Gubernur terus-terus dibiarkan, karena ini merupakan jalan utama yang selalu digunakan baik para pejabat, maupun OPD dan juga masyarakat. (*/tri) 

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: