Harga Bapok Tinggi, Pedapatan Penjual Kue Kering Rendah

By

Salah satu penjual kue kering di depan Sagu Indah Plaza saat menjual barang dagangannya, Senin (26/4) (foto: Karel/Cepos)

JAYAPURA-Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah  penjualan kue kering di Emperan Toko di Depan Sagu Indah Plasa (SIP) Kota Jayapura pada Senin (25/4) malam masih terlihat sepi. Hj Sana Wia (62) salah satu penjual kue kering di tempat tersebut mengatakan meski pembatasan waktu dan angka penularan Covid-19 pada Lebaran kali ini menurun namun ternyata pembeli kue kering jelang Lebaran masih sepi.

“Tahun ini satu harinya hanya mampu menjual 48 toples kue kering. Sedangkan tahun lalu saya mampu menjual hingga 200 tople kue/ hari,”keluhnya kepada Cenderawasih Pos.

Sana Wia juga menyebut tingginya harga bahan pokok merupakan faktor dasar rendahnya daya minat pembeli dan menurunya onzet penjualannya. Dimana menurtnya untuk mempertahankan harga jual sangat sulit karena memang bahan untuk membuatnya naik derastis.

“Harga tepung terigu sekarang Rp 250/karung, minyak goreng dari harga normal Rp 15 ribu/ liter, naik menjadi Rp 30 ribu/liter. Gula dari harga, Rp 690 ribu/karung naik jadi Rp 720 ribu/karung. Bagaimana mau pertahankan harga jual kalau harga seperti ini,”keluhnya\

Dampak tingginya harga bahan pokok terpaksa diapun menaikan harga jual kue kering. Satu toples kecil kue kering seperti good time, nastar tomat, kue sagu, kue rambutan, nastar daun,  Rp 50 ribu/toples, sedangkan tahun sebelumnya hanya Rp 35 ribu/toples ukuran kecil, sedangdan toples ukuran besar dari harga sebelumnya hanya Rp 40 ribu/ toples naik menjadi Rp 60 ribu/toples.

“Banyak yang datang mau beli tapi terhambat dengan harga yang cukup mahal,”tutur Sana Wia

Selain itu Sana Wia juga mengaku dengan banyaknya pedangang kue kering dadakan  dengan sistem penjuala online juga salah satu faktor kuangnya pembeli yang datang ditempantya.

Hal senada dikatakan oleh Nur, yang juga penjual kue di emperan depan Toko Aneka. Nur mengaku rendahnya daya minat pembeli karena sebagian besar mayoritas pulang kampung. Selai itu tingginya harga bahqan pokok mempengaruhi nilai jual kue kering. 

“Tidak mungkin saya jual dengan harga murah sedangkan harga bahan pokoknya saja mahal,”katanya.

Nur mengaku jika omzet penjualanya dari pukul 17.00 WIT sampai pukul 22.00 WIT hanya mampu menjual 20 toples kue/hari. Diapun menyebutkan bahwa dampak dari pandemi masih juga menjadi faktor utama rendahnya daya minat pembeli.(CR-267/gin).

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: