HIV-AIDS Jayawijaya Capai 6.525 Kasus

By

Pdt.Jhon Jonathan Nap (FOTO: Denny/Cepos) 

Fokus Covid-19, Kasus HIV-AIDS Terabaikan 

WAMENA-Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Jayawijaya Pdt. Jhon Jonathan Nap mengungkapkan bahwa saat ini penderita HIV-AIDS yang ada di Jayawijaya mencapai 6.525 orang. Masalah ini semakin bertambah lantaran dalam beberapa tahun ini penanganan terhadap Covid-19 lebih menonjol, dibandingan dengan penyakit HIV-AIDS, sehingga banyak ODHA yang putus dalam komsumsi obat ARV.

   Menurut Pdt Jhon Jonathan Nap, berdasarkan data yang dikeluarkan KPA Provinsi Papua jumlah penderita HIV-AIDS di seluruh Papua itu mencapai 46.967 pengidap. Sementara Jayawijaya berada di posisi 8 dari 29 kabupaten/kota di Papua yang memiliki pengidap terbanyak.

   “Kalau untuk data dari KPA Provinsi Papua Kabupaten Jayawijaya ada di posisi 8, dimana untuk kategori  HIV 1874 kasus, sedangkan AIDS 4651 kasus,  sehingga jumlah total 6.525 kasus yang terdaftar  dalam KPA,” ungkapnya Selasa (14/12) kemarin

   Ia mengaku jika dalam penanggulangannya tidak bisa dipungkiri jika banyak ODHA yang terabaikan, sehingga putus untuk mium obat. Ini berdasarkan laporan keluhan dari Puskesmas atau LSM yang menangani ODHA. Tentunya ini menjadi tugas dari LSM yang melakukan pencarian , pendampingan dan membawa mereka kembali, untuk terus bisa melanjutkan minum obat lagi. Sejauh ini, LSM yang bergerak Humi Inane, Generasi Anak Panan (GAP) dan Kanjal.

  “Kita juga punya 3 shelter yakni YPKM, Dekenat dan Klinik Kalvari, mereka juga melakukan apa yang bisa dilakukan dengan menampung orang yang harus penyesuaian obat atau membudayakan ODHA untuk minum obat. Sebab kita tidak bisa sangkal kalau banyak sekali keluhan dari Puskesmas atau yang menangani ODHA jika banyak yang putus ,”jelasnya 

   Kata Pdt Jhon Nap, sementara untuk pendampingan kepada ODHA,  KPA memiliki Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) dimana melalui mereka, supaya ODHA ini bisa kumpul maka KPA harus siapkan sesuatu seperti makanan yang bergizi, antar ke puskesmas atau tempat layanan untuk dicek kembali obatnya seperti apa.

   Menurutnya, di sisi lain untuk KPA Jayawijaya sesungguhnya tahun ini ada proses penyesuaian yang membuat kesulitan, dan tidak seperti dulu. Dimana anggaran hibah dari pemerintah ke KPA dari bagian keuangan langsung ke ke KPA, tetapi mulai tahun ini berubah dari Keuangan masuk ke Dinas Kesehatan terlebih dahulu barulah disalurkan ke KPA.

   “Artinya kita ada di bawah Dinas Kesehatan. Prosesnya semua yang kita lakukan harus dikoordinasikan ke Kepala Dinas Kesehatan dan dicek bagian keuangannya kalau tidak ada masalah barulah bisa dicairkan.”jelasnya.

  Ia juga menyatakan kondisi keuangan saat ini membuat KPA tidak bisa eksekusi semua masalah yang berkaitan dengan penanggulangan HIV-AIDS di Jayawijaya. Tetapi pada prinsipnya semua teman-teman bekerja semaksimal mungkin baik LSM itu harus mengejar pencapaian, sebab dinas kesehatan memberlakukan sistem klaim. 

  “Artinya LSM ini harus menjangkau dan orang yang dijangkau harus dibawa ke layanan melakukan pemeriksaan kesehatan dan hasilnya diklaim ke KPA yang dilanjutkan ke Dinas Kesehatan, ini yang membuat kita susah dan harus menyesuaikan diri,”tutupnya.(jo/tri)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: