Iblis Penyebab Kejatuhan Manusia ke Dalam Dosa, Bukan Perempuan

By

Suasana Peluncuran dan bedah buku Perempuan Bukan Budak Laki-Laki yang digelar di Gedung Sosial Gereja Katolik Kristus Terang Dunia, Sabtu (16/7). (FOTO: Noel/Cepos)

Dari Peluncuran Buku “Perempuan Bukan Budak Laki-Laki” karya  Dr. Socratez Yoman (Bagian II)  

Dalam buku karyanya ini, Dr Socrates Sofyan Yoman menyampaikan sejumlah pandangan, yang  dinilai kontroversial. Tak heran dalam acara beda buku ini, banyak disorot, karena adanyanya perbedaan pandangan atau keyakinan sebagian umat gereja selama ini. 

Laporan: Iman IU Wenda_Jayapura

Dari acara bedah buku ini, Cenderawasih Pos  mencoba untuk melihat lebih lanjut dari  isi buku tersebut. Selaku pendulis, Pendeta Yoman menyinggung beberapa pandangan teologi yang dinilainya salah tentang perempuan khususnya pada halaman 82. Dimana Yoman menulis pada Matius 19 ayat 6 berbunyi “apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia”.

   Ia juga menyinggung soal surat nikah gereja menjadi Sakti atau kebal dari sentuhan dan kritik selama berabad-abad dalam praktik keluarga-keluarga anggota Jemaat dari waktu ke waktu. Menurutnya,  ayat dan surat nikah tersebut telah membelenggu hak kemerdekaan perempuan Terutama ketika harus berjuang menghadapi penghinaan dan pelecehan martabat di dalam rumah tangga.

   Dia menjelaskan ayat firman Tuhan Matius 19 ini tidak pernah dijelaskan atau ditafsirkan dengan benar proporsional, dan ditempatkan dalam konteks realita hidup manusia, sehingga firman Tuhan ini tidak dimengerti secara utuh. Akibatnya ayat ini menjadi alat perbudakan laki-laki terhadap perempuan dalam rumah tangga.  Menurut Yoman, pendeta gembala dan Pastor pun banyak yang tidak menyadari bahwa firman Tuhan ini dinamis dan hidup dalam konteks kebutuhan manusia.

  Dalam situasi tertentu  ayat kitab suci tersebut sepertinya memberikan legitimasi dan melindungi laki-laki dan membuat perempuan harus tunduk dan tidak banyak bersikap mengekspresikan suara nuraninya, hal ini terjadi ketika ditafsirkan ke seluruh oleh laki-laki dalam menghadapi keluarga dan istri.

   Ia juga menyingung soal 4 alasan perempuan, bukan penyebab kejatuhan manusia dalam kuasa dosa di Taman Eden. Socrates  Yoman, menyebutkan pada halaman 18 bahwa dirinya  tidak setuju dengan pandangan teologi bahwa perempuan penyebab kejatuhan manusia dalam kuasa iblis dan dosa. Ia menilai ini sebuah keyakinan yang keliru dan salah, serta sangat diskriminatif yang menghadirkan kemuliaan dan kesanggupan perempuan

  Dia mengatakan penyebab kejatuhan manusia dalam dosa bukanlah perempuan atau Hawa, tetapi iblis. Dia mengatakan setiap orang harus menghormati Hawa atau kaum perempuan, karena karakter hebat perempuan tidak langsung menerima tawaran dan godaan iblis tetapi dengan berani dan berdiri Teguh. Hawa mempertanggungjawabkan kepada iblis tentang perintah Tuhan.

   Hawa sudah berusaha dan berjuang dengan memegang teguh pada perintah Tuhan dan menyampaikan kepada iblis, sehingga pandangan bahwa perempuanlah menjadi penyebab kejatuhan manusia dalam dosa selama ini adalah salah. Hal ini menjadi pintu masuk selama berapa abad, perempuan direndahkan karena menjadi penyebab dari kejatuhan hal ini dipatahkannya karena menurutnya banyak penafsiran Alkitab tidak sesuai.

  Maka penulis belajar dari kesucian dan Mulianya tugas yang dijalankan Hawa, maka patut dihormati Hawa sudah berjuang untuk taat kepada perintah Allah, meski ia kalah dan gagal menghadapi empat siasat tawaran iblis yang terdapat dalam Alkitabn Kejadian (3 : 1- 6). Yakni,  1 Jaminan hidup kekal, kedua harapan untuk mata terbuka melihat segala rahasia Allah, ketiga iblis menawarkan posisi dan kedudukan dan yang keempat adalah Hawa bisa memiliki pengetahuan seperti Allah.

  Pada halaman 46 Yoman juga mengajak pembaca untuk belajar dari sosok perempuan beriman dari Deborah hingga Hana yang senantiasa mengajarkan kesetiaan perjuangan kesabaran dalam menghadapi kebaikan-kebaikan dan peneguhan akan iman terhadap Allah. 

  Dimana kisah Debora sebagai Hakim perempuan di Israel dan juga Seorang nabi perempuan Debora bersama barat memimpin orang Israel dalam pertempuran melawan bangsa kanan yang dipimpin Raja Yabin dan panglimanya. Mereka berhasil mengalahkan bangsa kanan. Juga kisah Naomi dan Ruth sebagai perempuan Israel yang pergi bersama keluarga mengungsi dari kampung halaman Betlehem menuju Moat karena kelaparan terjadi di Israel.

  Naomi bukanlah tipe perempuan yang lemah yang mudah putus asa dan kecewa kepada Tuhan. Ia bangkit dari keterpurukannya, sekalipun suami dan kedua anaknya meninggal dan Tuhan menghibur melalui menantu dan cucunya. Juga ada kisah Ratu Ester yang percaya dan beriman kepada Tuhan Allah yang benar hidup dan berkuasa. Ester mengandalkan kuasa Tuhan bukan mengandalkan Raja Ahasiworos sebagai suaminya. Hal itu terbukti dengan Ester memerintah seluruh orang Yahudi di Babel berdoa dan berpuasa kepada Tuhan untuk menyelamatkan bangsa Yahudi. 

   Dari sejumlah paparan ini, sudah menjadi satu keharusan/kewajiban dan tanggung jawab suami melihat potensi talenta dan karunia yang ada pada istri dengan mata hati, iman dan kasih. Perempuan atau istri merupakan  pemberian anugerah Tuhan untuk suami dan suami adalah pemberian dan anugerah Tuhan untuk istri supaya hidup bersama dengan terhormat.

  Kalau istri sakit suami harus menemani dan menghibur dan menguatkan. Karena suami adalah obat yang paling ampuh atau tempat harapan dan sandaran istri.  Misalnya suami mengantar istri ke rumah sakit dan menjaga sampai benar-benar sembuh. Bahkan hal sakit, istri lebih sensitif atas kesehatan dan kesakitan terutama saat melahirkan. Seorang suami harus berada di samping istri. Ini karena suami adalah kekuatan semangat hidup istrinya seperti firman Tuhan. “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibu dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging”. (*/habis) 

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: