IDAI Hadir untuk Membangun Generasi Emas di Tanah Papua

By

dr. James Thimoty Sp. A (K),. M.Kes Spesialis anak, (konsultan bayi) saat menangani persalinan bayi di RSUD Jayapura, belum lama ini. Pihaknya hadir untuk membangun generasi emas di Tanah Papua.

Bincang-bincang dengan Ketua IDAI Provinsi Papua, dr. James Thimoty Sp. A (K), M.Kes 

Menciptakan generasi unggul, cerdas dan membantu meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM)  di Provinsi Papua, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI),   Cabang Papua memiliki visi membangun generasi emas di tanah Papua.

Laporan: Yohana- JAYAPURA

IDAI adalah satu-satunya organisasi profesi Dokter Spesialis Anak Indonesia yang bernaung di bawah Ikatan Dokter Indonesia (IDI). 

IDAI membantu pemerintah dalam membina dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan anak.

IDAI juga berpartisipasi aktif dalam penelitian kesehatan anak dan kesejahteraan anak, memberikan pengarahan, pembinaan, dan melaksanakan pendidikan ilmu kesehatan anak, meningkatkan kemampuan profesi dokter spesialis anak.

Tidak hanya itu, menjalin kerjasama dengan organisasi dokter spesialis anak regional dan internasional, organisasi kesehatan dan kesejahteraan anak lain, di samping mempersatukan, memperjuangkan dan memelihara kepentingan/ kedudukan dokter spesialis anak Indonesia.

IDAI Provinsi Papua berdiri sendiri sejak tahun 2017 setalah terlepas dari IDAI Cabang Makasar, dalam fokusnya IDAI Cabang Papua juga memiliki tujuan yang sama, yaitu sangat fokus dan bertekat membantu Pemerintah Provinsi Papua, khususnya dalam program 1.000 hari kehidupan dari kesiapan orang tua memiliki bayi, sampai anak tersebut berusia 2 tahun, kesiapan gizi dan sebagainya harus dipenuhi calon orang tua demi mencipatakan SDM yang unggul ke depannya.

IDAI Papua sendiri diketuai oleh dr. James Thimoty Sp. A (K),. M.Kes yang keseharaiannnya bekerja sebagai dokter spesialis anak, sekaligus konsultan bayi di RSUD Jayapura. Selain bekerja di RSUD Jayapura, dia juga bekerja di salah satu klinik di Jayapura dan juga sebagai dosen di Universitas Cenderawasih Jayapura dan mengajar di klinik maupun RSUD Jayapura kepada dokter-dokter muda.

Sebagai dokter anak, dirinya kerap kali menangani kasus-kasus serius terkait anak, seperti bayi prematur, bayi yang cacat, kekuarangan berat badan, bahkan stanting dan sebagainya. 

Dalam kepemimpinannya selama 3 tahun yang terhitung sejak 2021 -2024, IDAI Cabang Papua memiliki 48 dokter spesialis anak yang tersebar di Provinsi Papua.

Untuk penyebarannya sendiri memang ada beberapa kabupaten yang belum ada dokter spesialis anaknya. Hal ini dikarenakan belum siapnya fasilitas yang memadahai di kabupaten- kabupaten tersebut, sehingga belum ada dokter spesialis anak.

Dokter anak sendiri paling banyak di Kota Jayapura jumlahnya kurang lebih 15 dokter anak, sementara  di Kabupaten Jayapura 4 dokter spesialis anak, selanjutnya Merauke, Timika, Nabire Jayawijaya, Asmat, Biak, Keerom, Lanny Jaya,  Tolikara,  Boven Digoel, Yapen, Supiori, Pegunungan Bintang dan Puncak Jaya ada dokter spesialisnya, sementara kabupaten lainnya belum ada.

“Salah satu tugas IDAI Cabang Papua adalah memfasilitasi agar pemerataan tenaga dokter spesialis anak tersedia di seluruh  kabupaten dan kota di Provinsi Papua, ini supaya kesehatan anak-anak di Papua bisa semakin meningkat,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (2/12).

“Visi dari IDAI Papua yaitu ingin membangun generasi emas di tanah Papua, ini adalah menjadi kerinduan bagi Ikatan Dokter Anak Indonesia Cabang Papua,” terangnya lagi.

Baginya, dengan membangun generasi emas ini, dirinya berharap anak-anak Papua ke depan akan menjadi pemimpin-pemimpin yang luar biasa.

Untuk menciptakan hal tersebut,  harus dimulai dari memperhatikan kesehatan anak, mulai dari bayi jika kesehatan dari kandungannya baik, maka pertumbuhan bayi akan menjadi baik, kecerdasannya juga akan seimbang,  mereka pastinya akan menjadi pemimpin-pemimpin yang unggul di tanah Papua.

“Untuk Papua sendiri, kasus yang sedang disorot saat ini adalah kasus gizi buruk dan stunting, ini juga menjadi salah satu prioritas bagi IDAI Cabang Papua,” tuturnya.

Guna dapat  menuntaskan masalah gizi buruk dan stunting di Papua, dalam masa 3 tahun kepengurusannya, dirinya berharap dapat membantu pemerintah memberikan pelayanan yang lebih baik bagi anak di Papua.

Selain itu, masih banyak penyakit-penyakit lainnya yang sering dia jumpai, baik di RSUD Jayapura, maupun di tempat dokter praktek, ada juga  masalah kasus malaria, ISPA, diare dan sebagainya.

Bahkan ada juga penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, namun sayangnya di Papua ada beberapa daerah yang cakupan vaksinnya masih sangat rendah.

“Ini juga menjadi konsen kami, karena diPapua ada beberapa daerah yang cakupan imunisasinya masih sangat rendah, kami juga bekerjasama dengan dinas kesehatan dan instansi terkait, LSM, WHO untuk meningkatkan derajat kesehatan bagi anak-anak Papua,” tuturnya.

Sementara untuk kabupaten yang belum tersedia atau belum ada dokter spesialis anak, pihaknya dalam menangani kasus, biasanya langsung berkomunikasi  dengan dinas kesehatan di daerah itu untuk penanganan kasus tersebut. 

“Harapan kami, dalam 3 tahun ke depan, seluruh kabupaten dan kota yang ada di Provinsi Papua, sudah tersedia dokter tenaga spesialis anak,” bebernya. 

bukan hanya tersedia tenaga spesialis anak, tapi juga bisa bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat untuk penyediaan fasilitasnya.

“Kami dalam menjalankan profesi, kami juga sangat membutuhkan jaminan terkait  masalah keamanan,  fasilitasnya,  semua harus benar-benar terjaga, sehingga  pelayanan kepada masyarakat lebih maksimal,”tuturnya.

Dengan masa kepemimpinannya sebagai Ketua IDAI Cabang Papua selama 3 tahun terhitung dari 2021 sampai 2024, dirinya optimis bisa menangani kasus terkait kesehatan anak di Provinsi Papua.

Hal ini, merupakan tujuan IDAI dalam membantu pemerintah,  pihaknya akan terus berusaha.”Jika niat kita baik, pasti Tuhan akan tolong,”pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: