Jalan Salib Tak Sebatas Formalitas, Merenungkan Setiap Kasih Tuhan

By

Teatrikal rangkaian jalan salib yang dilakukan oleh jemaat GKI Syaloom Pasifik Indah, Angkasa, Distrik Jayapura Utara, Kamis (14/4) sore. (FOTO: Elfira/Cepos)

JAYAPURA-GKI Syaloom Pasifik Indah yang berlokasi di Angkasa, Distrik Jayapura Utara menggelar prosesi jalan salib dalam rangka memperingati kisah penderitaan Yesus Kristus hingga mati di kayu salib untuk menebus dosa umat manusia, Kamis (14/4) sore.

Jalan salib ini diikuti puluhan orang. Prosesi diawali dengan babak sidang Yesus di hadapan Pontius Pilatus tepat di salah satu rumah jemaat. Selanjutnya, Yesus dipaksa memikul salib menuju halaman gereja GKI Syaloom Pasifik Indah yang jaraknya sekitar satu kilometer lebih. 

Sepanjang jalan, Andi Toto selaku pemeran tokoh Yesus disiksa. Cambukan, tendangan, cemoohan oleh prajurit romawi yang diperankan pemuda-pemuda gereja serta mahkota duri mewarnai penderitaan Yesus.

Sesekali lantang terdengar teriakan dari jemaat “salibkan dia, salibkan dia”. Jemaat yang menyaksikan prosesi jalan salib tampak meninitikan air mata, membayangkan penderitaan Yesus bagi umat manusia yang berdosa. 

Prosesi jalan salib yang berlangsung selama satu jam ini ditutup dengan refleksi singkat yang dipimpin oleh Pdt. Fransisca Sumenda Sikome. 

Pdt. Fransisca menyampaikan, prosesi jalan salib ini bukan sebuah formalitas, tapi bagaimana setiap umat boleh merenungkan setiap kasih setia Tuhan lewat pengorbanan-Nya di kayu salib. 

“Salib itu kita harus pikul, karena ketika kita mengikut Yesus kita harus sunguh-sungguh dan memberi diri kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat serta mengikuti Dia dengan penuh kesetiaan, ketaatan dan takut akan Tuhan,” tuturnya. 

Pdt. Fransisca berharap seluruh jemaat dalam persekutuan senantiasa hidup di dalam sukacita, kasih dan tidak ada pertentangan bahkan saling mengampuni ketika ada hal-hal yang terjadi dalam hidup. 

“Kita belajar bahwa Yesus Kristus telah mengampuni semua dosa umat manusia, supaya kita bisa mendapatkan keselamatan yang kekal dan pengorbanan itu adalah suatu hal yang luar biasa yang harus kita pahami dengan baik sebagai orang percaya,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Ketua Panitia Hari-Hari Besar Gerejawi (PHHBG) GKI Syaloom Pasifik Indah Tahun 2022 Wijk Calvari, Lady Capelle mengatakan, prosesi jalan salib dimana ingin menyampaikan pesan bagi setiap umat percaya untuk memaknai pengorbanan Tuhan Yesus 2.000 tahun lalu. 

“Dalam kehidupan kita, baik itu dalam berjemaat maupun sosial, kita dapat menunjukan kasih Kristus yang nyata kepada sesama dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada lagi saling membenci, provokasi dan sebagainya,” ungkapnya.

Lanjutnya, pada momen perayaan Paskah 2022, PHHBG GKI Syaloom juga akan menggelar ibadah KKR dan malam puji-pujian bersama jemaat, Sabtu (16/4) hari ini. Kemudian pada Minggu (17/4) digelar pawai obor yang dilanjutkan dengan ibadah Fajar Paskah. 

Sementara itu, ribuan umat Katolik di Gereja Paroki Sang Penebus Sentani, Kabupaten Jayapura dengan hikmat melaksanakan ibadah Jumat Agung,  Jumat (15/4) sore. 

Ribuan umat yang hadir tidak hanya memenuhi  ruangan gereja tetapi juga memenuhi halaman gereja tersebut. 

Prosesi Jumaat Agung selama masa pandemi Covid 19 ini sedikit berbeda dari biasanya. Karena setiap umat tidak lagi diperbolehkan mencium langsung Salib Suci Yesus, namun hanya melakukan penghormatan dengan tidak secara langsung menyentuh salib.

Rangkaian misa Jumat Agung itu, dipimpin langsung oleh Pator Paroki Gereja Katolik Sang Penebus Sentani, Pastor Norbertus Broery Renyaan, OFM.

Dalam homili atau pesan Paskah yang disampaikan di hadapan ribuan umat Katolik itu, Pastor Norbertus menggambarkan bagaimana cinta Yesus yang begitu besar bagi umat manusia hingga rela sengsara dan mati di kayu salib dan pada akhirnya mengalahkan maut melalui kebangkitan-Nya.
“Begitu besar cinta-Nya kepada Allah dan manusia, Dia memasrahkan seluruhnya kepada kehendak Allah. Saat itulah, Dia menjadi Imam dan kurban yang sempurna. Karena Ia mempersembahkan diri-Nya seutuhnya kepada Allah ,” kata Pastor Norbertus Broery Renyaan.

Dikatakan, itulah cinta Yesus yang luar biasa, begitu hebat, kepada Allah dan kepada manusia. Yesus juga tidak pernah meninggalkan manusia. Karena sengsara, derita dan wafat-Nya adalah bukti, tanda bahwa dia tidak pernah pergi demi manusia yang dicintai-Nya.

“Memang kita akui kadang kita merasa cinta Yesus itu aneh. Seringkali Dia membuat keputusan-keputusan yang menyakitkan bagi manusia. Bahkan membuat manusia ingin menempuh jalan yang sulit. Sering kali kita jatuh dan merasa tidak mampu untuk mencintai Dia. Tetapi Dia tidak pernah meninggalkan kita.
Maka mari kita mohon kepada Dia, semoga kita diberanikan, dikuatkan dan diteguhkan untuk mampu mencintai Allah dan sesama seperti Dia mencintai Allah dan mencintai kita masing-masing.  Semoga kita dijadikan saluran kasih-Nya sehingga pada akhirnya nama-Nya yang dimuliakan dalam cinta, perbuatan baik yang kita lakukan,” tambahnya. (fia/roy/nat) 

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: