Jika Orang Luar Bisa Bikin Martabak Kenapa Papua Tidak

By

Kolonel Inf Bayu Sudarmanto Saat Melihat, Arlince F. Mebri, (56) Selaku Ketua Kelompok Manuai, (Mama Papua Mampu) yang Sedang Bikin Kue. (FOTO: Foto/Kasrem 172/PWY)

Melihat Usaha Kelompok Mama Papua Mampu di Kampung Yoka Distrik Heram

Salah satu kelompok Binaan Korem 172 di Kampung Yoka memilih berjualan martabak dibandingkan usaha lainnya. Seperti apa kondisi usahanya saat ini?

Laporan: Karolus Daot_Jayapura 

Salah satu Kelompok Mama Papua Mampu yakni warga binaan, pihak Korem 172/PWY pada September 2022 kemarin di Korem 172/PWY mendapatkan bantuan berupa gerobak jualan martabak.

   Anggota warga binaan tersebut menamai  kelompoknya yaitu kelompok Manuai yang terletak di Kampung Yoka, Kelurahan Hedam Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua.

  Kelompok Manuai ini mendapatkan bantuan berupa Gerobak jualan martabak setelah mendapatkan pelatihan kuliner di wilayah Korem 172/PWY pada September kemarin. Diketahui pelatihan kuliner ini merupakan inssiatif pihak Korem 172/PWY melalui kegiatan Bimbingan Teknis (BIMTEK) diwilayah Korem 172/PWY.

  Setelah mendapatkan pelatihan selama kurang lebih 3 hari yakni sejak tanggal 6-9 sepetember kemarin anggota Mama Papua Mampu ini kembali ke wilayahnya masing masing untuk memeprsiapkan diri menjalankan usaha sesuai kemampuan pasca mendapatkan pelatihan di Korem 172/PWY.

  Alhasil salah  kelompok binaan dari Kampung Yoka ini memilih berjualan Martabak. Karena melihat semangat dari pada Kelompok Manuai ini akhirnya pihak Korem 172/PWY pun mendukung dengan memberikan bantuan berupa Gerobak untuk berjualan Martabak.

   Arlince F. Mebri, (56) selaku ketua kelompok Manuai mengaku alasan mereka memilih jualan martabak dibandingkan kuliner lainnya, karena menilai makanan martabak sudah menjadi kuliner favourit untuk semua kalangan.

  Arlince pun mengaku selama ikut pelatihan di Korem 172/PWY pada bulan september lalu mereka (Kelompok Manuai) hanya fokus belajar cara membuat martabak, dimana menurut perempuan berusia 56 tahun itu, salah satu olahan kue yang terlihat sulit adalah Matabak. ” Susahnya itu kalau bikin kulit luarnya, karena harus butuh keahlian tersendiri,” ujar Arlince Kepada wartawan, di Kampung Yoka, selasa, (25/10).

   Arlince mengaku dirinya sengaja memilih menjual martabak karena usaha martabak di Kota Jayapura sebagaian besar, bahkan seluruhnya ditekuni oleh orang luar Papua, sehingga bagi perempuan asal Kampung Yoka itu, tidak salahnya setelah mendapatkan pelatihan di Korem 172/PWY untuk memulai usaha baru walaupun cukup menantang.

  Bahkan diapun optimis jika nantinya Martabak yang dia jual bersama anggotanya itu tidak kalah enak dan lezat dengan penjual lainnya. “Kami yakin rasa yang kami punya dengan orang jawa pasti sama,” ucapnya seraya penuh percaya diri.

   Arlince mengatakan memang sejak kecil hingga sekarang usianya memasuki kepala 6 (enam) tidak pernah membuat kue semacam itu, namun dengan adanya pelatihan yang diinsiasi oleh pihak Korem 172/PWY pada bulan september lalu justru mereka ingin melakukan sesuatu hal yang cukut tertantang dari kebiasaannya selama ini. ” Ya orang Papua tentunya identik dengan roti kering, sehingga kami ingin berbeda dari yang lain,” bebernya.

   Saat ini yang menjadi fokus utamanya adalah terus belajar cara membuat lepekan kulit luar khususnya martabak telur, karena memang olahan kulit luar martabak telur yang masih cukup sulit dilakukan. “Tangan masih kaku, karena tidak terbiasa, kalau mertabak manis tidak terlalu sulit,” ujarnya.

   Diapun mengaku saat ini selain menjadi ibu rumah tangga dan menjual minuman dingin pekerjaan tetapnya adalah sebagai tenaga harian lepas pembersih lingkungan di Kampung Yoka. “Sejak tahun 2016 saya bekerja sebagai pembersih jalan, khususnya di Kampung Yoka, sini, dan gaji saya satu bulan sesuai UMR Papua,” katanya.

   Kembali lagi terkait usaha martabak yang muli mereka geluti, dikatakanya bahwa untuk martabak yang mereka jual saat ini  akan dibuka setiap sore. “Nanti kami yang 5 orang ini setiap sore buka jualan disini (depan rumah Arlince) setiap jam 4 sore sampai malam,” katanya.

  Kemudian untuk manajemen keuangan Arlince mengaku memang masih butuh banyak belajar, namun dia yakin atas apa yang telah mereka peroleh selama pelatihan di Korem 172/PWY akan menjadi wadah untuk mengembangkan usah martabaknya itu bersama 4 orang teman lainnya. ” Jadi waktu pelatihan kami tidak hanya dilatih membuat kue, tetapi juga diajarkan cara untuk mengatur keuangan,” pungkasnya. (*/tri) 

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: