Jual Kerajinan Tangan dan Bercocok Tanam Jadi Pilihan untuk Bertahan

By

Aktivitas Panti Asuhan Air Mata Mama di Tengah Pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 memberi dampak yang luar biasa di semua sektor kehidupan, Ya, semua saat ini posisi yang benar-benar sulit, bagaimana lembaga-lembaga sosial dapat bertahan di tengah pandemi? Berikut salah satu usaha Panti Asuhan dan Panti Jompo Air Mata Mama.

Laporan: Yohana

Pandemi Covid-19, belum berhenti, ini berarti setiap usaha atau dunia kerja harus berupaya menyesuaikan diri di tengah pandemi termasuk penerima bantuan sosial, seperti yayasan atau panti asuhan. 

 Ya, kondisi yang dialami panti asuhan tentu juga cukup sulit, dimana mereka harus mencukupi kebutuhan pangan bagi anak-anak panti di tengah pandemi Covid-19.

 Sebagian anak panti terpaksa harus dipulangkan ke rumah masing-masing, bahkan ada orang tua yang juga berinisiatif membawa pulang anak-anaknya karena factor keaman maupun kebutuhan bapok dimasa pandemi.

 Panti Asuhan Dan Panti Jompo Air Mata Mama, didirikan sejak 2003 silam, saat ini menghadapi situasi yang sulit, namun pandemi tidak memudarkan semangat mereka untuk bertahan.

 Yakni untuk mempertahankan hidup serta memenuhi nafkah bagi para penghuni panti, para lansia di panti bekerja sama membuat berbagai kerajinan tangan yang dijual dip anti dengan maksud setiap pengunjung yang datang bisa membeli kerajinan tangan yang telah disediakan.

 Tidak hanya itu, mereka juga bekerja sama menanam kebun sayuran, kacang-kacangan, jagung, ubi dan sebagainya yang mana digunakan untuk memenuhi asupan gizi bagi anak-anak panti maupun lansia.

Tidak sampai disitu sebagian lagi dijual dipasaran untuk kebutuhan sehari-hari baik itu beras, gula, sabun, kebutuhan MCK dan bahkan kebutuhan belajar bagi anak-anak.

Penanggung Jawab Panti Asuhan dan Panti Jompo Air Mata Mama, Lince Norotow menjelaskan, dampak Covid-19 pastinya sangat dirasakan apa lagi untuk panti asuhan yang mana hampir dalam menghidupi setiap penghuni panti rata-rata mengharap sumbangan sukarela dari para dermawan maupun pemerintah.

“Sejak wabah ini masuk ke Papua, kondisi kami memang cukup sulit, mau berharap bantuan dari pemerintah, atau masyarakat rasanya sulit karena semua dalam situasi yang sulit,” katanya.

 Setiap orang masing-masing berjuang untuk bertahan hidup, jika terus biarkan pastinya dampak akan semakin luas dan hidup akan semakin sulit, berdoa dan bekerja merupakan cara yang paling ampuh.

“Saya selalu mengajarkan kepada setiap anak-anak di panti bahwa takut Tuhan merupakan syarat utama, berkat yang kita peroleh merupakan anugerah yang Tuhan berikan, jangan andalkan manusi tetapi mari kita berjuang untuk kehidupan Tuhan pasti memberikan yang terbaik,” jelasnya lagi.

 Covid-19 tidak hanya memberi pengaruh negatif tetapi juga pengaruh positif, pasalnya dalam kondisi seperti ini rasanya saling mengharapkan sudah tidak mungkin dilakukan, melainkan harus berjuang masing-masing.

 Dengan kondisi tersebut, dirinya bersama para lansia membuka sebuah kebun yang dinamakan perkebunan sehat, yang tidak lain diperuntukan untuk memenuhi kebutah pangan di panti tersebut.

 Semua pihak mengetahui tugasnya masing-masing, setiap orang diajarkan untuk bisa bekerja, bisa bertanggung jawab untuk kehidupan yang mulai sukar, setiap jeri lelah pasti memiliki hasil yang lebih baik.

 “Semenjak dampak Covid-19, anak-anak panti juga mulai berkurang sebagian anak-anak di bawa pulang oleh orang tuanya masing-masing dan yang memilih bertahan rata-rata merupakan anak yatim piatu maupun anak dari keluarga kami sendiri,” tambahnya.

 Total anak panti selurunya sekitar 40 lebih, namun dengan kondisi seperti ini hanya tersisa 20an, yang terdiri dari balita hingga remaja, masing-masing saling membatu dan mengerjakan tugasnya masing-masing.

Ia mengakui bahwa, kondisi yang dialami mungkin tidak sebanding dengan mereka diluar sana, tetapi dirinya mengajak kepada setiap pengelola panti untuk tetap tekun dan berusaha guna melaksanakan tugas dan tanggung jawab mulia yang Tuhan berikan.

 “Tidak mudah untuk bertahan, tidak mudah juga untuk menyerah, semua tergantung keputusan kita masing-masing, akan tetapi tanggung jawab, kepedulian terhadap generasi penerus harus jadi prioritas utama,” tambahnya.

Dirinya juga berharap, pada situasi yang sulit seperti saat ini pemerintah dapat memberikan kepeduliannya untuk menambah semangat anak-anak panti, pengurus panti dan pastinya membantu megurangi beban sesama umat manuasia. (*/wen)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: