Beranda UTAMA PAPUA Kabupaten Puncak Kembali Kondusif

Kabupaten Puncak Kembali Kondusif

0
Bupati Puncak, Willem Wandik, SE., M.Si., menyambut masyarakat yang menyatakan kembali ke tempat tinggalnya, ditandai dengan mereka membawa bendera merah putih secara bersama-sama di Ilaga, Sabtu (5/10). (foto : Diskominfo Pumcak for Cepos)

*Willem Wandik: Kontak Senjata Tidak Akan Pernah Menyelesaikan Masalah 

ILAGA-Kondisi keamanan di Kabupaten Puncak, sudah normal kembali, pasca beberapa kali terjadi rentetan peristiwa penembakan di Kabupaten Puncak, sejak 28 September lalu.

Hal ini dibuktikan dengan makan bersama atau acara bakar batu yang merupakan acara khas masyarakat lokal setempat untuk sebuah prosesi  perdamaian ala masyarakat Pegunungan Tengah Papua yang diikuti masyarakat asli Puncak, warga nusantara, anggota TNI-Polri, kepala suku dan tokoh gereja di Ilaga, ibukota Kabupaten Puncak, Sabtu (5/10). 

Dari informasi yang diperoleh, kondisi di Kabupaten Puncak, tiga hari terakhir atau Kamis (3/10), berangsur-ansur  mulai kondusif. Aktivitas ekonomi mulai bergeliat dan Pasar Ilaga juga sudah buka kembali. Termasuk  kios-kios sudah buka. 

Bahkan aktivitas penerbangan di Bandara Aminggaru, Kabupaten Puncak, yang awalnya hanya satu dua pesawat yang mendarat, saat ini sudah normal kembali. 

Dalam sehari, bisa 5-10 pesawat yang mendarat di Ilaga, sejak Kamis (3/10) hingga Sabtu (5/10). Bahkan ojek-ojek juga sudah beraktivitas seperti biasa.

Kepala Suku Besar Ilaga, Hosea Wonda mewakili masyarakat asli Puncak, menjamin keamanan bagi masyarakat nusantara d Ilaga, untuk beraktivitas seperti biasa tanpa rasa takut. 

Bahkan dirinya meminta agar warga yang sudah terlanjut mengungsi keluar ilaga, agar segera balik ke Ilaga, untuk melaksanakan aktivitas seperti biasa.

“Masyarakat nusantara, PNS, guru dan lain-lain, saya minta agar kembali ke ilaga. Kami jamin keamanan bagi kalian. Kabupaten Puncak, rumah kita. Mari datang, kita bersama-sama membangun daerah ini,” pintanya.

Sementara itu, Bupati Puncak, Willem Wandik, SE., M.Si, pada acara makan bersama tersebut, menyampaikan beberapa hal. 

Diantaranya kedua belah pihak baik TPM-OPM dan TNI-Polri, berhenti untuk saling kontak senjata di Ilaga. Karena dampak dari kontak senjata, membuat masyarakat sipil trauma dan aktivitas pembangunan tidak berjalan dengan baik.

 “Baik dari TPM-OPM, melalui pimpinannya Lekagak Telenggen sudah menyatakan, tidak akan berperang lagi di Ilaga. Bahkan masyarakat di Distrik Ilaga Utara, tempat lokasi sejumlah rentetan peristiwa penembakan, ternyata dengan acara makan bersama ini, semua warga sudah menyatakan kembali ke tempat tinggalnya. Ditandai dengan mereka membawa bendera merah putih secara bersama-sama,” ucap Bupati Willem Wandik.

Dikatakan, acara makan bersama tersebut, membuktikan bahwa kondisi di Puncak, sudah kondusif. “Saya pastikan pemerintahan sudah normal dan kondusif, Senin (7/10). Saya akan pimpin apel, menunjukan Kabupaten Puncak, sudah kondusif seperti biasa. Masyarakat jangan takut dan mengungsi lagi. Kembali beraktivitas seperti biasa. Saya sebagai kepala daerah, siap menjami keamanan bagi kalian,” tegasnya. 

Dikatakan, rentetan kasus penembakan terhadap warga sipil di Kabupaten Puncak, merupakan akumulasi dari rentetan kasus penembakan dan penyisiran sebelumnya di kabupaten Puncak, yang dilakukan aparat keamanan terhadap warga asli  di Gome dan Kampung Olen. Sehingga TPM-OPM balik membalas yang mengakibatkan korban warga sipil. 

Selain itu, akumulasi dari kondisi keamanan Papua secara umum juga berdampak sampai ke Ilaga. Namun dengan kesiagapan anggota TNI-Polri, sehingga Kabupaten Puncak, sudah kondusif lagi sampai saat ini.

Dengan melihat sejumlah aksi kontak senjata, maka dirinya dengan tegas menolak adanya aksi kontak senjata lagi di Puncak, antara TNI-Polri dan TPM-OPM. Sebab kontak senjata tidak akan pernah menyelesaikan persoalan di Kabupaten Puncak. Justru dengan kontak senjata, malah membuat pembangunan menjadi lambat, karena tidak ada kedamaian di Kabupaten Puncak. 

“Kontak senjata kalau tetap terjadi, maka pemerintahan, pendidikan, ekonomi, pembangunan infratruktur jalan, akan lumpuh total. Pembangunan di satu daerah tidak akan berjalan dengan baik,” tuturnya.

“Untuk itu, saya berharap pemerintah pusat dalam menangani persoalan di Pegunungan Tengah Papua, jangan menggunakan cara-cara  kontak senjata atau pendekatan militer. Karena dengan cara milter, sudah tentu akan menimbulkan saling serang antara sipil bersenjata. Pengaruhnya ke masyarakat sipil dan pembangunan tidak berjalan dengan baik,” sambungnya. 

Willem Wandik justru mendorong pendekatan yang digunakan untuk membangun Papua, lebih khusus di Kabupaten Puncak adalah pendekatan hati dan dialog. Dengan demikian masyarakat Papua akan merasa bagian dari republik ini. Dimana mereka akan menerima negara ada di tengah mereka. “Ketimbang menggunakan pendekatan militer, justru akan membuat hati rakyat Papua menjadi sakit. Ini akan menjadi bom waktu, yang sewaktu-waktu akan meletus,” pungkasnya. (Humas/isak/nat) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here