Kalau Lebih dari Dua Menit Bikin Sketsanya, Itu Berarti Ngarang-Ngarang

By

Komunitas KamiSketsa di Galeri Nasional Indonesia, Menggambar Apa Saja demi Jaga Spirit Berkarya

Beberapa seniman sketsa setiap Kamis meriung di pojok kompleks Galeri Nasional Indonesia. Bagi mereka, bagian paling menyenangkan saat menggambar wajah adalah bisa mengenali karakteristik orangnya. 

TAUFIQURRAHMAN, Jakarta 

DARI kediamannya di Bekasi, Bambang Harsono menaiki kereta rel listrik (KRL) menuju Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Selama perjalanan, dia terus mengamati perilaku para penumpang. 

Dari mata turun ke tangan. Jari Bambang lalu menari-nari di atas kertas putih. Jadilah sebuah koleksi sketsa orang-orang yang naik KRL.

”Dengan nye-ketch kita bisa kill time. Di dalam bus, transportasi umum, kereta, dan sebagainya. Waktu yang lama jadi tidak terasa,” ujar Bambang kepada Jawa Pos.

Di pojok Galnas, demikian Galeri Nasional Indonesia biasa disebut, tempat Bambang menuju tiap Kamis, berkumpullah para seniman sketsa yang tergabung dalam komunitas bernama KamiSketsa. Biasanya mereka mulai meriung sekitar jam makan siang. 

Pihak Galnas menyediakan kertas dan peralatan gambar. Tapi, biasanya seniman yang sudah senior telah punya peralatan sendiri-sendiri. Peralatan gambar dari Galnas itu umumnya dimanfaatkan anggota komunitas yang lebih muda atau orang umum yang sekadar ingin coba-coba orat-oret di atas kertas putih.

Setiap sketcher punya gaya dan preferensi tersendiri. Bambang hobi menggambar kerumunan orang. Atau interaksi yang terjadi antarmanusia yang dia lihat. Saya dan fotografer Salman Toyibi saja diam-diam digambarnya saat melakukan wawancara. Tahu-tahu sudah jadi.

Kawan-kawannya menyebut gaya Bambang sebagai sketsa ilustratif. Garisnya tegas, tidak putus-putus. Tersambung terus seperti mi. Mi yang berhasil menangkap semaraknya interaksi antarmanusia. ”Itu teknik yang sulit ditiru,” kata Widiyanto Gunawan, salah seorang sketcher muda. 

Tidak ada tema khusus dalam reriungan rutin setiap Kamis itu. Bagi mereka, yang terpenting menjaga spirit bersketsa tetap hidup. 

Mereka biasanya hanya bercengkerama di sela-sela menggambar sketsa. Malahan lebih banyak mereka menggambar satu sama lain. Pada Kamis (11/8) pekan lalu, misalnya, Widiyanto Gunawan alias Wawan menggambar Bambang Semboto alias Totok, seniman senior yang duduk di sampingnya. 

Sadira Auliyan, mahasiswi ITB yang kebetulan hadir, menggambar Budiman, juga senior sketcher, yang duduk di hadapannya. Budiman pun melakukan hal yang sama, menggambar potret Sadira, gadis berhijab yang duduk di hadapannya.

Sementara Totok sendiri asyik menggambar fotografer Jawa Pos Salman Toyibi. Pertama, dia meminta Salman duduk diam menghadap lain arah, lalu memintanya berekspresi alami tanpa merasa sedang digambar. Dengan kecepatan menakjubkan, jari Totok menari di atas kanvas. Sret-sret-sret, wajah Salman pun selesai tergambar hanya dalam waktu 1 menit 15 detik. 

Totok sendiri terkenal sebagai sketcher tercepat di komunitas itu. Kurang dari lima detik, dia sudah bisa menciptakan outline wajah orang. Sekitar tiga detik, sebuah rumpun bambu tercipta. Dengan beberapa kali goresan, wajah harimau yang menyeringai tampak keseramannya.

Preferensinya tidak jauh berbeda dengan yang lain, menggambar wajah atau potret seseorang. Namun, kecepatannya dalam menciptakan gambar yang membuat banyak anggota komunitas geleng-geleng kepala. ”Biasanya memang kurang dari dua menit. Kalau sudah lebih, itu berarti saya ngarang-ngarang. Dibuat-buat, jadi tidak alami,” ungkap Totok.

Bagi pria yang tinggal di Kota Bogor tersebut, menggambar sketsa adalah proses alami yang melibatkan banyak kontemplasi dan perenungan. Meskipun dia mengaku jarang bisa serius. Gaya sketsa Totok yang khas adalah garis-garis yang tidak lengkap.

Totok menunjukkan kepada Jawa Pos bahwa untuk menciptakan gambar yang mampu memicu perasaan tertentu dari pemirsanya, tidak perlu garis yang utuh. Dia membuktikan dengan menggambar beberapa garis yang jadinya terlihat seperti perempuan bertubuh molek. 

Padahal, hanya badan bagian kiri yang diberi garis oleh Totok. Bahkan, wajah si perempuan cuma terdiri dari guratan mata hidung dan sedikit goresan mulut. Garis pipi dan dagunya pun tidak ada. ”Tapi, ketika saya tunjukkan ini kepada orang, banyak yang menuduh kok Pak Totok gambar pornografi ya?” ucapnya. 

Gambar serupa pernah dia tunjukkan kepada keponakannya yang masih SD. Sama saja, si bocah menuduh Totok menggambar sesuatu yang tak senonoh. ”Artinya, tanpa garis yang lengkap pun, kita sudah bisa menyampaikan sebuah pesan,” jelasnya.

Totok mempelajari sketsa secara otodidak. Ditanya apa rahasia menggambar cepat, dia menyebut tidak ada. Itu hanya proses alamiah. Berbasis kejujuran. Totok mengaku tidak bisa memproduksi gambar dalam kondisi tertekan, tergesa-gesa, ataupun diganggu suara-suara yang destruktif. ”Satu sketsa, berhenti dulu. Nggak bisa cepat-cepat, nanti capek,” terang Totok.

Bagian yang paling menyenangkan dari menggambar potret wajah, kata Totok, adalah mengenali karakteristik dan kedalaman jiwa si pemilik wajah. Lantas mengeluarkannya di atas kanvas. ”Wajah dia lebih mudah digambar,” katanya sambil menunjuk Salman. ”Tapi, punya Sampean lebih terlihat kedalamannya. Terutama matanya,” katanya kepada saya.

Totok paling tidak suka menggambar wajah yang tanpa karakter. Yang terlalu rapi dan klimis. Semua fitur wajah seperti rambut, kumis, dan jenggot membantu untuk membentuk wajah yang berkarakter. ”Paling tidak suka menggambar tentara atau aparat yang rambutnya cepak terus rapi gitu,” ujarnya. 

Selain potret dan wajah, sebenarnya masih banyak ragam gaya dan preferensi para anggota yang lain. Ada yang hobi menggambar arsitektur bangunan, misalnya, juga lanskap kota. 

Wawan sendiri berangkat dari pelukis cat air. Siang itu, selain menggambar sketsa Totok yang sedang duduk dan menggambar wajah wartawan dan fotografer Jawa Pos, dia menambahkan sedikit goresan cat air berwarna abu-abu untuk memberi shading agar sketsa Totok tampak lebih hidup.

Sekali-sekali para anggota komunitas itu mendatangkan para seniman sketsa terkenal untuk mengadakan workshop. Sekali-sekali juga mereka pergi ke luar. Ke gedung-gedung dan lanskap bersejarah di seantero Jakarta, lalu menggambar sketsa bersama-sama. Beberapa hasil tangkapan mata yang lalu turun ke tangan itu kemudian dipampang di ruangan khusus Galnas. (*/c9/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: