Kalau Pasar Besar Itu Dimatikan, Bakal Hancur Karya-Karya Anak Bangsa

By

Keasyikan Mencipta Permainan yang Sempat Terganggu Blokir Beberapa Platform Game 

Para game developer membutuhkan marketplace game seperti Steam untuk memasarkan karya atau berbelanja referensi. Kebijakan blokir dikhawatirkan bisa menciutkan kreativitas anak-anak muda untuk mencipta.  

LAILATUL FITRIANI, Surabaya 

BERMAIN game sudah menjadi makanan sehari-hari M. Barkah Rahmanu Mauludi. Baik itu permainan tradisional maupun digital. Dari sanalah minatnya menjadi game developer bertumbuh: saat merasakan asyiknya membuat sebuah permainan. 

”Pas SMA saya mulai membuat game sederhana bermodal kertas, pensil, dan penghapus dan join semacam organisasi IT (information technology) supaya bisa menciptakan game berbasis digital. Jadi, bukan saya saja yang merasakan kebahagiaan dari membuat game, tapi juga orang di sekitar yang memainkan game buatan saya,” tutur Ludi, sapaan akrabnya.

Merasa tak cukup, pemuda 23 tahun asal Surabaya itu pun belajar bahasa pemrograman/engine secara otodidak lewat YouTube. Beruntung, kedua orang tuanya mendukung penuh. Terlebih dia sudah membuktikan kemampuannya. 

”Di tahun pertama saya berkuliah itu saya mendapat klien pertama, seorang mahasiswa akhir yang membutuhkan game developer (pengembang/pencipta permainan) untuk mengembangkan aplikasi game pendidikan buat kebutuhan tugas akhirnya,” kenang alumnus Polteknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) yang kini menjadi game programmer Krenaga Studio itu.

Sebagai pencinta game sekaligus pekerja di industri game, Ludi termasuk yang kecewa saat kali pertama mendengar kabar diblokirnya layanan Steam dan beberapa platform game. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) melakukan pemblokiran terhadap penyelenggara sistem elektronik (PSE) yang tidak melakukan pendaftaran PSE sampai batas akhir pada Jumat (29/7). 

”Sebagai game developer, saya juga memerlukan referensi atau riset ya. Jadi, saya biasa membeli game-game yang ada di Steam, baik buatan anak bangsa maupun luar, seperti Left4 Dead, DOTA 2, CSGO, Garry’s Mod,” ujarnya.

Banyak game developer indie di Indonesia yang menggantungkan pemasukannya dari Steam. Mereka mencipta, kemudian mendistribusikannya ke salah satu distributor game terbesar itu. Pekerjaan Ludi sendiri tidak begitu merasakan imbasnya. Sebab, pendapatan terbesarnya datang dari project dan klien. 

”Ada juga yang mem-publish game secara gratis, tapi profitnya dari item-item dalam game yang mereka develop dan publish di Steam. Kalau Steam-nya diblokir, ya sama saja mematikan rezeki para game developer,” tambahnya. 

Rekannya sesama game developer, Favian Dimas Fernanda, turut mengutarakan kekecewaannya. Sekalipun Steam sebenarnya bukan target platform mereka. Namun, sebagai gamer, dia kerap melakukan transaksi lewat Steam. Mulai membeli game hingga item game online seperti DOTA. 

”Steam itu salah satu pasar paling besar bagi industri game lokal. Jika pasar ini dimatikan, bakal hancur game-game studio anak bangsa yang bergantung sepenuhnya pada pasar ini,” tutur freelance game artist tersebut. 

Tak hanya itu, lanjut dia, minat bermain game bisa jadi perlahan akan hilang. Buntutnya, dia khawatir dapat menghentikan generasi muda untuk berkarya membuat game yang berkualitas dan membanggakan. Padahal, industri game termasuk bisnis digital dengan prospek menguntungkan. Tidak hanya bagi si pembuat game, tetapi juga penggunanya. 

”Game itu kan bisa dijadikan bisnis iya, jadi hiburan juga iya. Apalagi, produk-produk yang dihasilkan ini dalam bentuk digital yang tidak akan pernah habis, bahkan versi-versi lamanya masih bisa digunakan,” imbuh Farhan Muhammad, mahasiswa akhir Jurusan Teknologi Game PENS sekaligus game developer Pateba Studio.

Melihat potensi itu, dia dan teman-temannya tengah merintis self-employed company di bidang teknologi game. Mereka menerima project dari klien. Jadi, pemblokiran beberapa marketplace game tidak akan begitu memengaruhi lahan mereka. 

Namun bagaimanapun, sebagai orang yang bergelut di industri game, dia turut kecewa dengan keputusan pemblokiran tersebut. ”Kalau berdasarkan teman-teman yang mem-publish game-nya di Steam tentu sangat berdampak karena itu jadi sumber utama pemasukan mereka. Apalagi yang hanya mem-publish di platform itu seperti The Forest, itu kan dia nggak mem-publish di ponsel atau Play Store,” ungkap Aan, sapaan akrabnya. 

Dia dan timnya pun biasa melakukan transaksi lewat Steam untuk investasi jangka panjang. Game-game yang dia beli bukan semata-mata untuk hiburan, tetapi untuk analisis target pasar yang baru. 

Pemblokiran Steam tidak hanya merugikan game developer, tetapi juga para streamers. Selama ini mereka bisa meraup hingga puluhan juta dari hasil streaming gaming. 

Tapi, kini para gamer dan pekerja industri game dapat kembali bernapas lega. Kemenkominfo memastikan layanan Steam, DOTA, dan CSGO telah dinormalisasi Selasa (2/8) pekan lalu. Akses platform tersebut sudah kembali dibuka dan dapat digunakan. 

”Sudah cukup lega sih, tapi semoga Kemenkominfo bisa lebih bijak lagi dan berpikir dari segala aspek jika ingin membuat sebuah kebijakan ke depannya,” kata Ludi. (*/c6/ttg/JPG)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: