Kantor Tergusur Bangunan Megah, Tetap Berupaya Beri Pelayanan Tansportasi Prima

By

Kepala Cabang Perum Damri Jayapura Roberthus Mansoben menunjukkan armada bus Damri di lokasi yang sempit, Kamis (3/11) ( FOTO: Elfira/Cepos)

Melihat Kondisi dan Pelayanan Perum Damri Cabang Jayapura Divre IV Papua 


Peruma Damri Jayapura, dengan segala keterbatasannya tetap berupaya memberikan pelayanan. Terutama transportasi di jalur/rute perintis yang tidak ada pengusaha swasta yang melayani. Lantas bagaimana kondisi dan pelayanan Damri Jayapura saat ini?

Laporan:Elfira_Jayapura 

Perum Damri Cabang Jayapura Divre IV Papua yang berlokasi tepat di belakang Pasar Mama mama Papua, Distrik Jayapura Utara, berdiri kumuh diapit bangunan megah. Pasar Mama Papua dan Gedung Keuangan.

  Bahkan, ruang yang ditempati para karyawan Perum Damri Cabang Jayapura Divre IV Papua saat ini merupakan bekas barak pekerja yang membangun Kantor Gedung Keuangan. Jika dilihat, ruangan berukuran 3×7 meter persegi,  bercat putih itu, memang tak layak untuk ditempati. Sedang di luar ruangan, bus Damri parkir berhimpit-himpitan di tanah yang becek.

  Kepala Cabang Perum Damri  Jayapura Roberthus Mansoben menyebut, kantor yang mereka tempati saat ini tidak layak. Baginya, Kantor Damri yang layak semestinya memiliki Pool Damri. Tempat dimana bus bisa parkir sekaligus terdapat bengkel.

  “Dengan tempat yang sempit, kami sudah tidak layak untuk bekerja. Namun, bagaimana kami berupaya bisa mensiasatinya,” kata Roberthus yang ditemui Cenderawasih Pos di ruang kerjanya, Kamis (3/11).

  Jika Pool Damri ada, maka bus bus Damri bisa terparkir dengan baik. Namun, semua itu tiada seiring adanya pembangunan Pasar Mama mama Papua. Kantor Damri peninggalan zaman Belanda digusur lalu dibangun pasar.

  “Sebagai anak Papua, saya bangga mama mama saya diberikan tempat berjualan (pasar-red). Tetapi yang saya kurang sependapat kenapa kantor Damri digusur lalu tidak dibangun kembali,” ujarnya Roberthus Mansoben.

  Terkait kondisi Kantor Damri saat ini, Roberthus mengaku sudah melakukan protes lisan dan tertulis. Bahkan, sudah sering menyampaikan tentang kondisi kantor Damri saat ini. Hingga pada Juni 2022 lalu, ia menyampaikan ketegasan direksi untuk bangun kembali kantor Damri yang representatif.

  Kantor tua peninggalan Belanda yang dibongkar Direksi Damri Jakarta semestinya dalam konteks menasionalisasikan Papua dalam sebuah pembangunan harus dibangun kembali.

“Kalau kami ini Damri yang baru lahir dalam sebuah pemekaran cabang, mungkin itu menjadi program, tetapi kami pernah punya kantor peninggalan Belanda yang ditukar dengan pembangunan pasar mama mama Papua yang punya nilai uang. Tapi kenapa tidak membangun kembali kantor Damri hingga saat ini,” ucapnya dengan nada kesal.

   Roberthus mengatakan jika Jakarta sudah menyampaikan akan membangun kembali Kantor Damri Jayapura, mengingat para karyawan Damri yang terkadang bekerja dengan genangan lumpur. Padahal, orang teknik harus menyediakan kelayakan operasinal bus. Tapi ketika hujan turun, mereka harus berlarian keluar dan ketika terik matahari seperti ikan yang dikeringkan.

  “Jakarta sudah berjanji akan melakukan pembangunan di tahun 2023 mendatang, namun pembangunan itu tidak semegah yang diharapkan. Sebab, kita sedang mengalami keuangan yang anjlok,” ungkapnya.

  Namun, sekalipun tidak memiliki bangunan yang layak saat ini, Roberthus menyebut jika Damri tetap berupaya memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Secara tanggung jawab, orang orang yang bekerja di Damri sudah terbiasa, memiliki jiwa rasa melayani masyarakat adalah sesuatu yang melekat.

  “Bahkan, ketika ada permintaan bantuan dari warga, para sopir Damri langsung ke lapangan suka rela memberikan bantuan tanpa menuntut apa apa. Mungkin Tuhan sudah mengirim  orang orang terpilih yang bekerja di Damri,” ucap Roberthus sambil berbincang dengan karyawan Damri di ruang kecil berukuran 3 meter kali 7 meter itu.

    Dengan  kondisi ruangan saat ini, pihaknya tetap melakukan pelayanan kepada masyarakat. Yang paling penting tidak mau Damri hilang, Roberthus yakin bahwa Damrilah yang sebenarnya paham tentang transportasi darat dalam pelayanan.

  Selain itu, untuk subsidi pemerintah meliputi trayek yakni Jayapura-Taja, Jayapura-Demta, Jayapura-Senggi, Jayapura-Skouw, Jayapura-Yeti. Rencana akan dikembangkan kedepannya mengikuti kampung kampung yang infrastrukturnya sudah terbangun dengan baik.

 “Setiap tahun ada pengusulan dan yang harus dilayani sesuai dengan perkembangan, pemerintah  sudah membangun jalan terus kita melayani mereka,” ucapnya.

  Untuk kendala, Roberthus menyampaikan kendala saat ini yakni antrean BBM menimbulkan biaya kerja, sering longsor di jalan, ketika banjir itu juga terhambat dan hambatan  lainnya ketika ada pembangunan jembatan.

  Ia berharap pejabat Papua alokasikan sedikit dana otsus buat Damri atau mengajak  pihak Damri bisa berkomunikasi, karena fakta di lapangan hingga kini Damri yang  melayani hingga di Pelosok.

  “Crew Damri bisa melayani di tengah kesulitan medan dan jauh dari keramaian kota, karena memang penanaman pemahaman sesuai visi dan missi Damri, tapi juga ada rasa beban atas dasar tugas yang diemban, yakni bekerja sebagai pegawai Damri yang tentunya bertugas sebagai pelayan angkutan orang dan barang di bidang transportasi darat,” tuturnya.

   Terjadi regenerasi, sehingga para junior yang hadir pun meneruskan tongkat estafet. Ini kelihatan seperti orang orang terpanggil yang punya jiwa pelayanan, karena terkadang bus rusak di hutan yang jauh dari kota akan menunggu teman-teman dari kota antarkan alat langsung kerja pada larut malam, hingga tuntas dan pulang saat malam yang sunyi.

  “Seringkali juga sambil masak air di pinggir jalan untuk bikin kopi bersama-sama perbaiki bus saat larut malam yang jauh dari kota,” ungkapnya.

  Ada pun jumlah armada Damri  yang beroperasi di lapangan sebanyak 9 hingga 10 unit yang melayani Jayapura-Sarmi, Jayapura-Keerom, dan daerah lainnya di Papua. (*/tri)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: