Kapolda: Sudah Berlebihan, Meresahkan dan Menakutkan

By

Penjelasan kronologi kasus pembunuhan terhadap almarhum Henry Jovinski oleh Dir Reskrimum Polda Papua Kombes Pol. Kolestra Siboro kepada Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw saat tinjau TKP di Jembatan Brasa Kecil, Yahukimo, Kamis (27/8). ( foto: Humas Polda)

Komnas HAM Kutuk Keras, Desak Negara Berikan Jaminan Rasa Aman

JAYAPURA- Pasca kematian tiga warga di Kabupaten Yahukimo dalam satu bulan ini, Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw dan Kasdam XVII/Cenderawasih Brigjen TNI Bambang Trisnohadi kunjungi Dekai, Kabupaten Yahukimo, Kamis (27/8)

Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw menyampaikan, gangguan Kamtibms yang terjadi di Kabupaten Yahukimo sudah berlebihan, meresahkan bahkan menakutkan masyarakat. Padahal, di Yahukimo ada kepolisian, TNI dimana tugasnya seharusnya membuat masyarakat bisa hidup tenang, disamping mendukung kebijakan Pemerintah.

“Negara kita ini adalah negara hukum, kita harus tangkap pelaku. Kenapa dia membantai, menganiaya orang lain. Apabila pelaku melawan kita tindak tegas. Kami serius bahwa kami akan mengungkap kasus ini,” tegas Kapolda.

Kapolda menegaskan tidak akan membiarkan mereka-mereka (Pelaku-red), preman ini membuat kacau di Yahukimo. Sebagaimana masyarakat, SDM di Kabupaten Yahukimo harus dibangun demi kebaikan Kabupaten Yahukimo.

Sementara itu, Kasdam XVII/Cenderawasih Brigjen TNI Bambang Trisnohadi menyampaikan kasus ini menjadi sorotan nasional bukan hanya di Papua saja sehingga itu, menjadi tanggung jawab semua

“Sudah ada beberapa kasus namun belum menemukan titik terang. Kita harus mendalami apa motif dari pelaku, apakah politik, Otsus atau lainnya,” jelasnya.

  Kasdam mengaku  sangat memahami perasaan was-was masyarakat apalagi belum mengetahui siapa pelakunya. Sehingga perlu adanya upaya-upaya yang reaktif, setiap informasi sekecil apa pun disampaikan kepada Kepolisian untuk kemudian diolah.

“Dampak kasus ini adalah Kabupaten Yahukimo sendiri, dimana pembangunan tidak berjalan dengan baik,” katanya.

Di tempat yang sama, Wakil Bupati Yahukimo Yulianus Heluka menyesalkan kejadian tersebut. Pasalnya, filosofi yang diajarkan oleh orang tua mereka  dengan baik. Dimana setiap orang baru yang masuk ke kampung itu adalah tamu, dan pihaknya bertanggung jawab terhadap keselamatan dari tamu itu.

“Kasus ini saya sangat tidak suka. Saya meminta kepada Kapolres dan Dandim untuk menangkap dan menindak tegas pelaku,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Suku Kimyal Nopius Yalak yang ditemui Kapolda menyampaikan, pihaknya selama ini telah berupaya membantu kasus ini. Sebagaimana para Kepala Suku terus berkoordinasi dengan Dandim dan Kapolres.

“Kami menyerahkan kasus ini kepada aparat keamanan. Ini bukanlah kemauan dari masyarakat, sehingga kami tidak akan menutupi kasus ini. Terdapat keresahan dari mama-mama, anak-anak atas penyisiran yang dilakukan oleh aparat keamanan.  Bahkan ada yang pergi ke hutan karena ketakutan,” ungkapnya.

  Adapun tiga kasus pembunuhan yang terjadi di Yahukimo dalam sebulan ini yakni, kasus pembunuhan terhadap Henry Jovinski Staf KPUD Yahukimo di Jembatan Brasa Kecil, Jl. Gunung pada 11 Agustus 2020. Kasus pembunuhan terhadap Muh. Thoyib di Jalan Bandara pada 20 Agustus 2020 dan kasus pembunuhan terhadap Jauzan di Jembatan Kali Buatan, Jl. Gunung pada 26 Agustus 2020. (fia)

  Komnas HAM meminta Polda Papua dan Polres Yahukimo untuk melakukan upaya cepat dan tepat. Segera menangkap para pelaku untuk kemudian dimintai pertangagung jawaban secara  hukum.

Selain itu, memastikan keamanan di Kabupaten Yahukimo. Pasalnya, dalam 1 bulan terakhir terjadi kekerasan secara beruntun. Maka aparat Negara perlu memastikan kondisi keamanan tetapi juga menangkap orang-orang yang diduga sebagai pelaku untuk dimintai pertanggung jawaban.

“Jaminan atas rasa aman itu harus dijamin oleh negara, sehingga semua orang bisa melakukan aktivitasnya seperti biasa,” tegas Melki.

  Seharusnya, lanjut Melki, manusia tidak mudah membunuh sesamanya. Sebagaimana dalam prespektif HAM, selain pertanggung jawaban, upaya untuk penghormatan perlindungan dilakukan atau dijamin oleh negara. Tetapi sebagai individu, sebagai personal manusia punya kewajiban utama untuk saling menghormati satu dengan yang lain.

“Saling menghormati satu dengan yang lain bukan hanya menjadi hukum negara, tetapi juga menjadi hukum Tuhan. Setiap agama manapun mengajarkan kebaikan untuk menghargai hidup satu dengan yang lain,” terangnya.

  Komnas HAM juga meminta aparat negara segera hadir di Yahukimo untuk memastikam kondisi yang aman  dan semua pemenuhan HAM berjalan. Sebab, jika kondisinya orang bebas menggunakan senjata dengan membunuh sana sini, maka ini bisa dikatakan kondisi yang tidak aman.

  Sehingga itu, penegakan hukum harus cepat dilakukan tepat dan terukur. Jika itu tidak dilakukan, maka ada kekosongan negara di sana (Yahukimo -red)  tidak ada kekuatan negara untuk memberi jaminan perlidungan bagi semua orang di Yahukimo.

“Kami minta kejadian di Kabupaten Yahukimo tidak terjadi lagi. Aparat negara harus memastikan kondisi di sana normal, situasi Kamtibmas dijamin. Sehingga orang bisa aman dan nyaman dalam beraktivitas. Jika kenyaman itu tidak ada, maka negara bisa dikatakan tidak melakukan apa-apa di Yahukimo,” tegasnya. (fia)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: