Kembali Gelisah, Kakek Mahmud Dirawat

By
SEJOLI SEPUH: Mahmud Sopamena dan istri, Kalsum Litiloli, di Bandara Madinah, Selasa (16/7).

*Jamaah Diimbau Bayar Dam Via Bank

MAKKAH-Kondisi Mahmud Sopamena, jamaah yang minta selalu lengket dengan istrinya, sampai saat ini belum stabil. Suami dari Kalsum Litiloli itu bahkan dirujuk ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah untuk menerima perawatan kemarin (18/7).

Mahmud dirujuk ke KKHI Madinah setelah kembali gelisah dan marah serta teriak-teriak karena ditinggal istrinya menjalankan ibadah di Masjid Nabawi. ’’Istrinya padahal sudah pamit mau ke masjid dan diizinkan. Tapi mungkin kakek Mahmud lupa,’’ kata Psikiatri KKHI Madinah dr Purwaningsih SpKJ.

Dia menuturkan Mahmud masuk ke KKHI karena bingung istrinya tidak ada di kamar. Kemudian kecemasannya itu sudah dinilai mengganggu lingkungan atau jamaah di kamar lainnya. Sehingga oleh petugas kesehatan dibawa ke KKHI Madinah.

Sebelumnya dia terjatuh dan mengalami luka di pelipis kirinya. Kemarin dia kembali terjatuh dan terluka di pelipis kanannya. Setelah Mak Cum, sapaan istri Mahmud, sampai di KKHI Madinah, dia mulai kembali tenang.

Menurut Purwaningsih kondisi yang dialami oleh Mahmud itu adalah bagian dari gejala pikun. ’’Atau dalam kami di kedokteran demensia,’’ tuturnya. Jadi memori-memori yang diingat oleh Mahmud adalah memori jangka panjang.

Sedangkan untuk memori jangka pendek atau memori segera mudah lupa. Contohnya sebelumnya Mak Cum sudah dipamit dan diizinkan oleh Mahmud beribadah ke Masjid Nabawi. Namun setelah ditinggal tidur dan bangun, dia kembali gelisah dan mencari istrinya.

Oleh tim kesehatan di KKHI Madinah, Mahmud diberikan obat untuk rawat jalan dan vitamin. Tujuannya diantaranya supaya lebih tenang dan bisa beristirahat selama di hotel. Selain itu juga untuk menjaga nafsu makan serta kondisi badan tetap fit.

Sementara itu Konsultan Ibadah Daker Makkah Ahmad Wazir memberikan penjelasan dam haji tamatu’. Jamaah haji yang menjalankan umrah wajib terlebih dahulu sebelum berhaji, dikenakan denda atau dam hajji tamatu’. Wakil Pengasuh Pesantren Mamba’ul Ma’rif itu mengatakan banyak skenario yang dalam pembayaran dam tersebut.

Pembayaran dam bisa dilakukan dengan membeli kambing di pasar hewan secara langsung dan melihat penyembelihannya. Kemudian bisa juga titip ke mukimin atau orang Indonesia yang tinggal di Saudi. Selain itu biasanya jamaah titip ke kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH). ’’Selain itu juga bisa melalui bank,’’ katanya. Dia menganjurkan melalui bank, karena jelas pendistribusiannya. 

Sementara di Tanah Air, hari ini (19/7) adalah hari terakhir pemberangkatan Calon Haji (Calhaj) gelombang 1 yang diterbangkan dari Indonesia ke Madinah. Mulai Minggu (20/7) akan dilakukan pemberangkatan Calhaj gelombang kedua yang akan menempuh perjalanan dari tanah air menuju bandara King Abdul Aziz Jeddah. 

Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh (PHU) Kemenag, Nizar Ali mengungkapkan, sesuai rencana gelombang 1 Calhaj diberangkatkan mulai 6 hingga 19 Juli 2019 menyusul gelombang kedua mulai 20 Juli hingga 5 Agustus 2019. “Closing itu 5 Agustus. Setelah itu akan dimanfaatkan untuk pemberangkatan haji khusus,” jelasnya. 

 Sementara proses pemulangan Calhaj akan dimulai pada tanggal 17 Agustus 2019 kemudian berangsur-angsur sampai pemulangan kloter akhir pada tanggal 16 September 2019. Diperkirakan jamaah haji akan bergerak meninggalkan hotel masing-masing menuju ke Padang Arafah pada tanggal 9 Agustus untuk melaksanakan wukuf pada tanggal 10 Agustus. “Berarti kira-kira hari raya Idul Adha nya tanggal 11 Agustus,” jelas Nizar. 

Hingga hari ke 13 pemberangkatan kemarin, Kemenag menyatakan sudah 80.198 jamaah yang telah diberangkatkan. Sisanya 77.447 sedang dalam proses. Sementara Jamaah yang meninggal dunia total 7 orang. Meliputi dari embarkasi Batam 2 orang, Solo 2 orang, Jakarta Bekasi 1 orang, Jakarta Pondok Gede 1 orang dan embarkasi Surabaya 1 orang. 

Nizar menjelaskan, saat ini fasilitas tenda wukuf di Arafah sudah lebih baik dari tahun sebelumnya. Semua tenda kini dilengkapi dengan air conditioner (ac) tidak lagi kipas angin seperti tahun lalu. Tenda di Arofah juga sudah dilengkapi dengan penomoran sehingga tidak lagi bisa ditempati oleh Calhaj lainnya. 

Selain itu, pengangkutan koper dan tas sudah dilakukan oleh layanan khusus yang disediakan pemerintah Arab Saudi. Inovasi lain yang diterapkan adalah sistem zonasi pemondokan Calhaj. Jamaah dari daerah yang sama akan dikumpulkan dalam satu zona untuk memudahkan pelayanan dan pelacakan ketika ada yang tersesat. “Selain itu, kita bisa menyajikan menu konsumsi dengan cita rasa daerah masing-masing,” jelas Nizar.(wan/tau/JPG)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: