Kondisi Perbatasan Memprihatinkan

By

Suzana Wanggai (foto: Grati/cepos)

JAYAPURA- Kepala Badan Pengelola Perbatasan dan Kerja Sama Provinsi Papua, Suzana Wanggai, menjelaskan kondisi perbatasan negara antara Indonesia dan Papua New Guinea yang memprihatinkan, khususnya dari aspek ekonomi.

 Bukan tanpa alasan, sebab, sejak awal pandemi Covid 19 pada awal 2020 lalu, hingga saat ini Pos Lintas Batas Negara (PLBN) antar kedua negara, baik Indonesia dan Papua New Guinea, masih ditutup demi menekan penyebaran Covid 19.

 Namun, Pemerintah Indonesia tetap membuka pintu perbatasan dalam rangka repatriasi Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang pulang ke Indonesia. Repatriasi telah beberapa kali dilakukan di PLBN Skouw berdasarkan aturan keimigrasian, dengan tentunya ketat prokes.

 “Pintu perbatasan kita ini 100 persen konsumennya adalah warga pelintas batas Papua New Guinea. Kalau PLBN kedua negara kita ditutup seperti ini, maka aktivitas ekonomi di perbatasan itu mati,” terang Suzana Wanggai, Senin (6/12) kemarin.

 Makanya, Pemprov Papua, Pemkot Jayapura, dan Pemerintah Indonesia berupaya agar PLBN Skouw maupun PLBN Sota Merauke dapat kembali dibuka untuk akses masyarakat pelintas batas kedua negara.

 “Yang sangat saya apresiasi adalah keputusan Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano, bersama Forkopimda Kota Jayapura untuk membuka kembali perbatasan RI – Papua New Guinea tiga kali dalam seminggu,” jelasnya.

 Keputusan ini akan dibawa Delegasi Indonesia dalam pertemuan yang dilakukan bersama Pemerintah Papua New Guinea untuk kemudian memutuskan apakah pintu perbatasan dapat kembali dibuka. (gr/wen)

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: