Konflik Bersenjata Tak Boleh Korbankan Anak-Anak di Papua

By

Tanggapan PUSPA dan Pekerja Sosial Mengenai Perlindungan Anak di Daerah Konfli

Konflik bersenjata yang terjadi di beberapa daerah di Papua membuat aktifitas masyarakat, khususnya anak-anak lumpuh total, salah satunya di bidang pendidikan. Hal ini membuat banyak sorotan dari berbagai pihak, khususnya dari PUSPA dan Pekerja Sosial (Peksos). Seperti apa tanggapan mereka?

Laporan: Roberthus Yewen

Konflik bersenjata yang terjadi di Papua akhir-akhir ini membuat banyak anak-anak yang mengalami korban. Bahkan, ada anak yang kehilangannya nyawanya dengan muncung senjata di Papua, khususnya di Sugapa, Kabupaten Intan Jaya beberapa waktu yang lalu.
 Tak hanya itu, anak-anak tidak bisa mendapatkan akses pendidikan yang baik tanpa gangguan keamanan. Anak-anak merasa trauma akibat bunyi tembakan yang didengarnya. Hal ini tentu perlu mendapatkan perhatian serius, agar anak-anak tidak menjadi korban dari konflik bersenjata yang terjadi di Papua.
 PUSPA Anggrek Papua ikut menyoroti konflik bersenjata yang terjadi di Papua, terutama yang mengorbankan anak-anak dan perempuan seperti yang terjadi di Kabupaten Intan Jaya, Pegunungan Bintang dan kabupaten lainnya di daerah pegunungan Papua.

 Ketua PUSPA Anggrek Papua, Eirene Waromi, S.Sos mengungkapkan bahwa perlu perhatian khusus terhadap warga masyarakat yang menjadi korban akibat konflik bersenjata yang terjadi di Papua, khususnya anak-anak dan para perempuan. Apalagi saat ini mereka mengungsi sebenarnya harus menjadi perhatian serius.

 “Konflik bersenjata ini memang memberikan dampak terhadap keberlangsungan dan kehidupan masyarakat di Papua, khususnya anak-anak menjadi trauma akibat konflik bersenjata yang terjadi,” ungkapnya.

 Oleh karena itu, konflik bersenjata yang mengorbankan anak-anak seharusnya tak boleh dibiarkan, tetapi harus diseriusi oleh semua pihak, sehingga kedepan tidak menimbulkan trouma bagi warga masyarakat, terutama anak-anak di Papua.

 “Anak-anak perlu mendapatkan perhatian, terutama mereka tidak menjadi korban apalagi jangan sampai mereka tidak bisa bersekolah dan mengikuti proses pembelajaran dengan aman dan nyaman tanpa gangguan apapun,” ucapnya.

  Sementara itu, Pekerja Sosial (Peksos) Papua, Amoye Pekei, S.Sos., M.Si menilai bahwa hak anak-anak perlu diperhatikan secara serius, sehingga mereka tidk menjadi korban kedepan. Apalagi sampai mereka tidak melanjutkan sekolah mereka.

 “Anak-anak tidak boleh menjadi korban akibat konflik bersenjata. Mereka harus diberikan perlindungan, sehingga bebas dari konflik tersebut. Mereka harus hidup bebas dan terhindar dari konflik bersenjata yang ada,” ujarnya.

 Peksos menilai perlu adanya trauma healing yang diberikan kepada anak-anak, terutama mereka yang tinggal di daerah-daerah konflik di Papua, sehingga mereka bisa kembali membentuk mentalitasnya dan siap untuk melanjutkan pendidikannya kedepannya.

 Amoye berharap, anak-anak bisa mendapatkan perhatian dengan baik, terutama proses belajar mengajar harus tetap berjalan seperti biasanya, tanpa mereka harus merasa tertekan dan lain sebagainya. (*/wen)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may also like

Hot News