Konsisten Akan Bicara HAM dan  Martabat Manusia 

By

Gelar Kongres Ke – 19 Gereja Baptis West  Papua

WAMENA – Gelar  Kongres ke – 19 Tahun 2022, Persekutuan Gereja – Gereja Baptis West Papua ,(PGB – WP) hadirkan pimpinan gereja  yakni Ketua Sinode GKI di Tanah Papua, Presiden GIDI, Ketua Sinode Kingmi,  mewakili Keuskupan Jayapura, Dewan Gereja Papua, para Muspida dan ribuan umat Tuhan jemaat gereja Baptis West Papua yang berlangsung di Gereja Baptis Bahtra Wamena Kabupaten Jayawijaya,  Jumat, (9/12).

  Ribuan umat Baptis  sebelumnya melakukan  Allah Ake atau persebahan kepada Tuhan guna mendukung  kegiatan  Kongres ke – 19 Tahun 2022 Persekutuan Gereja – Gereja Baptis West Papua. 

  Kegiatan yang digelar dalam menyambut pembukaan Kongres ke – 19 itu, mengambil tema “Kita Meminum Air dari Sumur Kita Sendiri,” Amsal (5: 15) dimana seluruh umat Tuhan dari  327 jemaat dan di 27 wilayah se Papua  dan Papua barat  hadir secara budaya adat Lanny dan tradisi gereja, dimana masing – masing gereja dari semua membawakan hasil bumi berupa sayur-mayur umbi-umbian, dana dan ternak mereka untuk disumbangkan kepada Tuhan yang diterima langsung oleh Ketua panitia Lince Kogoya bersama seluruh panitia dan pengurus wilayah Wamena.

  Ketua Panitia Kongres Lince Kogoya disela – sela kegiatan ini mengatakan, bahwa sumbangan persembahan dari setiap gereja ini telah diatur secara organisasi dan  acara  persembahan pada  tanggal 9 Desember  dilakukan sebelum masuk di acara pembukaan pada 10 Desember, maka umat baptis diajarkan bagaimana  memberi kepada Tuhan dari hasil bumi berupa, sayur – mayur, umbi – umbian, ternak Babi jemaat.

  “Sebelum masuk puncak acara pembukaan  ini perpuluhan untuk Tuhan, meski hanya sayur – sayuran satu ikat, umat Baptis memberikan dengan tulus untuk Tuhan meski dalam kekurangan dan ini diajarkan dari orang tua yang menerimah injil lebih dulu, dan ini sudah menjadi anggaran dasar dan rumah tangga dari seluruh gereja Baptis seluruh Papua, kami tetap menghargai apa yang telah ditabur oleh orang tua kita sejak tahun 1953 dengan mengikuti ajaran Tuhan untuk menabur,” katanya sambil menerima semua peserta yang masuk beriringan secara budaya membawah hasil bumi mereka.

   Sementara untuk Kongres itu sendiri, dilakukan untuk evaluasi program kerja pengurus sebelumnya dan  membicarakan program kerja baru untuk pengurus baru nantinya. ” Kami menyampaikan terima kasi kepada seluruh Jemaat, yang berkorban bagi Tuhan dan trimaksi kepada  Ketua Sinode GKI, Presiden  GIDI, Ketua Sinode Kingmi, Pater John Bunai Mewakili Keuskupan, Presiden Baptis West Papua yang hadir langsung,  dan  untuk kongres sendiri akan dihadiri 1500 orang dari 327 Wilayah Se Papua dan Papua Barat. Pesertanya sendiri terdiri dari utusan tiap gereja 5 orang dan dua orang peninjau. Sidang digelar dari tanggal 10 Desember hingga  15 Desember. Rencananya pada penutupan Kongres akan diadakan bakar batu bersamaan dengan Perayaan Natal.” Maka ini akan jadi pesta rohani bagi jemaat baptis di akhir Tahun ini,”katanya.

  Kegiatan yang  menghadirkan, Ketua Sinode GKI Pdt. Andrikus Mofu, M.Th, Peresiden GIDI, Dorman Wandikbo, Sinode Kingmi, Pendeta Tilas Mom M.Th, Perwakilim Uskup, Pastor John Bunai,  Intelektual Muda Papua Samuel Tabuni Pemerintah Provinsi, Pemerintah Lanny Jaya dan segemap muspida lainya berlangsung ibadah itu dengan sukacita dan penuh hikma.

Diundang sebagai pembawa firman Ketua Senode Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua  Pdt. Andrikus Mofu, M.Th dalam renunganya mengatakan bahwa, belajar dari Rasul Papulus terkenal sebagai pembunu umat Tuhan, dulunya sebagai Saulus namun dalam satu perjalanannya  di tangkap oleh Yesus dan Saulus berubah dan percaya kepada Yesus dan kepercayaan itu dibuktikan dengan mewartakan injil, karena filipi pasal 1: 21 Paulus mengatakan bahwa  bagi ku hidup adalah kristus dan mati adalah keuntungan. 

“Dalam Roma 1: 16 bagaimana “injil adalah kekuatan Alah  yang menyelamatkan bagi setiap orang yang percaya kepadaNya, Paulus berbicara soal keselamatan kekal dan injil menjami karena Injil kekuatan Allah yang menyelamatkan dan  dan memberikan perubahan,” katanya.

Ia mengatajan, pada 15 Februasi 1855 J Otto dan Gesler menginjakan kaki di Papua dan membaptis Tanah Papua dengan kata “dengan nama Tuhan kami Injak Tanah ini,” mastinya dengan nama Tuhan Tanah Papua telah di baptis maka kebenaran dan keselamatan,  cahaya hadir di Papua dari orang Papua yang dulunya gelap kini mendapat cahaya terang itu, maka injil membuat setiap umat tidak boleh takut dalam kuasa apapun dalam menyampaikan kebenaran.

  “Yang salah kita katakan salah, kebenaran jangan diputarbalikan dan merasa asing lagi, dengan kondisi di Papua kita berhadapan dengan manipulasi dan penipuan dan kita kadang sulit bedahkan kuasa Tuhan dan Iblis karena semuanya muka sama di Papua, orang kristen harus tau kita bedah dengan dunia dan kita harus berani katakan kebenaran dan jangan kita takut, karena hidup adalah kristus dan mati adalah keuntungan,” jelasnya.

   Ia juga menegaskan hari ini Konfrensi Gereja Baptis West Papua,  apa ini hanya sebatas seremonial saja, tapi ia percaya pada tahun berdiri gereka Baptis 1966 sampai dengan hari ini terus melakukan dan membawa misi Tuhan.

  “Saya sangat terkesima dengan temah Gereja baptis, “mari kita meminum air dari sumur kita sendiri,” maka sebagai orang percaya jangan kita bergantung kepada siapa pun tapi hanya kepada Tuhan, dalam keadaan apapun sodara – sodara harus tetap kokoh dan percaya, dan terus melayani karena kristus telah mati dan dosa kita telah di bayar secara lunas, maka visi dan misi Gereja Baptis sangat luar biasa, dengan mengaja ari kehidupan  menjamin agar seluruh umat baptis  menjaga Persekutuan dan tidak boleh ada siapapun merusak persatuan yang sudah dilandasi karena kristus, saya meyakini Kongres akan meletakan dasar yang kuat, walau pun papua mau di buat seperti apa papua injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan,” ujarnya.

  Karena itu Lajut Mofu yang baru terpilih untuk kedua kalinya sebagai ketua Sinode GKI itu menegaskan bahwa umat Baptis harus menjaga injil.

“Injil adalah pertahanan terakhir yang harus kita jaga di atas tanah dan negeri kita ini, Orang siapa saja datang ingin mengambil apa saja yang ada di Papua baik emas kejayaan alam yang ada di bawah tanah air udara silahkan, tetapi yang tidak boleh diambil di atas tanah kita adalah Injil,” jelasnya.

  Sementara itu, Mewakili Dewan Gereja Papua yang hadir Dorman Wandikbo mengatakan bahwa, dalam kongres Baptis ini perlu ada rekomendasi  untuk membahas situasi di gereja – gereja di Papua gereja pada umunya di Papua sudah ada sejak 167 tahun dan Baptis sekitar 58 Tahuna dan gereja ini sudah besar maka harus bicara soal kendala jemaat di Papua.

  “Situasi di gereja kita yaitu rakyat tidak bisa hidup dengan damai di tanah sendiri dengan ketenangan itu sulit, karena mereka masih mengungsi, di Pegibin, Nduga, Maibrat dan Puncak Jaya maka dalam kongres ini, harus bicara soal nasip pengungsi dan bicara juga soal pemekaran, karena pemekaran hari ini lebih jahat dari pada militer non organik karena strategi yang buat  karena militer selalu bicara HAM maka pemekaran ini  jadi karena orang lain akan kuasai dan bekerja ditanah kita maka gereja harus kuat karena injil adalah kekuatan Allah,” ujar Dorman yang juga selaku Presiden GIDI Papua itu.

  Sementara itu Asisten I Sekda Provinsi Papua Doren Wakerkwa mewakili Gubernur Papua Lukas Enembe ia  mengajak kepada seluruh umah Baptis untuk bangkit dan mandiri sejahtera dan berkeadilan, dengan temah pelayanan ” kita minum air dari sumur kita sendiri,” dengan berfokus pada lima bidang yaitu melakukan pelayanan, melakukan pendidikan, pelayanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi, bagi warga baptis dan memperjuangkan keadilan perdamaian dan HAM.

  “Dalam kongres evaluasi masa kerja pengurus lama 2017 – 2022  dan menetapkan program kerja baru, dan pemilihan pengurus baru 2022 – 2027 persekutuan Gereja Baptis west papua harus berada di garis terdepan untuk memainkan perananya, sebagai generasi pengubah sehingga jemaat dimenangkan bagi Kriatus, maka atas nama pemerintah Provinsi Papua saya menyampaikan apresiasi, trimaksi kepada Persekutuan Gereja – Gereka Baptis West Papua atas terselengaranya Kongres Ke – 19 dan saya  berharap kongres ini menghasilkan rumusan – rumusan yang bermanfaat memberikan rekomendasi penting untuk melajutkan pelayanan secara khusus bagi bangsa dan negara guna meningkatkan pelayanan Gereja Baptis West Papua,” katanya.

  Sementara itu, Presiden Gereja Baptis West Papua, Dr Socrates Sofian Yoman yang masih menjabat mengatakan bahwa sebagai pemimpin umat yang memimpin 27 Wilayah baptis dan 327 Jemaat dan dua gereja otonom ia mengatakan, Baptis berdiri dengan berpatokan pada Alkitab sebagai pedoman dengan dasar Alkitab umat Baptis membangun otonomi kemandirian dan independensi.

“Gereja Baptis dalam sejarah tidak bisa diatur oleh negara di dalam AD ART, dan itu jelas tidak ada falsafah Pancasila yang ada adalah dasar kitab suci karena gereja Baptis didirikan oleh Tuhan bukan manusia di atas batu karang yang Teguh,” katanya.

  Dalam situasi  papua hari ini lanjut Yoman bahwa gereja Baptis Berdiri dalam komitmen, Bagaimana melaksanakan menerapkan mengimplementasikan isi firman Allah itu sendiri dan bagaimana  Pesan Tuhan menggembalakan umat Tuhan dengan menggembalakan domba dombaKu.

  “Dalam panggilan itu kami ada, untuk itu kerja Baptis hadir untuk merubah paradigma gereja-gereja Tuhan yang sudah ada selama 160an tahun hidup dalam kekakuhan dan Kepalsuan juga kelumpuhan karena Gereia sudah berusaha mengadopsi pandangan-pandangan negara tentu saja, Seperti di atas mimbar atau acara gereja selalu mengatakan bahwa pemerintah itu wakil Allah tapi dalam konteks Papua hari ini keberadaan pemerintah tidak bisa disebut sebagai wakil Allah karena watak dan karakter yang ditunjukkan adalah wakil iblis di mana kita lihat di depan gereja itu banyak stigma – stigma yang diberikan kepada umat Tuhan di tanah Papua separatis, maker OPM KKB dan yang paling paling kejam adalah yang disampaikan menkopolhukam teroris ini disampaikan di depan rumah Tuhan, mereka bicara kedamaian keamanan tetapi yang ada malah umat Tuhan di pantai seperti hewan, dan di dimimika  manusia di mutilasi dan jemaat mengungsi baru gereja ada dimana, dan gereja juga takut,” katanya.

  Selan itu kata dia,  untuk resolusi iman itu tetap terkait hak penentuan nasip sendiri,  dan siapapun naik jadi Presiden akan tetap kawal itu, karena prinsip gereja Baptis tetap jaga umat Tuhan dan kehidupan jemaat  dan jaga keputusan kongres, dimanan kongres akan banyak di keluarkan resolusi sesuai kondisi  Papua dan terkait penentuan nasib sendiri dan ini sinkron dengan Dewan Gereja, Konfrensi Gereja – Gereja Pasifik dan keputusan dewa Gereja – gereja dunia

“Kami tidak sendiri tetapi di dukung oleh gereja – gereka dunia, maka kami secara konsiten akan bicara soal Martabat dan Hak – hak Manusia,” katanya, (oel).

Tinggalkan Balasan

You may also like

Hot News

%d blogger menyukai ini: